
Singapura secara konsisten memimpin dalam kemampuan matematika global, dengan nilai rata-rata 575 pada Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2022, jauh melampaui rata-rata Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) sebesar 472 poin. Hasil PISA 2022, yang dirilis pada akhir tahun lalu, menggarisbawahi dominasi ekonomi Asia Timur dalam bidang ini, sementara Indonesia berada pada peringkat ke-70 dari 81 negara peserta, dengan skor 366, menyoroti tantangan berkelanjutan dalam sistem pendidikannya.
Penilaian PISA, yang dilakukan setiap tiga tahun oleh OECD, mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan matematika, membaca, dan sains untuk memecahkan masalah di dunia nyata. Pada edisi 2022, matematika menjadi fokus utama, dengan penilaian adaptif multi-tahap yang inovatif. Negara-negara dengan kinerja terbaik di matematika selain Singapura termasuk Makau (552), Taiwan (547), Hong Kong (540), Jepang (536), dan Korea Selatan (527). Negara-negara Eropa seperti Estonia (510) dan Swiss (508) juga menunjukkan kinerja yang kuat di atas rata-rata OECD. Konsistensi negara-negara Asia Timur di puncak peringkat dikaitkan dengan program pendidikan matematika yang ketat dan ekspektasi akademik yang tinggi.
Di sisi lain, Indonesia terus bergulat dengan rendahnya literasi numerik. Dengan skor 366, Indonesia jauh di bawah rata-rata OECD 472 dan berada di antara negara-negara dengan skor terendah. Meskipun ada sedikit peningkatan peringkat (5 posisi untuk matematika) dibandingkan PISA 2018, skor absolut Indonesia dalam matematika justru menurun dari 379 pada 2018 menjadi 366 pada 2022. Penurunan ini terjadi di tengah tren global di mana kinerja matematika secara umum menurun pasca pandemi COVID-19, dengan rata-rata OECD turun 15 poin antara 2018 dan 2022. Namun, beberapa negara seperti Jepang berhasil melawan tren ini dengan peningkatan skor matematika.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya skor di Indonesia mencakup model pembelajaran dan item penilaian yang kurang berfokus pada keterampilan numerik, serta faktor internal siswa seperti kepercayaan diri dan pengetahuan awal. Sebuah studi menunjukkan bahwa masalah matematika dalam buku teks di Indonesia masih kurang mendorong keterampilan penalaran dan pemecahan masalah siswa. Selain itu, kualitas guru yang belum memenuhi syarat dan disparitas dalam kualitas guru antar wilayah juga berkontribusi pada rendahnya kualitas pendidikan matematika dan sains.
Menyikapi hasil PISA 2022, Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah mengarahkan jajarannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah, khususnya untuk kelas 1-4 sekolah dasar, dan mempertimbangkan pengenalan matematika sejak taman kanak-kanak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan bahwa pemerintah akan menyiapkan program pelatihan guru matematika dan menciptakan kurikulum yang membuat matematika menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan mudah diajarkan. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi stigma yang menganggap matematika sebagai subjek yang sulit, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi dalam masyarakat Indonesia, menyebabkan banyak siswa mengembangkan kecemasan dan resistensi terhadap mata pelajaran tersebut.
Implikasi jangka panjang dari kemampuan matematika yang rendah sangat signifikan. Keterampilan matematika adalah fondasi penting bagi ekonomi modern, mendukung inovasi, produktivitas, dan daya saing jangka panjang. Negara-negara dengan hasil matematika yang lebih kuat seringkali memiliki keunggulan seiring dengan semakin sentralnya teknologi dan pekerjaan berbasis data. Sebaliknya, rendahnya literasi numerik dapat menghambat perkembangan sumber daya manusia yang berkualitas, yang krusial untuk mengelola dan mengolah sumber daya alam serta mendorong kemajuan teknologi. Peningkatan kualitas pendidikan matematika bukan hanya tentang skor ujian, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi muda untuk tantangan dunia nyata dan kesuksesan di masa depan dalam ekonomi global yang semakin kompleks.