
Universitas Negeri Padang (UNP) melaporkan 278 mahasiswanya menjadi korban bencana banjir dan banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pekan lalu, dengan satu mahasiswa meninggal dunia. Total 349 sivitas akademika UNP terdampak bencana hidrometeorologi tersebut, termasuk 36 dosen dan 35 tenaga kependidikan.
Mahasiswa yang meninggal dunia diidentifikasi sebagai Angger Raja Prakarsa dari Program Studi Teknik Otomotif, Fakultas Teknik. Angger menjadi korban longsor dan banjir bandang di kawasan Jembatan Kembar, Padang Panjang. Ia dilaporkan hilang setelah terseret arus deras banjir yang melanda area jalan penghubung Padang Panjang dengan Kota Padang pada puncak kejadian, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar UNP. Rektor UNP, Krismadinata, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Angger, menyebutnya sebagai syahid karena wafat dalam keadaan menempuh studi.
Bencana banjir dan banjir bandang di Sumatera Barat terjadi sejak Kamis, 27 November 2025. Pihak universitas telah merampungkan pendataan internal terkait sivitas akademika yang terdampak, mulai dari korban jiwa, kehilangan tempat tinggal, hingga rumah yang tertimbun lumpur. Data tersebut dihimpun melalui formulir pelaporan kondisi darurat yang dibuka UNP sejak pascabencana melanda.
Berdasarkan wilayah domisili, Kota Padang menjadi daerah dengan jumlah sivitas UNP terdampak tertinggi, mencapai 286 orang. Menyusul kemudian Kabupaten Agam dengan 16 orang, Padang Pariaman sebanyak 18 orang, serta daerah lain seperti Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Pariaman, Solok, dan Tanah Datar. UNP juga mencatat terdapat dua laporan tanpa keterangan lokasi domisili yang masih dalam proses verifikasi.
Banyak mahasiswa dilaporkan harus mengungsi, kehilangan harta benda, hingga menghadapi kesulitan akses kebutuhan dasar. Sejumlah dosen dan tenaga kependidikan juga mengalami kerusakan rumah tinggal dan tengah menjalani proses pemulihan. Kepala Kantor Humas, Protokoler, dan Promosi UNP, Hijriyantomi Suyuthie, menegaskan bahwa kehilangan ini bukan sekadar statistik, melainkan kehilangan seorang anggota keluarga besar UNP.
Dalam menghadapi dampak bencana ini, UNP telah menggalang solidaritas melalui program "UNP Peduli". Program ini mencakup penyaluran logistik, pemetaan titik terdampak, serta pendampingan bagi mahasiswa dan sivitas akademika yang membutuhkan dukungan lanjutan. Pihak kampus juga mengajak sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam gerakan kepedulian ini guna membantu meringankan beban para penyintas.
Bencana banjir bandang yang terjadi di Sumatera Barat di penghujung November 2025 ini secara umum disebabkan oleh hujan deras dengan intensitas tinggi dan diduga diperparah oleh kerusakan ekosistem di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS).