
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera telah menyebabkan kerusakan signifikan pada sektor pendidikan, dengan data terbaru menunjukkan sebanyak 2.798 satuan pendidikan mengalami kerusakan dalam berbagai tingkatan per 7 Desember 2025. Selain itu, musibah ini juga berdampak langsung pada 208.000 siswa serta 19.000 guru dan tenaga kependidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa data ini terus diperbarui mengingat masih ada daerah yang sulit dijangkau untuk pendataan.
Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi wilayah yang paling parah terdampak bencana ekologis ini. Dampak kerusakan fasilitas pendidikan mencakup laboratorium, ruang guru, hingga perpustakaan yang terendam lumpur tebal, bahkan ada bangunan sekolah yang nyaris tidak dapat difungsikan. Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 102 sekolah terdampak, dengan 60 di antaranya mengalami kerusakan sedang hingga berat. Kerusakan juga meluas hingga ke tingkat perguruan tinggi, di mana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mencatat sekitar 60 perguruan tinggi terdampak di tiga provinsi tersebut. Kerusakan ini meliputi fasilitas pembelajaran, komputer, listrik, jaringan internet yang terputus, hingga akses jalan yang tertutup.
Menyikapi kondisi ini, Kemendikdasmen telah mengidentifikasi tiga kebutuhan utama dalam proses pemulihan pascabencana, yaitu penyediaan ruang kelas darurat, perlengkapan belajar bagi siswa, serta layanan dukungan psikososial untuk mempercepat kesiapan peserta didik kembali belajar dalam situasi darurat. Mendikdasmen telah menyalurkan total bantuan sebesar Rp 21,1 miliar untuk mendukung pembelajaran darurat, penyediaan tenda kelas, pengadaan perlengkapan belajar, kegiatan dukungan psikososial, dan distribusi logistik pendidikan.
Empat tenda ruang kelas darurat telah terpasang di Kota Padang dan Agam, Sumatera Barat, sementara 24 tenda lainnya akan dikirim ke Aceh, 25 ke Sumatera Utara, dan 25 ke Sumatera Barat. Selain itu, 10.000 paket perlengkapan belajar siswa (school kit), 700 family kit, dan 2.000 pasang sepatu juga disediakan, dengan 1.500 paket masing-masing telah didistribusikan ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Abdul Mu'ti juga menyebutkan bahwa program revitalisasi pada tahun 2026 akan diprioritaskan untuk daerah terdampak bencana.
Kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak bervariasi; beberapa sekolah menggelar tes akhir semester secara daring, sementara yang lain menerapkan pembelajaran shift atau guru mendatangi murid di kediaman mereka, bahkan ada yang ditampung di tempat sementara seperti masjid. Beberapa sekolah juga kemungkinan perlu direlokasi karena berada di daerah rawan bencana yang tidak aman. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mendesak pemerintah untuk fokus pada rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan agar proses belajar mengajar dapat kembali normal.