Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

7 Rahasia Sunnah Rasulullah SAW untuk Persiapan Ramadhan 2026 Paling Berkah

2026-01-08 | 03:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T20:17:23Z
Ruang Iklan

7 Rahasia Sunnah Rasulullah SAW untuk Persiapan Ramadhan 2026 Paling Berkah

Menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, yang diprediksi akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, menurut ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, atau Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan perkiraan Kementerian Agama yang akan ditentukan melalui sidang isbat, umat Muslim di seluruh dunia tengah mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik. Persiapan ini vital untuk memastikan ibadah puasa dan amalan lainnya dapat dijalankan dengan khusyuk serta optimal, meneladani praktik Rasulullah SAW dan para ulama salaf.

Bulan Sya'ban, yang mendahului Ramadhan, secara historis berfungsi sebagai jembatan spiritual, memungkinkan transisi bertahap menuju intensitas ibadah Ramadhan. Rasulullah SAW sendiri menunjukkan pola peningkatan ibadah yang signifikan di bulan ini, menjadi teladan bagi umatnya untuk tidak melalaikannya. Imam Nawawi dalam Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa puasa Sya'ban memiliki dua hikmah utama: sebagai latihan fisik dan spiritual sebelum Ramadhan, serta sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci yang akan tiba. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif bahkan menyebut puasa Sya'ban sebagai "penyempurna puasa setahun".

Tujuh amalan Sunnah utama yang dicontohkan Rasulullah SAW dan ditekankan oleh para ahli agama untuk menyambut Ramadhan 2026 adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, lebih dari bulan-bulan lainnya, selain Ramadhan. Beliau bersabda, "Bulan Sya'ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.". Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa puasa Sya'ban berfungsi sebagai sunnah rawatib bagi puasa Ramadhan, mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Sebuah penelitian oleh Murni Parembai (2024) menunjukkan bahwa masyarakat yang membiasakan puasa Sya'ban memiliki tingkat disiplin dan kesiapan spiritual 40% lebih baik saat memasuki Ramadhan.

2. Meningkatkan Amalan Qiyamul Lail (Shalat Malam) dan Dzikir. Rasulullah SAW juga meningkatkan frekuensi qiyamul lail menjelang Ramadhan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW biasa shalat malam hingga kaki beliau bengkak, menunjukkan kesungguhan dalam ibadah ini. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengemukakan bahwa latihan qiyamul lail di Sya'ban melatih "otot spiritual" individu, mempersiapkan mereka untuk menjalani shalat Tarawih dan Tahajud di Ramadhan. Dzikir dan doa yang diperbanyak di akhir Sya'ban, menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghunyah, akan membersihkan "cermin hati" agar siap menerima cahaya Ramadhan.

3. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an. Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur'an, sehingga membiasakan diri membaca Al-Qur'an sejak Sya'ban menjadi persiapan spiritual yang esensial. Para sahabat Nabi pun menjadikan Sya'ban sebagai bulan untuk tadarus Al-Qur'an. Hadits Nabi menyebutkan bahwa setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca mendatangkan satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an menekankan pentingnya mengkaji tafsir ayat-ayat puasa sebelum Ramadhan. Memulai tilawah sejak Sya'ban akan membangun kedekatan dengan Al-Qur'an, menjadikan Ramadhan benar-benar bulan Al-Qur'an.

4. Muhasabah dan Istighfar (Taubat). Membersihkan diri dari dosa-dosa melalui muhasabah (introspeksi) dan istighfar (memohon ampunan) merupakan fondasi spiritual yang krusial sebelum Ramadhan. Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Al-Umm menulis bab khusus tentang keutamaan istighfar di Sya'ban, menyebutnya sebagai "sapu bagi debu dosa sebelum rumah spiritual dibersihkan total di Ramadhan". Syeikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity menasihati bahwa sebaik-baik amalan dalam menyambut musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar, karena dosa dapat menghalangi taufiq (pertolongan) Allah untuk melaksanakan ketaatan. Taubat yang tulus sebelum Ramadhan diharapkan dapat meningkatkan keberkahan ibadah.

5. Bersedekah. Sedekah di bulan Sya'ban memiliki keutamaan besar. Imam Shadiq menjelaskan bahwa Allah akan memelihara sedekah yang dikerjakan pada bulan Sya'ban, membesarkannya hingga hari kiamat sebesar Gunung Uhud, dan sedekah ini dapat menjadi penyelamat dari api neraka. Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah tidaklah mengurangi harta.". Imam Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa persiapan materi sedekah sebelum Ramadhan menunjukkan kesungguhan niat, memastikan distribusi tepat waktu, dan melatih jiwa agar tidak terikat pada harta. Al-Qurthubi menambahkan bahwa sedekah pra-Ramadhan "membersihkan jalur rezeki" sehingga ibadah Ramadhan tidak terganggu masalah ekonomi.

6. Mempererat Silaturahmi. Memutus tali silaturahmi adalah dosa besar dalam Islam. Menjelang Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk saling bermaaf-maafan dan mempererat hubungan kekeluargaan serta persaudaraan. Tradisi seperti 'munggahan' di Jawa Barat, di mana keluarga berkumpul untuk makan bersama, berdoa, dan saling memaafkan, menunjukkan pentingnya amalan ini secara sosial. Pimpinan Pengurus Wilayah Al-Washliyah Sumut, Dedi Iskandar Batubara, menyatakan bahwa Ramadhan adalah bulan untuk memperbaiki relasi dengan teman, tetangga, dan keluarga, bahkan bagi hubungan yang sempat merenggang.

7. Menata Niat dan Membekali Diri dengan Ilmu. Memperkuat niat yang tulus untuk beribadah semata-mata karena Allah SWT adalah pondasi utama. Imam As-Suyuthi mencatat bahwa para sahabat Nabi menghabiskan enam bulan sebelum Ramadhan untuk mempelajari fikih puasa. Umat Islam perlu memahami hukum, tata cara, dan berbagai aturan syariat yang berkaitan dengan puasa untuk memastikan ibadah sah dan optimal. Niat puasa Ramadhan, yang merupakan rukun puasa, harus dilakukan dalam hati sebelum fajar. Dengan niat yang bersih dan ilmu yang memadai, diharapkan setiap Muslim dapat meraih ketakwaan yang menjadi tujuan utama Ramadhan.

Amalan-amalan ini tidak hanya berdimensi spiritual-individu, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang mendalam. Peningkatan puasa sunnah, misalnya, melatih disiplin diri dan empati terhadap mereka yang kekurangan, sementara sedekah secara langsung mengatasi masalah kesenjangan sosial. Kesadaran kolektif yang terbangun melalui silaturahmi pra-Ramadhan memperkuat kohesi sosial dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk ibadah bersama. Dalam konteks masa depan, praktik-praktik ini membentuk karakter Muslim yang tangguh secara spiritual, peduli sosial, dan berpengetahuan, yang esensial untuk membangun masyarakat yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai Islam.