Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pemicu Banjir Sumatera: Perpaduan Geologi Labil, Siklon Ganjil, dan Hutan Terkikis

2025-12-07 | 15:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-07T08:43:47Z
Ruang Iklan

Pemicu Banjir Sumatera: Perpaduan Geologi Labil, Siklon Ganjil, dan Hutan Terkikis

Bencana banjir yang melanda Sumatera secara berulang, bahkan dengan intensitas yang semakin parah, bukan semata fenomena alam biasa, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kondisi geologi yang labil, anomali siklon tropis, dan hilangnya benteng alami berupa hutan. Para ahli menyoroti ketiga faktor ini sebagai penyebab utama di balik tragedi hidrometeorologi yang kerap terjadi.

Secara geologis, Sumatera merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap longsor dan banjir bandang. Pulau ini memiliki topografi curam dengan batuan yang terbentuk dari tumbukan lempeng tektonik, menjadikannya dalam kondisi retak-retak. Kondisi ini menyebabkan batuan mudah longsor bahkan oleh guncangan gempa kecil sekalipun. Longsoran material ini kemudian dapat menyumbat aliran sungai dan membentuk bendungan alami yang berisiko jebol sewaktu-waktu, memicu banjir bandang yang dahsyat. Lereng-lereng terjal Pegunungan Bukit Barisan, yang membentang dari Aceh hingga Lampung, memiliki lapisan tanah lapuk yang sangat tipis di atas batuan dasar. Ketika hujan lebat atau guncangan terjadi, tanah yang menopang pohon-pohon besar menjadi rentan longsor, mempercepat laju air ke dataran rendah.

Anomali siklon tropis juga memainkan peran krusial dalam memicu curah hujan ekstrem yang luar biasa. Siklon tropis, seperti Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka pada akhir November 2025, telah menyebabkan hujan dengan intensitas sangat deras di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG mencatat curah hujan ekstrem mencapai 411 mm per hari di Kabupaten Bireuen, yang setara dengan volume hujan satu setengah bulan yang tumpah dalam sehari. Para pakar mengamati bahwa siklon-siklon ini menunjukkan perilaku tidak lazim, seperti tumbuh di area yang biasanya tidak memungkinkan dan bergerak melintasi daratan, memperparah risiko banjir bandang dan memperpendek periode ulang bencana. Fenomena ini mengindikasikan bahwa perubahan iklim semakin memengaruhi dinamika siklon di kawasan Indonesia.

Namun, faktor pemicu cuaca ekstrem ini diperparah secara signifikan oleh hilangnya tutupan hutan secara masif. Hutan, terutama di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sepanjang Bukit Barisan, memiliki fungsi vital sebagai penyangga hidrologis. Vegetasi hutan yang rimbun berfungsi ibarat spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah, mengendalikan erosi, dan menahan air agar tidak langsung mengalir deras ke sungai. Kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS menghilangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan untuk meredam curah hujan tinggi.

Deforestasi yang meluas di Sumatera, didorong oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit, kehutanan industri, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur, telah menghilangkan jutaan hektar hutan alam sejak awal tahun 2000-an. Data menunjukkan, antara tahun 1990-2020, Aceh kehilangan lebih dari 700.000 hektar hutan. Sementara itu, Sumatera Barat kehilangan sekitar 320.000 hektar hutan primer dan total 740.000 hektar tutupan pohon dalam kurun waktu 2001-2024, bahkan 32.000 hektar di antaranya hilang pada tahun 2024 saja. Laporan TREND Asia juga mengungkapkan hilangnya 3.678.411 hektar hutan alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat selama satu dekade terakhir. Angka deforestasi di Sumatera Utara mencapai 1.608.827 hektar, Sumatera Barat 1.049.833 hektar, dan Aceh 1.019.749 hektar dalam periode tersebut.

Hilangnya fungsi ekologis hutan ini berarti air hujan yang deras tidak lagi banyak terserap ke dalam tanah karena lapisan tanah kehilangan porositasnya akibat hilangnya jaringan akar. Akibatnya, mayoritas hujan menjadi limpasan permukaan yang mengalir deras ke hilir, memicu erosi masif, longsor, dan banjir bandang yang merusak. Lemahnya penegakan hukum di sektor kehutanan dan banyaknya izin konsesi di kawasan sensitif turut memperburuk kondisi ini. Tanpa pemulihan hutan yang serius, perbaikan tata ruang, dan mitigasi perubahan iklim yang konsisten, bencana banjir bandang di Sumatera diperkirakan akan semakin sering terjadi dengan skala kerusakan yang lebih besar.