Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Siaga Nataru: BMKG dan Pakar Ungkap Peringatan Ancaman Siklon Tropis-Banjir Bandang

2025-12-04 | 12:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-04T05:24:10Z
Ruang Iklan

Siaga Nataru: BMKG dan Pakar Ungkap Peringatan Ancaman Siklon Tropis-Banjir Bandang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini komprehensif terkait potensi cuaca ekstrem, termasuk siklon tropis dan banjir bandang, yang diperkirakan akan melanda Indonesia selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi serangkaian fenomena hidrometeorologi yang berpotensi terjadi.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa Indonesia akan menghadapi lonjakan curah hujan tinggi yang diprediksi dimulai pada pekan ketiga Desember 2025 hingga pekan kedua Januari 2026, dengan periode paling kritis antara 28 Desember 2025 dan 10 Januari 2026. Wilayah yang perlu diwaspadai secara khusus adalah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan Papua Tengah, yang diproyeksikan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, berkisar 300-500 milimeter per bulan. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur disebut sebagai daerah dengan frekuensi kejadian hujan ekstrem dan angin kencang tertinggi. Gubernur Provinsi Jakarta, Pramono Anung, juga menekankan kesiapsiagaan di Jakarta, mengingat potensi curah hujan harian yang bisa mencapai 300 milimeter, yang berpotensi memicu banjir signifikan.

Faktor pemicu utama cuaca ekstrem ini meliputi aktifnya Monsun Asia, anomali atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan bertahan 30 hingga 60 hari di wilayah Indonesia, seruakan dingin (cold surge) dari Siberia, serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Equator. Kombinasi fenomena ini akan memperkuat anomali cuaca dan memicu hujan ekstrem.

Selain hujan lebat, BMKG juga memperingatkan potensi tumbuhnya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia. Daerah yang perlu mewaspadai pembentukan bibit siklon, yang dapat berkembang menjadi siklon tropis dewasa, antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa-Bali, NTB, NTT, Maluku, Papua Selatan, dan Papua Tengah. Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya aman dari badai tropis, merujuk pada kejadian sebelumnya seperti Siklon Seroja di NTT pada 2021, Siklon Cempaka 2017, dan Siklon Senyar di Selat Malaka yang menyebabkan kerusakan luas.

Fenomena cuaca ekstrem lain yang diantisipasi mencakup angin kencang, petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang dapat mengganggu penerbangan dan pelayaran. Banjir rob juga perlu diwaspadai, terutama di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat, akibat fase perigee dan bulan purnama pada pertengahan Desember.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan melalui sistem peringatan dini, koordinasi aktif, serta pengaktifan posko nasional di pelabuhan dan bandara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga disiapkan di beberapa bandara untuk mengurangi hujan di wilayah tidak terdampak atau mencegahnya di zona rawan bencana. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mengingatkan bahwa kejadian bencana dapat muncul dengan cepat di lokasi mana pun, sehingga kesiapan menjadi krusial.