Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pemerintah Buka Kelas Khusus SMA-SMK: Cetak Pekerja Migran Unggul untuk Pasar Global

2025-11-19 | 09:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-19T02:31:44Z
Ruang Iklan

Pemerintah Buka Kelas Khusus SMA-SMK: Cetak Pekerja Migran Unggul untuk Pasar Global

Pemerintah Indonesia secara serius mulai mengimplementasikan program "SMK Go Global" dengan membuka kelas migran di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai persiapan komprehensif bagi para pelajar yang berminat bekerja di luar negeri. Program ini menargetkan pengiriman 500.000 lulusan SMA dan SMK, serta masyarakat umum, untuk bekerja di luar negeri pada tahun 2026.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, menjelaskan bahwa kelas migran ini akan dirancang dengan kurikulum yang mengadopsi kebutuhan industri global dan kompetensi bahasa yang menjadi syarat utama negara tujuan. Sebagai contoh, siswa SMK jurusan las yang berencana bekerja di Jepang akan langsung mempelajari bahasa Jepang tingkat N4 sejak kelas satu, yang merupakan prasyarat kompetensi kerja di sana. Kurikulum ini akan diadopsi secara langsung tanpa menggunakan kurikulum lain. Mukhtarudin, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) sekaligus Kepala BP2MI, menambahkan bahwa peluang kerja di luar negeri masih sangat luas, dengan sekitar 80 persen kebutuhan tenaga kerja belum terpenuhi oleh pasokan dari Indonesia.

Program "SMK Go Global" dijadwalkan akan dimulai (kick-off) pada Desember 2025. Sebanyak 500 calon pekerja migran telah siap diberangkatkan pada pertengahan Desember ini setelah melalui pelatihan. Cak Imin menyatakan bahwa pemerintah akan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 15-25 triliun untuk program ini pada tahun 2026. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mensubsidi kebutuhan dokumen, paspor, dan pelatihan bahasa bagi para peserta.

Sektor-sektor yang diprioritaskan dalam program ini disesuaikan dengan kebutuhan industri asing yang dominan, antara lain juru las (welder), perhotelan (hospitality), perawat (caregiver), serta konstruksi. Negara-negara tujuan favorit bagi calon pekerja migran meliputi Jepang, Korea Selatan, Jerman, Hong Kong, Taiwan, dan Turki.

Provinsi Lampung menjadi salah satu wilayah perintis atau pilot project nasional untuk Program Kelas Migran Vokasi di SMA/SMK. Hingga saat ini, 93 SMA dan SMK di Lampung telah menjalankan program ini, melibatkan 2.658 siswa. Lebih dari 5.000 siswa lainnya diperkirakan akan mulai mengikuti pembelajaran pada bulan ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menyampaikan bahwa 37 pengajar bahasa Jepang sudah tersedia di sekolah-sekolah tersebut, dan akan ditambah 51 pengajar eksternal untuk mengatasi kekurangan. Sebagai bagian dari program ini, siswa kelas 12 di SMKN 4 Bandarlampung, misalnya, mendapatkan penyesuaian jadwal Praktik Kerja Lapangan (PKL) agar dapat fokus belajar bahasa Jepang penuh pada hari Jumat hingga Sabtu.

Program ini tidak hanya terbuka untuk lulusan SMA/SMK, tetapi juga masyarakat umum, tanpa batasan usia. Menteri Mukhtarudin meyakini bahwa program ini dapat menekan angka pengangguran lulusan SMA/SMK yang saat ini mencapai sekitar 1,63 juta orang, sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga pekerja. Pemerintah juga berencana membangun skema kerja sama dengan berbagai perusahaan di luar negeri untuk menghasilkan pendapatan negara dari penempatan pekerja migran.