
Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah akan tetap berlanjut selama masa libur semester ganjil Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Skema pengambilan bantuan gizi ini dirancang fleksibel, memungkinkan siswa atau wali murid untuk mengambil langsung di sekolah atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdekat, serta opsi pengantaran langsung ke rumah untuk memastikan kontinuitas asupan nutrisi.
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa kebutuhan gizi anak tidak mengenal kata libur, sehingga keberlanjutan program ini sangat krusial. "Pemerintah menyadari bahwa kebutuhan gizi anak tidak mengenal kata 'libur'. Metabolisme tubuh anak dan kebutuhan akan protein, karbohidrat, serta vitamin terus berjalan 365 hari dalam setahun," ujar Dadan. Untuk siswa, BGN menyiapkan beberapa opsi, termasuk pengambilan di sekolah atau SPPG, serta opsi pengantaran ke rumah. "Jika siswa bersedia datang ke sekolah dibagikan ke sekolah, jika tidak perlu mulai didata mekanisme delivery ke rumah-rumah atau diambil di SPPG," kata Dadan kepada CNNIndonesia.com pada Senin (22/12). Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menambahkan bahwa pengambilan tidak bersifat wajib, dan orang tua atau saudara diperbolehkan untuk mengambil jatah MBG anak mereka.
Program Makan Bergizi Gratis, yang secara resmi diluncurkan pemerintah pada 6 Januari 2025 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, bertujuan fundamental untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi sejak dini. Dengan target menyasar 82,9 juta penerima manfaat, termasuk siswa PAUD hingga SMA/SMK serta ibu hamil dan menyusui, program ini menjadi intervensi strategis dalam menekan angka stunting dan malnutrisi. Anggaran sebesar Rp71 triliun telah dialokasikan dalam RAPBN 2025, dengan realisasi penyerapan mencapai Rp52,9 triliun atau 74,6% hingga Desember 2025, menjangkau sekitar 50,7 juta penerima manfaat.
Secara historis, masalah gizi telah menjadi tantangan signifikan di Indonesia. Data pada tahun 2023 menunjukkan sekitar 8 dari 100 orang Indonesia mengalami ketidakcukupan konsumsi pangan. Program MBG diharapkan menjadi solusi komprehensif yang tidak hanya memastikan asupan gizi, tetapi juga mendorong ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM sebagai penyedia bahan pangan. Model distribusi selama libur sekolah juga diadaptasi; pada awal libur, siswa dapat menerima menu siap santap yang tahan hingga empat hari, seperti telur, buah, susu, abon, atau dendeng. Untuk periode selanjutnya, paket kombinasi berupa satu menu siap santap dan dua paket kemasan tahan lama berisi roti, telur, susu, dan buah akan disalurkan, dengan frekuensi maksimal dua kali seminggu.
Meskipun mendapat dukungan, implementasi MBG tidak lepas dari kritik dan tantangan. Sejak Januari 2025, tercatat lebih dari 10.000 kasus dugaan keracunan makanan terkait program ini di seluruh Indonesia, dengan insiden terbesar menimpa 1.333 pelajar di Bandung Barat pada September 2025. Hal ini memicu kekhawatiran publik mengenai standar kualitas dan keamanan pangan. Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa pedoman tata kelola penyelenggaraan MBG selama libur sekolah telah ditetapkan melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025, yang mencakup pengawasan ketat. BGN juga sedang merancang sistem pengantaran ke rumah setelah periode awal empat hari makanan siap santap untuk mengakomodasi orang tua yang kesulitan mengambil langsung ke sekolah.
Implikasi jangka panjang dari program ini diharapkan dapat menekan angka putus sekolah dengan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung melalui kesehatan optimal, serta membekali siswa dengan pemahaman gizi seimbang dan perilaku hidup sehat sejak dini. Keberlanjutan dan adaptasi mekanisme distribusi, termasuk opsi pengantaran ke rumah, menjadi kunci dalam memastikan program ini mencapai targetnya secara efektif dan inklusif, terutama bagi kelompok rentan yang sangat bergantung pada bantuan gizi ini.