Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rekor 27 Harimau Sumatera Leuser Terekam Kamera Jebak

2025-12-07 | 21:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-07T14:47:17Z
Ruang Iklan

Rekor 27 Harimau Sumatera Leuser Terekam Kamera Jebak

Sejumlah 27 individu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berhasil teridentifikasi melalui rekaman kamera jebak di Ekosistem Leuser, Aceh. Temuan ini menandai populasi harimau yang kuat dan sehat, menjadikannya salah satu yang terbaik di Pulau Sumatra. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal "Frontiers in Conservation Science" ini dipimpin oleh Dr. Joe Figel, seorang ahli biologi konservasi yang bekerja sama dengan lembaga satwa liar dan kehutanan Indonesia serta organisasi Hutan Harimau.

Studi komprehensif ini dilakukan melalui tiga periode pemantauan menggunakan kamera jebak inframerah, dimulai dari Maret 2023 hingga November 2024. Selama sesi tersebut, kamera-kamera berhasil menangkap 282 citra harimau yang cukup jelas untuk memungkinkan identifikasi individu. Dari jumlah tersebut, teridentifikasi 14 harimau betina, 12 harimau jantan, dan satu harimau yang jenis kelaminnya tidak dapat dipastikan. Kepadatan harimau betina yang tinggi dalam penelitian ini mengindikasikan sistem sosial harimau yang sehat dan habitat berkualitas tinggi yang mendukung tingkat kelahiran anak harimau yang lebih tinggi.

Lokasi penelitian difokuskan pada hutan yang dilindungi secara provinsi oleh pemerintah Aceh, di luar Taman Nasional Gunung Leuser. Menariknya, temuan ini mencatat jumlah citra harimau yang hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan survei 90 hari sebelumnya di lokasi lain di Sumatra. Bahkan, tiga kelompok anak harimau yang berbeda juga berhasil terekam selama periode enam bulan di tahun 2023, dan dua anak harimau jantan yang terlihat saat masih kecil kemudian muncul secara terpisah sebagai dewasa.

Dr. Figel menekankan bahwa Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau yang penting karena mempertahankan petak-petak hutan dataran rendah dan perbukitan yang signifikan, di mana kepadatan mangsa harimau mencapai tingkat tertinggi di Sumatra. Selain itu, wilayah ini juga lebih intensif dipatroli oleh penjaga hutan dibandingkan hampir semua tempat lain di pulau tersebut. Keberadaan habitat dan populasi mangsa yang berkelanjutan menjadi alasan utama di balik temuan positif ini.

Meskipun demikian, tantangan konservasi masih besar. Hutan yang dilindungi secara provinsi seringkali menerima lebih sedikit sumber daya dibandingkan taman nasional yang dikelola pusat. Ancaman terhadap Ekosistem Leuser secara keseluruhan termasuk perusakan habitat, perburuan, penurunan populasi mangsa, pembalakan liar, penambangan, dan perambahan pertanian. Oleh karena itu, para ahli konservasi menyerukan perlunya upaya perlindungan yang lebih kuat dan berkelanjutan, termasuk meningkatkan jumlah patroli penjaga hutan dan upaya pemantauan, untuk memastikan kelangsungan hidup harimau sumatera yang terancam punah ini.