
Riset terbaru mengungkapkan bahwa pesisir pantai di seluruh dunia menghadapi ancaman penyusutan yang signifikan, dengan aktivitas manusia menjadi salah satu pendorong utamanya. Para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar separuh dari pantai berpasir global bisa menghilang pada akhir abad ini jika tren perubahan iklim dan eksploitasi manusia terus berlanjut. Analisis data satelit selama 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa sekitar 24% pantai berpasir di dunia mengalami erosi dengan kecepatan lebih dari 0,5 meter per tahun.
Penelitian mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap penyusutan pantai. Salah satu yang paling merusak adalah penambangan pasir. Aktivitas ini secara langsung menyebabkan erosi pantai, merusak ekosistem pesisir, menghilangkan habitat ikan, memicu intrusi air laut ke daratan, dan mengurangi ketersediaan air tanah. Penambangan pasir ilegal, seperti yang ditemukan di Pulau Kangean, juga menyebabkan abrasi pantai dan kerusakan ekosistem laut dangkal, berdampak pada penurunan tangkapan ikan bagi nelayan. Kerusakan serupa juga terjadi di Morotai Selatan, di mana penambangan pasir pantai berdampak buruk pada lingkungan fisik dan lahan pertanian masyarakat.
Pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir juga berperan besar dalam memperburuk erosi. Pembangunan seperti dermaga, jetty, pemecah gelombang, hingga reklamasi pantai dapat mengganggu pola sedimen alami dan merusak ekosistem vital seperti hutan bakau dan terumbu karang. Contoh kasus di Tuban bagian barat menunjukkan bahwa pembangunan pelabuhan khusus mempengaruhi kondisi pesisir dan pola sebaran sedimen. Studi lain mengungkapkan bahwa proyek jalan pesisir yang mangkrak telah menghancurkan hutan bakau, yang sebelumnya berfungsi sebagai benteng alami dari abrasi.
Deforestasi hutan bakau dan vegetasi pantai lainnya juga mempercepat laju abrasi. Mangrove dikenal sebagai pelindung alami pantai dari erosi dan tsunami; hilangnya ekosistem ini secara signifikan mengurangi ketahanan pesisir. Selain itu, konsumsi air tanah yang masif dan tidak terkendali di daerah pesisir dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah, membuat wilayah tersebut lebih rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan banjir rob.
Di sisi lain, perubahan iklim global menjadi faktor pemercepat erosi pantai yang tak kalah serius. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyoroti bagaimana aktivitas manusia menyebabkan pemanasan global, yang berdampak pada kenaikan muka air laut (sea-level rise/SLR). Pemanasan global mencairkan lapisan es di kutub dan menyebabkan pemuaian termal air laut, menambah volume air laut secara keseluruhan. BMKG memprakirakan kenaikan tinggi permukaan laut di Indonesia antara 0,8 hingga 1,2 cm per tahunnya.
Kenaikan muka air laut ini secara langsung menyebabkan abrasi, banjir rob, dan pergeseran garis pantai, mengancam keberadaan pulau-pulau kecil dan daerah dataran rendah. Peningkatan frekuensi dan intensitas badai akibat perubahan iklim juga memperburuk erosi melalui gelombang laut yang lebih dahsyat. Kondisi ini juga menyebabkan kenaikan suhu air laut yang memicu pemutihan terumbu karang, merusak ekosistem yang seharusnya melindungi pantai.
Secara spesifik di Indonesia, yang memiliki garis pantai lebih dari 95.000 kilometer dan 60% penduduknya tinggal di wilayah pesisir, dampak ini sangat terasa. Garis pantai Bali, misalnya, dilaporkan menyusut 6,05 kilometer antara tahun 2016 hingga 2021, dengan rata-rata 1,21 meter per tahun, menjadikannya salah satu garis pantai yang paling cepat menghilang di dunia. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menunjukkan bahwa 100 lokasi di 17 provinsi telah mengalami kehilangan garis pantai, dengan ribuan hektare per tahun diperkirakan hilang. Wilayah pesisir utara Jawa, seperti Pekalongan, Semarang, dan Surabaya, sangat rentan terhadap penurunan muka tanah ekstrem yang diperparah oleh konsumsi air tanah yang masif, dengan proyeksi sebagian wilayah akan tergenang permanen pada tahun 2050.
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan upaya mitigasi dan adaptasi yang komprehensif. Pengelolaan pesisir yang terpadu, perencanaan tata ruang yang bijaksana, dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci. Solusi berbasis alam, seperti penanaman dan restorasi hutan bakau, serta restorasi terumbu karang, terbukti efektif dalam memperkuat ketahanan pesisir dan menyerap karbon. Konsep "infrastruktur biru" yang menggabungkan solusi berbasis alam dengan pembangunan infrastruktur berkelanjutan juga digagas untuk menjaga ekosistem dan ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dan pencegahan deforestasi menjadi langkah krusial untuk memperlambat laju pemanasan global dan kenaikan muka air laut. Penegakan hukum yang lebih ketat terhadap penambangan pasir ilegal dan pengaturan penggunaan air tanah juga sangat dibutuhkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.