
Jutaan siswa di seluruh Indonesia akan kembali memulai kegiatan belajar mengajar pada awal Januari 2026, menandai dimulainya semester genap tahun ajaran 2025/2026, dengan jadwal masuk sekolah yang bervariasi antarprovinsi. Mayoritas daerah menetapkan Senin, 5 Januari 2026, sebagai hari pertama masuk sekolah, sementara beberapa provinsi lain memilih tanggal yang berbeda, menciptakan dinamika tersendiri bagi perencanaan pendidikan nasional dan keluarga.
Berdasarkan kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan masing-masing provinsi, Hari Pertama Sekolah (HPS) untuk semester genap tahun ajaran 2025/2026 di Jakarta ditetapkan pada Senin, 5 Januari 2026, setelah libur semester ganjil yang berlangsung hingga 3 Januari 2026. Jadwal serupa juga berlaku di banyak provinsi lain, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Tengah (untuk sekolah lima hari), Bali, Nusa Tenggara Timur, seluruh provinsi Kalimantan, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan. Penyesuaian jadwal ini mengacu pada Kalender Pendidikan Jakarta 2025/2026 yang tertuang dalam Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Jakarta Nomor 89 Tahun 2025.
Namun, beberapa provinsi memiliki jadwal yang sedikit berbeda. Peserta didik di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur, misalnya, akan kembali ke sekolah lebih awal pada Jumat, 2 Januari 2026. Hal yang sama berlaku untuk Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Barat. Sementara itu, siswa di Jawa Barat akan memulai semester genap pada Senin, 12 Januari 2026, setelah masa libur yang lebih panjang hingga 10 Januari 2026. Di Sulawesi Utara dan Papua Pegunungan, hari pertama masuk sekolah ditetapkan pada Rabu, 7 Januari 2026. Perbedaan jadwal ini menegaskan otonomi daerah dalam menyusun kalender pendidikan, sebuah praktik yang diatur oleh pemerintah daerah (pemda) berdasarkan pedoman dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Fleksibilitas dalam penetapan kalender pendidikan bertujuan untuk mengakomodasi karakteristik dan kebutuhan lokal, termasuk hari raya keagamaan atau kegiatan khusus daerah. Sistem ini memungkinkan setiap Dinas Pendidikan provinsi untuk mengadaptasi kerangka nasional ke dalam konteks wilayahnya. Namun, hal ini juga menuntut orang tua dan peserta didik untuk secara aktif memantau pengumuman resmi dari sekolah masing-masing guna memastikan tidak terjadi kesalahan jadwal, terutama bagi mereka yang merencanakan perjalanan keluarga atau kegiatan pasca-liburan.
Implikasi dari variasi jadwal ini melampaui sekadar tanggal masuk. Bagi peserta didik, transisi dari suasana liburan ke rutinitas belajar seringkali membutuhkan adaptasi. Periode persiapan kembali ke sekolah menjadi krusial untuk memastikan kesiapan mental dan akademis. Sekolah dan guru memiliki tugas untuk mempersiapkan lingkungan belajar yang kondusif, termasuk meninjau kembali materi semester sebelumnya dan merancang strategi pembelajaran yang efektif untuk mengejar ketertinggalan, terutama pasca-pandemi. Bagi siswa tingkat akhir, semester genap 2025/2026 akan menjadi fase krusial menjelang ujian kelulusan, menuntut fokus dan persiapan yang lebih intensif.
Di sisi lain, bagi orang tua, penetapan jadwal ini memiliki dampak pada perencanaan logistik dan finansial. Persiapan kebutuhan sekolah seperti alat tulis, seragam, dan buku seringkali berbarengan dengan pemulihan ekonomi rumah tangga pasca-liburan akhir tahun. Sinkronisasi jadwal libur nasional seperti Tahun Baru Masehi pada 1 Januari 2026 dan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW pada 16 Januari 2026 juga menjadi pertimbangan penting dalam menyusun rencana keluarga.
Ke depan, koordinasi yang lebih erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam penetapan kalender pendidikan dapat meminimalkan kebingungan dan memastikan pemerataan akses terhadap informasi. Meskipun otonomi daerah penting, penyampaian informasi yang jelas dan terstandarisasi akan sangat membantu seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan untuk beradaptasi dan mendukung proses belajar mengajar secara optimal.