Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengungkap 10 Mata Uang Terlemah di Dunia Lawan Dolar AS: Apakah Rupiah Termasuk Daftar Ini?

2026-01-15 | 23:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T16:19:33Z
Ruang Iklan

Mengungkap 10 Mata Uang Terlemah di Dunia Lawan Dolar AS: Apakah Rupiah Termasuk Daftar Ini?

Tekanan global yang berkelanjutan pada pasar keuangan telah mendorong sejumlah mata uang dunia ke titik terlemahnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal tahun 2026, dengan Rial Iran memimpin daftar mata uang yang paling anjlok dan Rupiah Indonesia turut berada dalam kategori tersebut. Data pasar terbaru pada 14 Januari 2026 menunjukkan Rial Iran diperdagangkan di kisaran 1.092.500 per Dolar AS, mencerminkan gejolak ekonomi dan geopolitik yang akut di negara tersebut. Sementara itu, Rupiah terpantau melemah di level Rp 16.896 per Dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, setelah sempat menyentuh Rp 16.877 per Dolar AS pada Selasa, 13 Januari 2026, menandai posisi terlemahnya sepanjang sejarah.

Pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS merupakan indikator kompleks yang mencerminkan beragam masalah struktural, kebijakan, dan eksternal. Secara historis, mata uang terlemah seringkali dikaitkan dengan negara-negara yang menghadapi sanksi ekonomi, inflasi masif, atau ketidakstabilan politik. Dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan global dan aset 'safe haven' memperkuat tren ini, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Berikut adalah sepuluh mata uang dengan nilai tukar terlemah terhadap Dolar AS per pertengahan Januari 2026, berdasarkan data pasar terbaru:
1. Rial Iran (IRR): 1.092.500 per Dolar AS. Pelemahan Rial Iran adalah dampak langsung dari sanksi ekonomi internasional yang berkelanjutan, ketegangan geopolitik, dan masalah ekonomi internal yang kronis.
2. Pound Lebanon (LBP): sekitar 89.800 - 90.909 per Dolar AS. Krisis ekonomi dan perbankan yang berkepanjangan sejak beberapa tahun terakhir, didukung oleh inflasi tinggi dan gejolak politik, membuat mata uang ini kehilangan nilainya secara drastis.
3. Dong Vietnam (VND): 26.274 per Dolar AS. Berbeda dari Iran dan Lebanon, nilai Dong Vietnam yang rendah sebagian besar mencerminkan strategi ekonomi yang terencana oleh pemerintah untuk menjaga mata uangnya tetap kompetitif guna mendorong ekspor dan menarik investasi asing.
4. Leone Sierra Leone (SLL): Tercatat dalam daftar mata uang terlemah.
5. Kip Laos (LAK): 21.700 per Dolar AS. Lemahnya Kip Laos disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang lambat, utang luar negeri yang meningkat, dan inflasi yang tinggi.
6. Rupiah Indonesia (IDR): sekitar 16.874 - 16.896 per Dolar AS. Rupiah menempati posisi keenam dalam daftar ini.
7. Som Uzbekistan (UZS): 12.100 per Dolar AS. Meskipun kaya akan kapas dan emas, Uzbekistan menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi yang rendah, inflasi, korupsi, dan pengangguran.
8. Franc Guinea (GNF): 8.800 per Dolar AS. Inflasi, keterbatasan infrastruktur keuangan, serta tantangan ekonomi domestik menjadi faktor utama.
9. Guarani Paraguay (PYG): 6.600 per Dolar AS. Mata uang ini melemah akibat inflasi tinggi, korupsi, serta tekanan dari lingkungan geografisnya sebagai pengekspor kedelai utama.
10. Ariary Madagaskar (MGA): 4.600 per Dolar AS.

Pelemahan Rupiah pada awal 2026 disebabkan oleh tekanan pasar keuangan global yang meningkat, bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G. Hutapea, pada Rabu, 14 Januari 2026, menyatakan bahwa pergerakan mata uang global, termasuk Rupiah, banyak dipengaruhi oleh kondisi tersebut, diperparah oleh peningkatan kebutuhan valuta asing domestik. Meskipun demikian, Erwin menegaskan pelemahan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional lainnya, seperti Won Korea yang melemah 2,46 persen dan Peso Filipina 1,04 persen secara year-to-date.

Bank Indonesia secara konsisten menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen operasi moneter. Langkah-langkah ini termasuk intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga mencatat berlanjutnya aliran masuk modal asing neto ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, yang mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026, serta premi risiko (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang tetap rendah sekitar 72 bps, menunjukkan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. HSBC memproyeksikan Rupiah berpotensi melemah hingga mencapai Rp 17.000 per Dolar AS pada akhir tahun 2026, didorong oleh kinerja perdagangan dan arus keuangan.

Implikasi dari mata uang yang lemah sangat luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia, pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor barang dan bahan baku, seperti minyak, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi impor atau cost-push inflation. Hal ini berpotensi mengikis daya beli masyarakat dan menaikkan beban utang luar negeri, baik bagi pemerintah maupun korporasi swasta, yang harus menukar lebih banyak Rupiah untuk membayar kewajiban dalam Dolar AS. Ekonomi Universitas Airlangga, Prof Dr Rudi Purwono SE MSE, menilai pelemahan Rupiah akan berdampak pada kenaikan harga impor dan utang luar negeri, yang juga menekan APBN.

Prospek ekonomi global pada tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan moderat. Morgan Stanley memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen pada tahun 2026, didukung oleh konsumsi yang tangguh dan belanja modal. Goldman Sachs Research memproyeksikan pertumbuhan PDB global sebesar 2,8 persen pada tahun 2026. Inflasi diperkirakan akan terus menurun di sebagian besar ekonomi utama, memberikan ruang bagi bank sentral di AS, Inggris, dan zona euro untuk memangkas suku bunga. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik yang terus-menerus dan ketidakpastian kebijakan moneter global tetap menjadi risiko utama yang dapat memicu volatilitas mata uang.