
Sebanyak 437 dari 500 madrasah di Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi 2025 kembali memulai kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pada Senin, 5 Januari 2026, menandai langkah signifikan dalam pemulihan layanan pendidikan di provinsi tersebut. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh melaporkan bahwa 87 persen madrasah telah siap menyelenggarakan pembelajaran langsung setelah menghadapi dampak banjir dan tanah longsor parah yang melanda sejumlah kabupaten pada akhir November tahun lalu. Keputusan ini diambil untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi di tengah upaya rekonstruksi pascabencana.
Bencana hidrometeorologi pada November 2025, yang mencakup banjir dan tanah longsor, telah menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur pendidikan di Aceh. Total 500 madrasah terdampak, dengan setidaknya 10 lembaga pendidikan dilaporkan roboh atau hanyut diterjang air. Sejumlah madrasah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga berat, dengan ruang kelas dipenuhi lumpur dan material banjir, serta akses jalan yang terputus. Kementerian Agama mencatat bahwa dampak bencana tersebut memerlukan respons cepat dan terkoordinasi untuk memulihkan proses belajar mengajar. Menteri Agama Nasaruddin Umar sebelumnya telah menekankan pentingnya solusi madrasah sementara dan mengajak lembaga filantropi untuk berpartisipasi dalam upaya pemulihan ini, mengingat banyak siswa terpaksa belajar di tenda pengungsian.
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, menyatakan kesiapan mayoritas madrasah ini mencerminkan semangat luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan pascabencana. Dari 500 madrasah yang terdampak, 437 unit telah dinyatakan siap beroperasi kembali. Bahkan, 10 madrasah yang bangunannya rusak berat atau hanyut tetap akan melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lokasi sementara seperti masjid, meunasah, atau lapangan desa.
Meski demikian, masih terdapat 63 madrasah yang belum siap menggelar pembelajaran tatap muka. Madrasah-madrasah ini tersebar di beberapa daerah, dengan jumlah terbanyak di Aceh Utara (19 madrasah), Aceh Tamiang (17), dan Aceh Tengah (14). Kendala utama yang dihadapi meliputi pembersihan lumpur yang belum tuntas, ruang kelas yang masih tertimbun material banjir, akses jalan yang belum dapat dilalui, serta sebagian madrasah yang masih digunakan sebagai lokasi pengungsian. Beberapa wilayah, seperti Kabupaten Bener Meriah, juga masih berstatus siaga bencana akibat aktivitas gunung api Burni Telong, yang menyebabkan beberapa madrasah dijadikan tempat pengungsian.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk menjaga keberlangsungan layanan pendidikan madrasah, namun keselamatan siswa dan tenaga pendidik tetap menjadi prioritas utama. Koordinasi intensif terus dilakukan dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan relawan untuk mempercepat pemulihan sarana dan prasarana yang rusak. Berbagai pihak juga terlibat dalam upaya pemulihan ini. PT Bank Negara Indonesia (BNI) telah melakukan pembersihan fasilitas sekolah terdampak banjir di Aceh Utara sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Personel Satuan Brimob Polda Aceh juga bergerak cepat membantu pembersihan lingkungan sekolah di Aceh Utara, memastikan kesiapan kembali untuk KBM. Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Kemenag Aceh Besar turut berbakti sosial membersihkan lumpur di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Pidie Jaya.
Pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh menjadi krusial untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap generasi muda. Selain kerusakan fisik, bencana juga dapat menyebabkan trauma psikologis dan kehilangan motivasi belajar bagi siswa dan guru. Oleh karena itu, upaya percepatan pemulihan bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga dukungan psikologis dan keberlanjutan proses pembelajaran. Harapan besar tersemat pada 87 persen madrasah yang kembali aktif ini, agar dapat menjadi pusat pemulihan sosial dan mental bagi komunitas yang terdampak, sembari terus mengupayakan 63 madrasah lainnya dapat segera menyusul dalam waktu dekat.