Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ekspansi Beasiswa GKS: Korea Selatan Buka Lebih Banyak Kursi untuk Pelajar Indonesia

2025-12-25 | 15:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T08:32:13Z
Ruang Iklan

Ekspansi Beasiswa GKS: Korea Selatan Buka Lebih Banyak Kursi untuk Pelajar Indonesia

Pemerintah Korea Selatan secara signifikan memperluas program beasiswa Global Korea Scholarship (GKS), dengan menargetkan total 2.200 mahasiswa pascasarjana secara global pada tahun 2026, sebuah peningkatan substansial dari 1.720 penerima pada tahun 2024, sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengatasi penurunan populasi mahasiswa domestik dan meningkatkan daya saing global dalam sains dan teknologi. Mahasiswa Indonesia, yang secara historis menunjukkan tingkat persaingan tertinggi dalam program ini, diharapkan menjadi salah satu penerima manfaat utama dari ekspansi ini, didukung oleh inisiatif bilateral yang kuat.

Ekspansi GKS ini merupakan pilar utama dari "Study Korea 300K Project" yang ambisius, sebuah program yang bertujuan menarik 300.000 mahasiswa asing pada tahun 2027. Peningkatan kuota ini datang di tengah proyeksi penurunan separuh jumlah populasi usia sekolah di Korea Selatan pada tahun 2040, yang menuntut universitas-universitas untuk mencari bakat internasional. Kementerian Pendidikan Korea Selatan berencana untuk meningkatkan proporsi mahasiswa sains dan teknik dalam penerima GKS pascasarjana menjadi 43 persen pada tahun 2026 dan 45 persen pada tahun 2027, dari 40,9 persen atau 2.126 mahasiswa pada tahun 2025. Pergeseran fokus ini bertujuan memperkuat daya saing Korea dalam bidang-bidang krusial seperti kecerdasan buatan.

Indonesia memegang posisi strategis dalam upaya internasionalisasi pendidikan Korea Selatan. Data menunjukkan bahwa Indonesia telah mencatat tingkat persaingan tertinggi untuk GKS selama lima tahun terakhir, bahkan mencapai 29:1 untuk sejumlah tempat terbatas pada periode sebelumnya. Komitmen Korea Selatan terhadap pertukaran pendidikan dengan Indonesia dipertegas dengan pembukaan pusat pendidikan Korea di Jakarta pada November 2025, yang dirancang untuk memperluas program bahasa Korea dan menarik lebih banyak mahasiswa Indonesia. Menteri Pendidikan Korea Selatan, Choi Kyo-jin, (kemungkinan merujuk pada pejabat sebelumnya atau pernyataan yang lebih tua, mengingat Lee Ju-Ho disebutkan sebagai menteri saat ini di tahun 2025) bahkan menyatakan harapannya bahwa pusat Jakarta akan menjadi pusat utama pertukaran pendidikan internasional karena tingginya minat Indonesia terhadap Korea.

Wakil Menteri Oh Seok-hwan dari Kementerian Pendidikan Korea Selatan menyoroti krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dihadapi universitas akibat penurunan populasi usia sekolah. Ia menyatakan, "Untuk memastikan universitas terus tumbuh sebagai respons terhadap masyarakat yang berubah dengan cepat, kondisi keuangan yang stabil sangat penting," seraya menambahkan bahwa pemerintah akan memperluas dukungan keuangan di tingkat nasional. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi bagi Korea Selatan untuk menarik bakat global melalui program seperti GKS. Direktur Jenderal Biro Kerja Sama Internasional Kementerian Pendidikan, Choi Yeong-han, sebelumnya menegaskan, "Kementerian Pendidikan akan terus berupaya untuk ekspansi kuantitatif dan kualitatif program GKS."

Selain peningkatan kuota dan fokus pada STEM, pemerintah Korea Selatan juga telah memperkenalkan jalur visa Korea-Sains & Teknologi Sumber Daya Manusia Tingkat Lanjut (K-STAR) pada September 2025. Jalur visa ini memungkinkan mahasiswa internasional yang belajar di program master, doktoral, atau pascadoktoral sains dan teknik di 27 universitas yang terlibat dalam program BK21 untuk mendapatkan visa tinggal jangka panjang (F-2) setelah lulus, mempersingkat masa yang dibutuhkan dari enam tahun menjadi tiga tahun. Kebijakan ini secara signifikan mempermudah jalan bagi lulusan STEM untuk berkontribusi pada ekonomi Korea dan berpotensi memperoleh residensi permanen.

Kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Korea Selatan juga meluas ke bidang lain, termasuk eksplorasi pendirian sekolah ramah lingkungan dan digitalisasi pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Abdul Mu'ti, dan Menteri Pendidikan Korea Selatan, Lee Ju-Ho, telah membahas perluasan program pembelajaran digital. Integrasi program ini menciptakan ekosistem yang lebih kondusif bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengejar pendidikan tinggi di Korea Selatan. Reformasi Test of Proficiency in Korean (TOPIK) yang akan didigitalkan sepenuhnya pada tahun 2029, termasuk format berbasis komputer dan sistem penilaian berbasis AI, juga akan membuat proses aplikasi dan adaptasi menjadi lebih mudah bagi mahasiswa internasional. Upaya-upaya ini, digabungkan dengan peningkatan beasiswa GKS, memperkuat posisi Korea Selatan sebagai tujuan menarik bagi mahasiswa Indonesia.