Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Hilangnya Rambutan Terpecahkan: Pakar Beberkan Penyebabnya Kini Jarang Tampak

2026-01-07 | 10:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T03:49:33Z
Ruang Iklan

Misteri Hilangnya Rambutan Terpecahkan: Pakar Beberkan Penyebabnya Kini Jarang Tampak

Konsumen Indonesia menghadapi kelangkaan rambutan di pasaran menjelang awal tahun 2026, kondisi yang disebabkan oleh anomali cuaca ekstrem dan pergeseran pola tanam petani, yang secara signifikan menekan produksi buah tropis ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan produksi rambutan nasional dari 764,6 ribu ton pada tahun 2019 menjadi 681,2 ribu ton pada tahun 2020, sebuah penurunan sebesar 10,9 persen. Meskipun produksi sempat meningkat menjadi 845.107 ton pada tahun 2023, angka tersebut masih menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan setelah mencapai 884.702 ton pada tahun 2021 dan turun menjadi 840.926 ton pada tahun 2022.

Historisnya, rambutan (Nephelium lappaceum) merupakan tanaman buah tropis asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang dikenal karena bentuk buahnya yang unik menyerupai rambut. Varietas unggulan seperti Binjai dan Rapiah telah lama menjadi favorit di pasar domestik maupun internasional. Tanaman rambutan membutuhkan periode kering sekitar satu hingga dua bulan untuk memicu pembungaan yang optimal. Namun, anomali cuaca seperti "Kemarau Basah", di mana musim kemarau diwarnai oleh curah hujan tinggi, mengganggu siklus stres air yang vital bagi pohon rambutan, sehingga menghambat proses pembungaan dan pembuahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan efek La Nina pada tahun 2025 akan memperparah kondisi ini dengan meningkatkan curah hujan dan menunda musim kemarau, khususnya di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi utama.

Selain faktor iklim, alih fungsi lahan juga memberikan kontribusi terhadap penyusutan areal perkebunan rambutan. Di Kabupaten Subang, salah satu sentra penghasil rambutan, lebih dari 2.000 hektar kebun rambutan "hilang" dalam sepuluh tahun terakhir akibat konversi lahan menjadi permukiman, industri, dan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol. Tatang Gustian, Kepala Seksi Hortikultura Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Subang pada tahun 2016, mengungkapkan bahwa penyusutan areal ini sulit dihindari karena biaya investasi untuk perluasan kebun baru yang tidak seimbang dengan hasil yang didapat, serta lamanya waktu tunggu tanaman hingga berbuah.

Pergeseran preferensi petani terhadap komoditas yang lebih menguntungkan secara ekonomi turut memengaruhi ketersediaan rambutan. Beberapa petani beralih menanam komoditas lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi atau lebih mudah dipasarkan. Praktik panen yang kurang tepat, seperti pemotongan batang utama pohon, juga dapat menghambat produksi buah selama dua hingga tiga tahun berikutnya.

Di sisi lain, permintaan rambutan Indonesia di pasar internasional terus meningkat. Amerika Serikat menjadi importir utama rambutan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai US$80.043,6 dan volume 415.527,2 kg pada tahun 2023. Harga rambutan di pasar Amerika Serikat dapat mencapai Rp500.000 per kilogram, menandakan daya saing dan nilai ekonomis yang tinggi di kancah global. Tingginya permintaan ekspor ini berpotensi mengurangi pasokan untuk konsumsi domestik.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah berupaya meningkatkan produksi hortikultura, termasuk buah-buahan, melalui program seperti "Kampung Hortikultura" yang bertujuan mengoptimalkan potensi lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi teknologi serta pemberdayaan masyarakat. Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menegaskan fokus pada stabilitas harga komoditas hortikultura untuk menjaga kesejahteraan petani dan konsumen. Upaya pembenahan budidaya, penambahan luas tanam, dan peningkatan praktik pascapanen juga menjadi prioritas untuk mendorong daya saing buah lokal. Namun, tantangan perubahan iklim yang terus-menerus dan konversi lahan yang masif menuntut adaptasi dan strategi jangka panjang yang lebih komprehensif untuk memastikan buah rambutan tetap tersedia sebagai bagian integral dari kekayaan hortikultura Indonesia.