Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bencana Menggerus Pendidikan: Sekolah Terhambat, Nilai Matematika Anjlok

2025-12-07 | 21:21 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-07T14:21:27Z
Ruang Iklan

Bencana Menggerus Pendidikan: Sekolah Terhambat, Nilai Matematika Anjlok

Bencana alam secara konsisten menghadirkan efek domino yang merugikan bagi sektor pendidikan, mulai dari terhambatnya kegiatan belajar mengajar hingga penurunan drastis pada prestasi akademik siswa, khususnya dalam mata pelajaran matematika. Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, kerap menghadapi tantangan ini.

Penelitian menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menyebabkan gangguan teknis pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga berdampak pada progres akademik dan kesehatan mental pelajar. Sebuah studi berjudul "Understanding the impacts of floods on learning quality, school facilities, and educational recovery in Indonesia" oleh Jonatan Lassa dkk. pada April 2022, misalnya, memaparkan bagaimana banjir dan siklon dapat memangkas kesempatan penerapan agenda sekolah dalam hitungan jam hingga hari. Dampak ini mencakup gangguan total kegiatan belajar, kehadiran di sekolah, dan prestasi akademik siswa.

Data dari berbagai daerah di Indonesia menguatkan temuan ini. Di Nagan Raya, Aceh, banjir bandang baru-baru ini menyebabkan kerugian sarana pendidikan mencapai Rp13,6 miliar, dengan tiga sekolah (SDN 1 Beutong Ateuh, SDN 2 Beutong Ateuh, dan SMPN Beutong Ateuh Banggalang) mengalami kerusakan parah dan menghambat proses belajar mengajar. Bahkan, kerugian total Disdik Nagan Raya akibat banjir bandang dilaporkan mencapai lebih dari Rp43 miliar, merusak 23 gedung sekolah tingkat SD dan SMP. Demikian pula di Sumatera Barat, banjir genangan ekstrem pada akhir November menyebabkan kerugian sekitar Rp5 miliar pada tiga SMAN di Padang Pariaman dan Kota Padang, yang mana kegiatan belajar mengajar belum dapat dilaksanakan karena sekolah masih dalam tahap pembersihan material lumpur. Krisis pendidikan terburuk juga melanda Agam, dengan 102 sekolah hancur dan kerugian ditaksir Rp11,466 miliar, memaksa banyak murid belum memiliki tempat belajar.

Dampak jangka panjang bencana juga terbukti memengaruhi hasil tes akademik. Penelitian "The effect of consecutive disasters on educational outcomes" oleh Eileen Segarra-Alméstica dkk. yang mengambil sampel dari badai Maria dan gempa bumi di Puerto Rico, menunjukkan dampak emosional, perilaku, dan akademis yang kuat pada anak-anak. Studi ini juga mencatat penurunan partisipasi mendaftar sekolah menengah pada laki-laki di antara keluarga petani akibat bencana. Lebih lanjut, kasus kebakaran hutan di Australia menunjukkan siswa yang terdampak mengalami performa yang kurang dalam tes matematika dan membaca di tingkat sekolah dasar. Bahkan, gangguan proses pematangan saraf akibat trauma disebut memengaruhi kemampuan kognitif anak-anak.

Di tingkat nasional, nilai matematika pelajar SMA di Indonesia juga menjadi sorotan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) awal November 2025 menunjukkan nilai matematika yang jeblok pada pelajar SMA. Penurunan ini juga tercermin dalam Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, di mana skor matematika pelajar Indonesia anjlok dari 379 pada 2018 menjadi 366, hanya lebih baik dari Filipina dan Kamboja di Asia Tenggara. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan periode 2021-2024, Anindito Aditomo, mengaitkan penurunan skor PISA ini dengan efek kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan pembelajaran jarak jauh selama hampir dua tahun.

Situasi serupa terjadi di Kalimantan Timur, di mana nilai TKA matematika siswa dilaporkan anjlok, mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim untuk mengevaluasi metode pembelajaran secara menyeluruh. Bencana kekeringan juga menunjukkan dampak pada pendidikan anak-anak, seperti kesulitan berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung dan keharusan mengantre air di pagi hari sebelum sekolah, seperti yang terjadi di Lombok Barat dan Sumba Timur.

Secara keseluruhan, dampak bencana terhadap pendidikan sangat kompleks, menyebabkan hambatan belajar, kerusakan fasilitas, gangguan psikologis, hingga penurunan signifikan pada prestasi akademik, terutama dalam mata pelajaran krusial seperti matematika. Upaya pemulihan tidak hanya memerlukan perbaikan infrastruktur, tetapi juga dukungan psikososial jangka panjang untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.