Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

8 Mitos Ruang Angkasa Terbongkar: Ini Fakta Ilmiahnya

2025-12-01 | 05:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-30T22:43:45Z
Ruang Iklan

8 Mitos Ruang Angkasa Terbongkar: Ini Fakta Ilmiahnya

Ruang angkasa, dengan segala misteri dan keindahannya, seringkali menjadi subjek berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Banyak dari kepercayaan umum ini, meskipun menarik, tidak akurat secara ilmiah. Para ilmuwan dan astronaut telah berulang kali membantah klaim-klaim ini dengan fakta berbasis penelitian dan pengalaman langsung. Berikut adalah delapan mitos ruang angkasa yang telah terbantahkan:

Pertama, anggapan bahwa tidak ada gravitasi di ruang angkasa adalah keliru. Astronaut melayang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bukan karena tidak ada gravitasi, melainkan karena mereka berada dalam kondisi jatuh bebas berkelanjutan (microgravity). Gravitasi Bumi masih ada di sana, bahkan di ketinggian orbit ISS, yaitu sekitar 90% dari gravitasi di permukaan Bumi. Objek dan astronaut di ISS terus-menerus ditarik ke Bumi tetapi bergerak dengan kecepatan horizontal yang sangat tinggi sehingga mereka terus-menerus "jatuh mengelilingi" planet alih-alih menabraknya.

Kedua, keyakinan bahwa Matahari berwarna kuning juga tidak tepat. Sebenarnya, Matahari berwarna putih. Penampakan kuning atau oranye yang kita lihat dari Bumi disebabkan oleh efek hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, yang menyebarkan panjang gelombang cahaya biru dan ungu lebih efisien daripada warna lainnya. Jika dilihat dari luar angkasa, seperti dari ISS atau Bulan, Matahari akan tampak sebagai bintang putih cemerlang.

Ketiga, mitos populer yang menyatakan bahwa Tembok Besar Tiongkok dapat terlihat dari luar angkasa dengan mata telanjang adalah tidak benar. Astronaut, termasuk Yang Liwei, astronaut pertama Tiongkok di luar angkasa, telah mengonfirmasi bahwa struktur ini tidak terlihat jelas dari orbit rendah Bumi, apalagi dari Bulan, tanpa bantuan pembesaran. Dinding tersebut terlalu sempit dan warnanya menyatu dengan medan di sekitarnya sehingga sulit dibedakan. Meskipun beberapa astronaut dengan kondisi tertentu dan alat bantu visual mungkin pernah melihatnya, itu bukanlah pemandangan yang mudah diidentifikasi.

Keempat, banyak orang percaya bahwa lubang hitam "menyedot" segala sesuatu di sekitarnya seperti penyedot debu kosmik. Namun, lubang hitam tidak "menyedot" materi dengan cara tersebut. Tarikan gravitasi mereka bekerja seperti objek masif lainnya, hanya saja jauh lebih kuat karena massa yang terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil. Sebuah objek harus mendekat hingga jarak tertentu, yang dikenal sebagai cakrawala peristiwa, agar tidak dapat melarikan diri dari tarikan gravitasinya.

Kelima, gagasan bahwa kita bisa mendengar suara di ruang angkasa juga merupakan mitos. Ruang angkasa adalah vakum yang hampir sempurna, dan gelombang suara memerlukan medium (seperti udara atau air) untuk merambat. Oleh karena itu, di luar pesawat ruang angkasa, suara tidak dapat merambat, sehingga ledakan dan suara lainnya di film-film fiksi ilmiah tidak realistis. Namun, ada pengecualian yang menarik; fisikawan telah berhasil menunjukkan transmisi gelombang suara melalui vakum menggunakan bahan piezoelektrik dalam celah yang sangat kecil, dan gelombang tekanan frekuensi sangat rendah dapat ada di kluster galaksi, meskipun tidak dapat didengar oleh manusia.

Keenam, anggapan bahwa Bulan memiliki "sisi gelap" yang selalu gelap juga tidak akurat. Bulan terikat pasang surut dengan Bumi, yang berarti satu sisinya selalu menghadap Bumi. Namun, kedua sisi Bulan mengalami siang dan malam. Sisi "jauh" Bulan, yang tidak pernah kita lihat dari Bumi, tetap diterangi oleh Matahari selama separuh waktu rotasi Bulan.

Ketujuh, banyak yang membayangkan meteorit mendarat di Bumi dalam keadaan sangat panas setelah melewati atmosfer. Kenyataannya, meskipun permukaan luar meteorit memanas secara ekstrem karena tekanan ram saat memasuki atmosfer, bagian dalamnya tetap sangat dingin, mempertahankan suhu ruang angkasa yang hampir nol mutlak. Lapisan terluar yang meleleh dan menyala itu cepat mendingin, dan banyak meteorit bahkan ditemukan tertutup embun beku saat mencapai tanah.

Kedelapan, Bumi bukanlah bola sempurna. Bentuk Bumi sebenarnya adalah oblate spheroid, yang berarti ia sedikit menggembung di bagian khatulistiwa dan merata di kutub. Perbedaan diameter ini sekitar 43 km lebih lebar di khatulistiwa daripada di kutub, yang disebabkan oleh rotasi planet. Selain itu, fitur geologis seperti gunung dan palung laut juga berkontribusi pada ketidaksempurnaan bentuk Bumi.