:strip_icc()/kly-media-production/medias/4483882/original/084626200_1687913659-20230628-Jemaah_Haji_Wukuf_di_Arafah-AP-6.jpg)
Wukuf di Arafah, salah satu rukun haji paling fundamental, diperkirakan akan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 Masehi, bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Tanggal ini menjadi penanda puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji, di mana jutaan jemaah akan berkumpul di Padang Arafah untuk berdiam diri, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Ketentuan Pelaksanaan Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling utama, dan ketiadaan pelaksanaannya akan menyebabkan haji seorang muslim tidak sah. Pelaksanaan wukuf memiliki ketentuan waktu yang sangat spesifik, yakni dimulai sejak tergelincirnya matahari (masuk waktu Dzuhur) pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbitnya fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang merupakan malam Hari Raya Idul Adha. Meskipun demikian, jemaah tidak harus berdiam diri penuh sepanjang rentang waktu tersebut; kehadiran dalam waktu singkat pun sudah mencukupi, asalkan berada di wilayah Padang Arafah.
Jemaah haji wajib berada di area Padang Arafah saat wukuf. Menariknya, kondisi jemaah saat wukuf tidak menjadi syarat sah. Wukuf dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, baik saat sadar atau tidur, duduk, berdiri, berbaring, bahkan sambil berjalan atau berada di atas kendaraan, dan tidak disyaratkan dalam keadaan suci dari hadas. Oleh karena itu, wanita yang sedang haid atau nifas pun tetap sah melaksanakan wukuf. Bagi jemaah yang memulai wukuf di siang hari, disarankan untuk menyempurnakannya hingga matahari terbenam. Namun, jika wukuf dilakukan pada malam hari, tidak ada keharusan untuk memperpanjang waktu berdiam diri. Apabila seorang jemaah meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam, ia diwajibkan membayar kifarat, kecuali jika ia kembali lagi ke Arafah pada malam harinya. Dalam melaksanakan wukuf, tidak ada niat khusus yang diucapkan, sebab niat tersebut sudah termasuk dalam niat ihram haji.
Makna Mendalam Wukuf di Arafah
Secara harfiah, "wukuf" berarti berhenti atau berdiam diri. Namun, makna Wukuf di Arafah jauh melampaui arti fisik tersebut. Ini adalah inti dan puncak dari ibadah haji, momen sakral yang sangat dinantikan oleh setiap jemaah.
Wukuf di Arafah secara filosofis merupakan simbol refleksi dan perenungan diri, mengingatkan manusia akan kondisi di Padang Mahsyar kelak, di mana semua manusia akan berkumpul di hadapan Allah SWT untuk dihisab amal perbuatannya. Momen ini mendorong jemaah untuk berintrospeksi, merenungi dosa-dosa dan kesalahan masa lalu, serta bertekad kuat untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Padang Arafah juga dipercaya sebagai lokasi pertemuan Nabi Adam dan Hawa setelah diturunkan dari surga, menjadikannya tempat yang sakral bagi umat Islam.
Di Padang Arafah, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak doa, berzikir, membaca Al-Qur'an, dan talbiyah. Dipercaya bahwa doa-doa yang dipanjatkan di Arafah akan segera diijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT. Momen ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta, menyadari kefanaan dunia, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Keistimewaan hari Arafah juga disebutkan bahwa Allah SWT membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Arafah kepada para malaikat.