Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Solusi Islam: 5 Langkah Jitu Atasi Silaturahmi yang Renggang

2026-01-23 | 10:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T03:20:43Z
Ruang Iklan

Solusi Islam: 5 Langkah Jitu Atasi Silaturahmi yang Renggang

Merespons kerenggangan hubungan antarsesama muslim, khususnya dalam konteks kekeluargaan dan persaudaraan, Islam menawarkan panduan praksis untuk rekonsiliasi yang berakar pada nilai-nilai spiritual dan sosial. Tren modernisasi dan individualisme di tengah masyarakat global seringkali menempatkan silaturahmi, yang dalam bahasa Arab berarti menyambungkan kasih sayang (shilah dan rahim), pada posisi rentan, meskipun dalil Al-Qur'an dan Hadis secara konsisten menekankan urgensinya sebagai ibadah yang membawa keberkahan dunia dan akhirat. Memutus silaturahmi bahkan dikategorikan sebagai dosa besar yang dapat menghalangi seseorang masuk surga.

Dalam menghadapi tantangan ini, para ulama dan cendekiawan Muslim mengidentifikasi lima langkah fundamental untuk memperbaiki silaturahmi yang renggang, yang bukan sekadar respons emosional, melainkan sebuah ikhtiar terencana berdasarkan ajaran agama. Pendekatan ini relevan di tengah masyarakat Muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana ikatan kekeluargaan masih memegang peranan penting dalam struktur sosial.

1. Memulai dengan Niat Ikhlas karena Allah SWT.
Langkah awal yang mutlak adalah memurnikan niat, melepaskan ego dan motivasi duniawi seperti keinginan untuk dibalas atau keuntungan pribadi. Rasulullah SAW menegaskan bahwa amal perbuatan dinilai dari niatnya. Niat tulus untuk mencari ridha Allah dalam menyambung kembali tali persaudaraan akan melunakkan hati, baik bagi pihak yang memulai maupun yang diajak berdamai, menciptakan fondasi kokoh untuk rekonsiliasi sejati. Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah menekankan, "Memutuskan silaturahmi adalah dosa besar. Jika hubungan sudah renggang, mulailah dari diri sendiri. Ini adalah ujian keimanan dan kekuatan akhlak."

2. Mengucapkan Salam dan Memulai Komunikasi.
Islam sangat menganjurkan untuk menjadi pihak pertama yang menyapa, bahkan ketika merasa tidak bersalah. Hadis riwayat Bukhari menyebutkan, "Tidaklah orang yang mengadakan silaturahmi itu orang yang membalas, tetapi ia adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya." Inisiatif untuk mengirim pesan, menelepon, atau bahkan berkunjung dapat memecah kebekuan. Menyebarkan salam, memberi makan, dan menyambung tali persaudaraan merupakan amalan yang mengantar ke surga. Ini menunjukkan bahwa tindakan proaktif dalam komunikasi adalah kunci. Dalam konteks modern, pemanfaatan teknologi untuk berkomunikasi menjadi relevan, meskipun pertemuan fisik tetap diutamakan.

3. Memaafkan dan Meminta Maaf.
Prinsip pemaafan adalah inti ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran:134 yang menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai mereka yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Proses ini seringkali sulit karena ego, namun kesediaan untuk meminta maaf atau memberi maaf, bahkan melupakan kesalahan, adalah tanda kemuliaan akhlak. Al-Ghazali, seorang ulama terkemuka, sering membahas pentingnya perdamaian dan upaya rekonsiliasi, menekankan sikap saling memaafkan sebagai bagian menjaga hubungan yang baik.

4. Memberikan Hadiah dan Berbagi Kebahagiaan.
Memberi hadiah adalah salah satu cara yang efektif untuk melunakkan hati dan menumbuhkan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, "Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." Tindakan ini tidak harus mahal, melainkan menunjukkan perhatian dan upaya untuk menjalin kembali hubungan. Mengadakan kumpul keluarga rutin, misalnya, juga merupakan bentuk berbagi kebahagiaan yang mempererat silaturahmi.

5. Memanjatkan Doa yang Tulus.
Dalam setiap ikhtiar, kekuatan doa tidak bisa diabaikan. Berdoa kepada Allah SWT agar melunakkan hati yang berselisih dan membuka jalan rekonsiliasi adalah praktik spiritual yang mendalam. Doa yang tulus dapat menjadi awal perubahan sikap dan membuka jalan rekonsiliasi tanpa harus selalu dimulai dengan pertemuan langsung. Ini adalah pengakuan akan keterbatasan manusia dan penyerahan diri pada kehendak Ilahi, yang merupakan inti dari ketaatan seorang Muslim.

Penekanan Islam pada silaturahmi bukan sekadar ritual, melainkan sebuah pilar penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan penuh berkah. Ayat Al-Qur'an Surah An-Nisa:1 dengan jelas mengaitkan takwa kepada Allah dengan pemeliharaan hubungan silaturahmi. Dampak jangka panjang dari menjaga silaturahmi meliputi dilapangkannya rezeki, dipanjangkannya umur, dan dijanjikannya surga. Sebaliknya, memutus silaturahmi akan mendatangkan laknat dan balasan buruk. Dengan demikian, upaya praksis untuk memperbaiki hubungan yang renggang merupakan investasi spiritual dan sosial yang krusial bagi keutuhan individu, keluarga, dan umat secara keseluruhan.