
Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 11 Desember 2025, mengungkapkan bahwa lirik lagu-lagu pop populer telah menjadi lebih negatif dan sederhana secara signifikan selama 50 tahun terakhir. Para psikolog dari Universitas Wina, Austria, yang memimpin penelitian ini, menganalisis lebih dari 20.000 lirik lagu berbahasa Inggris dari tangga lagu mingguan Billboard Hot 100 antara tahun 1973 hingga 2023, menemukan korelasi kuat antara tren emosional dalam musik dengan peningkatan angka depresi dan kecemasan global.
Penelitian tersebut menggunakan algoritma komputer khusus untuk memproses dan menilai nuansa emosi dalam setiap lirik, mengidentifikasi bahasa yang berkaitan dengan stres atau perasaan negatif. Hasil analisis menunjukkan peningkatan substansial dalam penggunaan kata-kata bermuatan negatif seperti "bad", "cry", "wrong", "miss", "kill", dan "hurt", sementara kata-kata positif mengalami penurunan drastis, dengan frekuensi kata "love" berkurang hampir setengahnya antara tahun 1965 dan 2015. Dr. Mauricio Martins dari Universitas Wina, salah satu peneliti, menegaskan, "Dalam jangka panjang, musik populer mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam iklim emosional masyarakat."
Tren ini tidak hanya terbatas pada lirik yang lebih melankolis, tetapi juga pada penyederhanaan kompleksitas linguistik dalam lagu-lagu pop modern. Peneliti menduga hal ini mencerminkan pergeseran budaya dan kebiasaan mendengarkan, termasuk rentang perhatian yang lebih pendek dan perubahan dalam cara kita mengonsumsi musik melalui layanan streaming, serta penurunan kompleksitas linguistik yang juga terlihat dalam buku dan komunikasi daring.
Menariknya, studi tersebut menemukan bahwa peristiwa traumatis berskala besar, seperti serangan 11 September 2001 atau pandemi COVID-19, tidak serta-merta menghasilkan lirik lagu pop yang lebih suram. Sebaliknya, masa-masa krisis justru bertepatan dengan kemunculan lagu-lagu pop dengan nada yang lebih positif dan lirik yang lebih kompleks, kemungkinan berfungsi sebagai mekanisme pelarian atau regulasi emosi bagi para pendengar. Perubahan nuansa lagu juga tidak berkorelasi dengan naik turunnya pendapatan keluarga, mengindikasikan bahwa faktor psikososial mungkin berperan lebih besar.
Para ahli di luar studi ini juga menyoroti kompleksitas hubungan manusia dengan musik sedih. Annemieke J.M. van den Tol dari School of Psychology, De Montfort University, Inggris, melalui penelitiannya pada 2016, menjelaskan bahwa orang mendengarkan musik sedih untuk memvalidasi emosi, mencari penghiburan, memperoleh pengalaman emosional yang bermanfaat, serta membantu refleksi dan relaksasi. Musik sedih dapat memicu pelepasan hormon prolaktin, yang menenangkan tubuh dan membantu stabilitas emosional, serta dapat meningkatkan kreativitas. Tara Venkatesan, Ph.D., seorang ilmuwan kognitif dari Universitas Oxford, menambahkan bahwa rasa keterhubungan yang ditawarkan oleh lagu-lagu sedih dapat memberikan efek positif bagi kesehatan mental. Namun, ia juga mencatat bahwa mendengarkan musik sedih secara berlebihan dapat memicu dan mempertahankan ruminasi, terutama pada individu dengan kecenderungan ruminasi tinggi.
Implikasi dari tren ini melampaui preferensi musik semata. Jika musik adalah cerminan kolektif dari kondisi emosional masyarakat, maka pergeseran menuju lirik yang lebih negatif menggarisbawahi adanya perubahan signifikan dalam lanskap kesehatan mental global. Industri musik, sebagai salah satu pilar budaya populer, terus beradaptasi dengan kebutuhan emosional pendengarnya, menyediakan saluran untuk mengekspresikan dan memproses tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.