:strip_icc()/kly-media-production/medias/4262146/original/085381500_1671090332-pexels-alena-darmel-8164382.jpg)
Pernyataan-pernyataan Ali bin Abi Thalib, yang mencakup spektrum luas dari ilmu pengetahuan, cinta, hingga iman, terus menjadi sumber inspirasi dan panduan etika bagi jutaan Muslim di seluruh dunia, dengan Nahj al-Balagha sebagai kompilasi utama yang telah dikaji lintas mazhab dan generasi. Warisan intelektual dan spiritual sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW ini, yang dikenal karena kebijakan, kesalehan, dan keberaniannya, tidak hanya membentuk fondasi pemikiran Islam tetapi juga menawarkan solusi abadi untuk tantangan moral dan eksistensial kontemporer.
Keaslian dan Dampak Nahj al-Balagha
Nahj al-Balagha, sebuah kompilasi khotbah, surat, dan ucapan yang dikreditkan kepada Ali ibn Abi Thalib, dikumpulkan dalam bentuknya yang sekarang oleh cendekiawan Syiah terkemuka Sharif al-Radi pada abad ke-11 Masehi. Meskipun keasliannya telah menjadi subjek perdebatan polemik di masa lalu, penelitian akademis terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar isinya memang dapat diatribusikan kepada Ali, dengan melacak teks-teks tersebut dalam sumber-sumber yang mendahului al-Radi. Studi komputasi menggunakan analisis stilometri dan pembelajaran mesin oleh Sarwar dan Mohamed juga menyimpulkan bahwa Nahj al-Balagha konsisten secara internal dan bukan dikarang oleh al-Radi atau saudaranya, yang semakin mendukung atribusi kepada Ali.
Bagi banyak Muslim, Nahj al-Balagha dianggap sebagai karya sastra Arab yang paling fasih setelah Al-Qur'an dan Hadis Nabi. Pengaruhnya meluas pada sastra dan retorika Arab secara signifikan, serta menjadi fokus berbagai komentar dan studi oleh penulis Sunni maupun Syiah. Muhammad Abdu, seorang ulama Sunni terkemuka, memuji karya ini dengan menyatakan bahwa tidak ada kata-kata yang lebih baik setelah Al-Qur'an dan Hadis selain yang ada dalam buku ini.
Panduan Hidup Melalui Ilmu, Cinta, dan Iman
Ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib merangkum prinsip-prinsip universal yang relevan lintas zaman. Dalam konteks ilmu, Ali menekankan bahwa "ilmu pengetahuan menghidupkan jiwa" dan "nilai seseorang tergantung pada kemuliaan aspirasinya". Ia juga menyatakan bahwa "tidak ada kekayaan seperti ilmu, tidak ada kemiskinan seperti kebodohan". Dr. Fatima Rahman, seorang sarjana studi Islam di Universitas Al-Azhar, menyoroti bagaimana penekanan Ali pada ilmu pengetahuan tetap relevan di era digital, di mana kebanjiran informasi seringkali mengalahkan kearifan sejati.
Mengenai cinta, Ali mengajarkan pentingnya kasih sayang dan empati dalam hubungan. Ia berpesan, "Kembangkan dalam hatimu perasaan cinta untuk rakyatmu dan biarkan itu menjadi sumber kebaikan dan berkah bagi mereka." Pesan ini bukan hanya untuk penguasa, melainkan juga untuk setiap individu dalam berinteraksi sosial. Seorang ulama Pakistan, Hojatoleslam Syed Sajid Ali Naqvi, pada perayaan Maulid Imam Ali 2026, menyoroti bagaimana ajaran Ali tentang keadilan, pemerintahan yang baik, dan martabat manusia tetap relevan bagi masyarakat modern, termasuk bagi pemerintah.
Dalam hal iman, Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa "struktur iman ditopang oleh empat pilar: ketabahan, keyakinan, keadilan, dan jihad." Ia juga menekankan bahwa keimanan seseorang tidak akan sejati sampai ia lebih percaya pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Ini mencerminkan kedalaman spiritual dan penekanan pada tawakkal (bergantung kepada Allah).
Implikasi dan Relevansi Kontemporer
Kearifan Ali bin Abi Thalib memiliki implikasi mendalam bagi tata kelola, keadilan sosial, dan pengembangan individu. Suratnya kepada Malik al-Ashtar, yang menunjuknya sebagai gubernur Mesir, secara luas dianggap oleh otoritas Muslim yang tak terhitung jumlahnya sebagai deskripsi mendalam tentang pemerintahan yang adil menurut prinsip-prinsip Islam. Hojatoleslam Naqvi menyatakan bahwa pemerintah modern dapat mengambil pelajaran berharga dari teks abadi ini, karena keadilan bukan hanya kebijakan bagi Ali, melainkan bagian tak terpisahkan dari kepribadiannya.
Lebih jauh, Ali bin Abi Thalib dipandang bukan hanya sebagai ikon agama, tetapi sebagai arketipe universal kesempurnaan manusia yang menawarkan solusi abadi terhadap krisis modern: kemerosotan moral, runtuhnya kepemimpinan, kebingungan eksistensial, dan keterasingan spiritual. Mehdi Amin Foroughi, seorang peneliti terkemuka sejarah dan sastra Islam, menyatakan pada sebuah forum ilmiah di Isfahan bahwa Ali bukan hanya pemimpin sebuah mazhab pemikiran, tetapi juga simbol keadilan, etika, dan kemanusiaan yang daya tariknya melampaui agama atau sekte mana pun. Bahkan, pemikir non-Muslim seperti George Jordac, seorang penulis Kristen Lebanon terkemuka, dalam bukunya "Imam Ali: Suara Keadilan Manusia," memperkenalkan Ali sebagai simbol keadilan absolut.
Pada akhirnya, ajaran Ali bin Abi Thalib mendorong umat Muslim untuk menjadi pribadi yang sadar, berani, dan kritis. Ia menyerukan bahwa "barang siapa melihat kebenaran dan tidak menegakkannya, ia benar-benar setan yang bisu." Ini adalah seruan untuk aktivisme etis yang berakar pada jiwa yang murni, di mana bahkan perlawanan politik harus berasal dari jiwa yang disucikan. Warisan ini tidak hanya memperkaya pemikiran Islam tetapi juga menantang setiap individu untuk mengintegrasikan kebijaksanaan, kasih sayang, dan keyakinan dalam setiap aspek kehidupan mereka, membentuk masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.