
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia hingga tiga hari ke depan, terhitung mulai 21 hingga 23 Januari 2026. Intensitas hujan yang bervariasi dari sedang, lebat, hingga sangat lebat, disertai angin kencang, diprediksi akan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah krusial di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Ancaman cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi kompleks fenomena atmosfer, termasuk Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia, penguatan Monsun Asia, serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer seperti Rossby Equator dan Kelvin. Bibit Siklon Tropis 97S, dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara 1001 hPa, bergerak ke arah barat dan memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, meningkatkan pembentukan awan hujan. Monsun Asia yang menguat hingga 23 Januari 2026, disertai seruakan dingin (cold surge) signifikan dari daratan Asia, turut meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan masif di wilayah selatan khatulistiwa. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer, didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, pada Selasa (20/1), menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan. "Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana," ujarnya. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa labilitas atmosfer yang kuat ini mendukung proses konvektif skala lokal. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari 2026, dengan curah hujan di sejumlah wilayah berpotensi melampaui 500 milimeter per bulan.
Beberapa wilayah yang perlu mewaspadai hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang pada 21-23 Januari 2026 meliputi Bali, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara spesifik, pada 21 Januari, hujan lebat hingga sangat lebat diprediksi terjadi di Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. Sementara angin kencang berpotensi melanda Banten dan Jawa Barat. Pada 22 Januari, potensi hujan lebat hingga sangat lebat meluas ke Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Angin kencang juga masih berpotensi di Bali, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Memasuki 23 Januari, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT diprediksi masih mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, dengan angin kencang berpotensi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Kondisi cuaca ekstrem ini membawa implikasi serius. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang mengancam keselamatan publik serta sektor ekonomi. Sektor pertanian, industri, infrastruktur, dan pariwisata menjadi yang paling rentan terhadap kerusakan. Gangguan pada jalur transportasi, putusnya akses jalan, terendamnya kawasan industri, serta terganggunya distribusi pangan dan energi dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Di tingkat rumah tangga, bencana dapat mengakibatkan hilangnya sumber pendapatan sementara dan peningkatan biaya perbaikan hunian.
Secara historis, Indonesia secara rutin menghadapi ancaman cuaca ekstrem, dengan Januari kerap menjadi puncak risiko bencana akibat dominasi Monsun Asia yang membawa uap air dalam jumlah besar dan anomali suhu laut yang hangat, kadang diperparah oleh fenomena seperti La Niña. Untuk mitigasi, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan kesiapan sumber daya. Selain itu, pengurangan risiko bencana perlu berbasis pemetaan bahaya dan tingkat risikonya, termasuk penyiapan ruang terbuka dan fasilitas jalur evakuasi yang memadai dan disosialisasikan kepada masyarakat. Edukasi literasi cuaca juga menjadi krusial di tengah maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks terkait cuaca ekstrem.