Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengungkap Rahasia Konsistensi Ibadah Muslim Melalui Hikmah Isra Miraj

2026-01-13 | 23:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T16:32:29Z
Ruang Iklan

Mengungkap Rahasia Konsistensi Ibadah Muslim Melalui Hikmah Isra Miraj

Perjalanan spiritual Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yang pada tahun 1447 Hijriah ini jatuh pada 16 Januari 2026, bukan sekadar kisah sejarah, melainkan fondasi kokoh bagi konsistensi ibadah umat Islam, khususnya dalam menunaikan shalat lima waktu. Peristiwa monumental ini, di mana perintah shalat diterima langsung dari Allah SWT di Sidratul Muntaha, menegaskan esensi ibadah sebagai tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Pencipta. Namun, di tengah gempuran modernisasi dan tantangan kontemporer, konsistensi ibadah umat Islam global, termasuk di Indonesia, menghadapi ujian signifikan.

Survei Indonesia Moslem Report 2019 oleh Avara Research menunjukkan hanya 38,9% umat Islam di Indonesia yang rutin menunaikan shalat lima waktu. Angka ini mencakup 2% yang selalu shalat berjamaah, 7,7% sering berjamaah, 29,2% kadang-kadang berjamaah, sementara 33,8% sering shalat lima waktu, dan 26,8% kadang-kadang. Mayoritas, atau sekitar 61,1%, masih menunjukkan inkonsistensi. Pegiat sosial Azzam Mujahid Izzulhaq menyoroti bahwa generasi muda seperti Gen Z dan milenial cenderung lebih sering lalai dalam shalat dibandingkan generasi yang lebih tua, menimbulkan tantangan besar dalam dakwah saat ini.

Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor Universitas Darussalam Gontor, mengamati bahwa banyak masyarakat muslim menjadikan shalat sebagai formalitas yang tidak mengubah tingkah laku keseharian mereka. Kondisi ini mengindikasikan adanya apatisme terhadap kegiatan ibadah dan kekosongan spiritual di balik ritual semata. Tantangan menjaga iman di era modern meliputi sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, globalisasi yang membawa nilai-nilai bertentangan, serta individualisme yang mengabaikan kepentingan sosial dan agama.

Isra Miraj secara intrinsik mengajarkan spiritualitas sebagai pondasi kehidupan modern. Perjalanan agung ini menunjukkan bahwa shalat tidak hanya berfungsi sebagai ritual, tetapi juga melatih kedisiplinan dan pengelolaan waktu, menjadi ruang refleksi untuk menenangkan pikiran, mengendalikan emosi, serta memperbaiki niat. Ustaz Hamdi Mahdi, Ketua Fatwa MUI TOUNa, menekankan bahwa di era globalisasi, Isra Miraj mengingatkan umat untuk selalu istiqamah dalam beribadah dan menjaga keimanan, serta mengoptimalkan teknologi untuk mendalami ajaran Islam tanpa melupakan nilai spiritual.

Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi (2024) dalam skripsinya "Hikmah Kisah Isra' Mi'raj" menjelaskan bahwa disiplin shalat lima waktu berfungsi sebagai pondasi keteguhan tauhid yang mentransformasi perilaku individu menjadi lebih teratur dan berintegritas. Nilai kedisiplinan ini harus ditarik ke masa kini sebagai alat navigasi moral, menjadikan shalat sarana kontrol diri dan manajemen waktu yang efektif bagi seorang Muslim untuk tetap istiqamah di tengah tantangan zaman modern. Konsistensi dalam beribadah, seperti shalat lima waktu tepat waktu, puasa sunnah, atau amalan harian lainnya, membantu membentuk kebiasaan positif dan menumbuhkan kedisiplinan spiritual. Selain itu, keikhlasan dalam menjalankan rukun Islam ini akan membuahkan karakter yang kuat dan pribadi yang rendah hati.

Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menyoroti keringanan shalat dari 50 menjadi 5 waktu sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT, menekankan pentingnya shalat di awal waktu sebagai wujud ketaatan. Memahami makna dan hikmah di balik Isra Miraj menjadi langkah penting agar peringatannya tidak berhenti sebagai seremonial tahunan, melainkan tercermin dalam sikap dan perilaku umat Islam. Tantangan untuk meningkatkan persentase umat Islam yang rutin shalat lima waktu, yang diusulkan oleh Azzam Mujahid Izzulhaq untuk mencapai minimal 50% pada 2025, memerlukan kolaborasi antara berbagai kelompok Islam untuk membuat strategi dakwah yang terarah dan kolaboratif.

Implikasi jangka panjang dari pemaknaan ulang Isra Miraj dalam konteks konsistensi ibadah adalah pembentukan masyarakat yang lebih berintegritas dan memiliki ketahanan mental. Keimanan yang kuat, yang ditegaskan melalui Isra Miraj, menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tekanan hidup, seperti stres, kecemasan, dan pengaruh negatif lingkungan. Nilai-nilai seperti sabar, tawakal, syukur, dan doa yang diperkuat melalui ibadah yang konsisten dapat memberikan ketenangan batin mendalam. Dengan meneladani keteguhan Nabi Muhammad SAW, umat Islam diajak membangun ketahanan mental, tetap optimis, dan menjadikan ibadah sebagai motivasi utama dalam kehidupan sehari-hari.