Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ilmuwan AS Bongkar Misteri Iklim Indonesia, Kunci Ramalan Cuaca Ekstrem

2026-01-19 | 17:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T10:04:52Z
Ruang Iklan

Ilmuwan AS Bongkar Misteri Iklim Indonesia, Kunci Ramalan Cuaca Ekstrem

Penelitian ekstensif oleh para ilmuwan Amerika Serikat bersama kolaborator internasional, termasuk peneliti Indonesia, secara konsisten menyoroti kompleksitas fenomena atmosfer dan kelautan di wilayah kepulauan Indonesia sebagai kunci krusial untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem di skala regional maupun global. Fokus utama tertuju pada peran Madden-Julian Oscillation (MJO) dan karakteristik topografi unik Benua Maritim Indonesia (BMI) yang secara signifikan memengaruhi pola curah hujan, sekaligus memberikan tantangan besar dalam pemodelan iklim.

Pallav Ray, seorang ilmuwan meteorologi tropis dan interaksi darat-laut-atmosfer dari Florida Institute of Technology, Amerika Serikat, menegaskan bahwa pengaruh MJO terhadap curah hujan di Indonesia sangat kompleks dan menjadi perhatian penting bagi peneliti dunia, mengingat wilayah BMI dapat memengaruhi iklim global. Penelitiannya, yang dipaparkan dalam webinar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa karakteristik topografi BMI, yang terdiri dari banyak pulau besar dikelilingi perairan hangat, menciptakan lingkungan atmosfer yang unik. Eksperimen pemodelan menunjukkan keberadaan pulau-pulau ini berperan penting dalam mendukung pembentukan hujan. Tanpa daratan, presipitasi akan menurun drastis, tidak hanya di atas daratan tetapi juga di atas lautan sekitarnya. Ray menambahkan bahwa pemahaman ini sangat berguna untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem yang berdampak pada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di Indonesia.

Secara historis, posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua samudra besar (Pasifik dan Hindia) serta dua benua (Asia dan Australia) menjadikannya pusat aktivitas sirkulasi atmosfer dan laut global, sehingga dinamika cuaca dan iklim di wilayah ini sangat kompleks dan sulit diprediksi. Penelitian sebelumnya, termasuk yang melibatkan University of Hawaiʻi at Mānoa, telah menyelidiki bagaimana Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan pusaran arus laut memengaruhi iklim regional serta fenomena seperti El Niño. Fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña diketahui secara signifikan memengaruhi pola cuaca di Indonesia, dengan NASA mencatat bahwa setiap El Niño memiliki dampak berbeda dan dapat memicu kondisi kering di Pasifik barat, termasuk Indonesia.

Wakil Menteri Perdagangan untuk Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat, Dr. Richard Spinrad, yang juga menjabat Administrator Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) AS, dalam kunjungannya ke Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi bilateral dalam observasi iklim. Menurutnya, prediksi iklim yang akurat tidak dapat tercapai tanpa observasi global dan kerja sama antarlembaga internasional. Kolaborasi semacam ini esensial mengingat laju kenaikan suhu global telah mencapai 1,6 derajat Celcius pada Februari 2024, yang berdampak pada peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem hingga 1,5 kali lipat.

Implikasi ke depan dari penelitian ini sangat besar bagi ketahanan Indonesia terhadap perubahan iklim. Profesor Riset BRIN bidang Klimatologi dan Perubahan Iklim, Erma Yulihastin, menggarisbawahi bahwa untuk mitigasi cuaca ekstrem diperlukan kajian spesifik mengenai bentuk-bentuk cuaca ekstrem di BMI, mengingat wilayah ini dikenal dengan sistem iklim paling kompleks di dunia yang menyebabkan model cuaca memiliki bias kesalahan prediksi hujan terbesar. BRIN berupaya mengembangkan sistem informasi yang berfokus pada kejadian ekstrem laut-atmosfer, Learning Extreme Weather Event Over The Indonesia Maritime Continent (LESus), yang melibatkan kolaborasi dengan berbagai universitas internasional, termasuk Miami University dan Maryland University di AS. Erma bahkan mengusulkan pembentukan Komite Cuaca Ekstrem di Indonesia, mencontoh negara-negara federal di Amerika Serikat, untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana terkait cuaca ekstrem.

Data terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa MJO diperkirakan aktif melintasi Laut Maluku, Maluku Utara, Laut Halmahera, perairan utara Maluku Utara-Papua, dan Pesisir Utara Papua pada periode 16-22 Januari 2026, yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut. Sementara itu, analisis probabilitas ENSO oleh NOAA CPC pada Februari 2025 memprediksi dominasi La Niña pada awal tahun 2025, yang dapat meningkatkan curah hujan di wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Peningkatan muka air laut di perairan Aceh, misalnya, telah mencapai 1,3 mm/tahun hingga 1,8 mm/tahun dalam 25 tahun terakhir, menyoroti ancaman nyata perubahan iklim di wilayah pesisir.

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi ketergantungan Indonesia pada produk prediksi cuaca dari negara-negara maju. Dengan memahami interaksi darat-laut-atmosfer secara lebih mendalam, termasuk peran MJO dan topografi kepulauan, Indonesia dapat membangun kemandirian nasional dalam teknologi prediksi cuaca beresolusi tinggi dan akurat. Ini menjadi langkah fundamental untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi dan mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin tidak terduga.