Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gaza: Lapar dan Trauma Menggusur Masa Bermain dan Belajar Anak

2026-01-14 | 03:12 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T20:12:10Z
Ruang Iklan

Gaza: Lapar dan Trauma Menggusur Masa Bermain dan Belajar Anak

Seluruh Jalur Gaza menghadapi kehancuran masa kecil anak-anaknya, dengan laporan terbaru dari University of Cambridge dan peringatan dari PBB menyoroti dampak kelaparan dan trauma yang meluas, menjadikan mereka terlalu lemah untuk bermain dan belajar. Ribuan anak Palestina tewas, ratusan ribu terancam kelaparan akut, dan mayoritas kehilangan akses pendidikan formal akibat konflik berkepanjangan dan blokade yang diperketat, menciptakan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi tersebut telah mencapai titik kritis, di mana anak-anak di Gaza secara fisik dan psikologis tidak mampu terlibat dalam aktivitas dasar yang penting untuk perkembangan mereka. Laporan University of Cambridge yang dirilis pada 13 Januari 2026, bersama Centre for Lebanese Studies dan Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), memperingatkan risiko "hilangnya satu generasi" jika bantuan segera tidak diberikan. Profesor Pauline Rose, Direktur REAL Centre di University of Cambridge, menyatakan bahwa "setahun lalu kami mengatakan pendidikan diserang, sekarang kehidupan anak-anak berada di ambang kehanchan total". Anak-anak bahkan disarankan untuk tidak bermain agar tidak menghabiskan energi, dengan beberapa keluarga bertahan hidup hanya dengan semangkuk lentil per hari. Studi tersebut memperkirakan anak-anak di Gaza telah kehilangan setidaknya lima tahun waktu belajar sejak 2020, terhambat oleh pandemi COVID-19 dan kemudian perang. Hingga Oktober 2025, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat lebih dari 18.000 siswa dan 780 staf pendidikan tewas, dengan puluhan ribu lainnya terluka.

Ancaman kelaparan telah merenggut nyawa secara tragis. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 131 anak meninggal dunia akibat kelaparan dalam beberapa minggu terakhir hingga September 2025. Total kematian akibat kelaparan di Gaza mencapai 370 orang, termasuk 131 anak-anak. Kantor Media Pemerintah Gaza pada Juli 2025 melaporkan lebih dari 100 ribu anak, termasuk 40.000 bayi di bawah satu tahun, menghadapi kematian di tengah kekurangan parah susu formula dan suplemen gizi, menggambarkan situasi sebagai "pembantaian perlahan" dan menuduh Israel sengaja membuat anak-anak kelaparan melalui blokade. Data PBB pada Januari 2026 memperingatkan bahwa tingkat malnutrisi anak di Jalur Gaza telah mencapai kondisi yang mengkhawatirkan, dengan hampir 95.000 kasus malnutrisi anak tercatat sepanjang tahun 2025. Wakil Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP) Carl Skau pada Februari 2024 menyatakan Gaza menghadapi tingkat malnutrisi pada anak terburuk di dunia, dengan satu dari enam anak di bawah usia dua tahun mengalami kekurangan gizi akut. UNICEF pada Agustus 2025 menyebut bencana kelaparan di Jalur Gaza terjadi karena blokade bantuan Israel, bukan karena kekurangan pangan.

Dampak psikologis yang mendalam juga menghantui anak-anak Gaza. Hampir semua anak di wilayah tersebut didiagnosis mengalami PTSD, yang memengaruhi konsentrasi dan motivasi belajar mereka. Studi dari Gaza Media pada Desember 2024 menunjukkan 96% anak merasa kematian begitu dekat, 92% sulit menerima realitas kehidupan, 87% menunjukkan ketakutan ekstrem, dan 79% sering mengalami mimpi buruk. Sebanyak 49% bahkan menyatakan berharap mati karena perang. James Elder, juru bicara UNICEF, pada Agustus 2025, mengatakan bahwa tanda-tanda normal masa kanak-kanak telah hilang, digantikan oleh kelaparan, ketakutan, dan trauma yang menguras tenaga. Laporan WHO pada 2019 telah menggambarkan kondisi kronis kesehatan mental di wilayah Palestina yang diduduki, dengan lebih dari setengah anak-anak yang terkena dampak konflik mungkin mengalami gangguan stres pasca-trauma. Psikolog yang bekerja di tempat penampungan PBB di Gaza pada Desember 2023 melaporkan anak-anak mudah ketakutan oleh suara keras dan banyak yang mengalami enuresis (mengompol), serta mengalami frustrasi dan kerusakan psikologis serius.

Krisis pendidikan diperparah oleh kerusakan infrastruktur. Data UNICEF pada Juli 2025 mencatat lebih dari 92 persen sekolah mengalami kerusakan ringan hingga berat, dengan 87 persen di antaranya membutuhkan perbaikan besar sebelum bisa digunakan kembali. Lebih dari 600.000 anak di Gaza kehilangan akses ke pendidikan formal untuk tahun ajaran baru 2024-2025. Hingga April 2024, PBB mendata lebih dari 5.479 pelajar, 261 guru, dan 95 profesor universitas tewas di Gaza. Sekitar 39.000 pelajar sekolah menengah atas di Gaza gagal mengikuti ujian nasional pada tahun 2024 karena serangan Israel. Israel bahkan menolak masuknya pasokan penting untuk layanan pendidikan, berdalih bahwa pendidikan tidak dianggap sebagai kegiatan kritis pada fase awal gencatan senjata, menurut juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Januari 2026.

Implikasi jangka panjang dari krisis ini sangat mengkhawatirkan. Malnutrisi akut, konflik yang hampir berlangsung selama dua tahun, dan pengungsian berulang berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh dan otak anak-anak, menghambat kesehatan, perkembangan, serta masa depan mereka. Marina Adrianopoli, pimpinan teknis nutrisi WHO untuk respons Gaza, memperingatkan bahwa jika angka malnutrisi akut maupun kronis terus tinggi, satu generasi berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, hambatan sosial-ekonomi, trauma, dan stres berkepanjangan. Profesor Marko Kerac dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menambahkan bahwa malnutrisi dini meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, obesitas, serta gangguan kesehatan mental di kemudian hari. Helen Pattinson, CEO War Child Inggris, menyebut laporan ini sebagai peringatan bahwa Gaza adalah salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak, dan trauma psikologis akibat perang dapat menciptakan dampak lintas generasi jika komunitas internasional tidak bertindak sekarang. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Juli 2025 menyampaikan keprihatinan mendalam, dengan anak-anak di Gaza kini berbicara soal keinginan pergi ke surga karena mereka percaya "setidaknya, di sana ada makanan". Situasi ini bukan sekadar krisis kemanusiaan, melainkan krisis moral yang mengguncang hati nurani dunia.