Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap! Pemenang Tak Terduga Duel Sengit Tawon Raksasa vs Katak Jepang Menurut Studi.

2025-12-29 | 06:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T23:04:52Z
Ruang Iklan

Terungkap! Pemenang Tak Terduga Duel Sengit Tawon Raksasa vs Katak Jepang Menurut Studi.

Kobe, Jepang—Sebuah studi terbaru dari Universitas Kobe telah secara definitif membuktikan bahwa katak kolam bintik hitam Jepang (Pelophylax nigromaculatus) memiliki ketahanan luar biasa terhadap sengatan tawon raksasa, termasuk tawon raksasa Asia yang terkenal mematikan (Vespa mandarinia), dan secara rutin memangsa serangga tersebut. Temuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Ecosphere pada Desember 2025, menantang pemahaman umum tentang dinamika predator-mangsa di mana sengatan berbisa sering kali menjadi pertahanan yang tak tertembus.

Penelitian yang dipimpin oleh ekolog Profesor Shinji Sugiura dari Universitas Kobe, melibatkan serangkaian percobaan terkontrol di laboratorium di mana katak kolam disajikan dengan tawon pekerja dari tiga spesies tawon Jepang: Vespa simillima, Vespa analis, dan Vespa mandarinia. Hasilnya menunjukkan tingkat keberhasilan predasi yang mencengangkan. Dari 45 katak yang diuji, 43 menyerang tawon, dan 37 di antaranya berhasil memakan mangsanya. Secara khusus, 79 persen katak berhasil mengonsumsi tawon raksasa Asia, meskipun berulang kali disengat di bagian wajah, mulut, dan mata.

Profesor Sugiura menyoroti kemampuan unik katak ini, dengan menyatakan, "Sementara seekor tikus dengan ukuran serupa dapat mati karena satu sengatan, katak-katak ini tidak menunjukkan bahaya yang terlihat bahkan setelah disengat berulang kali. Tingkat ketahanan yang luar biasa terhadap racun yang kuat ini membuat penemuan ini unik dan menarik." Katak tidak menunjukkan tanda-tanda melemah atau mati, bahkan mencerna sisa-sisa tawon sepenuhnya. Sebaliknya, tawon raksasa Asia menyimpan racun dalam jumlah besar di perutnya, yang diketahui dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat, kerusakan jaringan, dan bahkan disfungsi jantung pada mamalia, serta dapat membunuh hewan kecil seperti tikus.

Interaksi predator-mangsa ini telah diamati sebelumnya melalui analisis isi perut katak, tetapi mekanisme di balik ketahanan katak terhadap sengatan berbisa tawon belum sepenuhnya dipahami hingga penelitian ini. Katak kolam bintik hitam sering ditemukan di sawah dan tepi kolam di seluruh lanskap satoyama Jepang, area di mana tawon juga sering mencari makan, menciptakan tumpang tindih habitat yang signifikan.

Implikasi penemuan ini melampaui ekologi predator-mangsa. Ketahanan luar biasa katak kolam terhadap racun tawon menawarkan model organisme yang berharga untuk penelitian biomedis. Para ilmuwan berharap untuk menguraikan mekanisme fisiologis yang memungkinkan katak untuk menekan rasa sakit dan menetralkan toksisitas racun, yang dapat memberikan wawasan baru untuk pengembangan pereda nyeri dan agen anti-inflamasi pada manusia. Selain itu, penelitian ini memunculkan pertanyaan penting mengenai evolusi resistensi racun pada vertebrata dan apakah toksin tawon mungkin tidak efektif secara khusus pada amfibi yang jarang menyerang koloni tawon, menunjukkan adaptasi ganda terhadap rasa sakit dan efek toksik. Penelitian ini didanai oleh Japan Society for the Promotion of Science KAKENHI.