Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pakar RI Bedah Masa Depan Pendidikan Anak di Jepang: Wawasan Global

2026-01-21 | 17:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T10:26:01Z
Ruang Iklan

Pakar RI Bedah Masa Depan Pendidikan Anak di Jepang: Wawasan Global

Dosen Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) Dr. Devie Rahmawati menyampaikan kuliah umum dan dialog di Toda International Memorial Hall, Soka University, Jepang, pada Selasa, 20 Januari 2026, menyoroti urgensi pendidikan anak sebagai instrumen sosial fundamental. Di hadapan mahasiswa internasional dan perwakilan komunitas Soka Gakkai, Rahmawati menekankan peran sekolah sebagai ruang vital bagi anak untuk berdialog dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah disrupsi digital.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran filsuf Buddhis dan pendiri Soka Gakkai International (SGI), Daisaku Ikeda, yang mendefinisikan penciptaan nilai sebagai kemampuan individu untuk menemukan makna, meningkatkan eksistensi, dan berkontribusi pada kesejahteraan orang lain dalam setiap keadaan. "Di tengah dunia yang semakin bising dan terfragmentasi, pendidikan harus menjadi tempat anak menemukan makna, arah, dan keberanian untuk menciptakan nilai bagi orang lain," ujar Dr. Devie Rahmawati.

Transformasi pendidikan, menurut Rahmawati, harus berakar pada pengalaman sehari-hari anak melalui pembentukan hubungan positif dengan figur dewasa, penumbuhan budaya dialog yang konsisten, serta dukungan aktivitas kolektif yang sarat makna. Ia menggarisbawahi bahwa di era digital, penyampaian informasi saja tidak lagi memadai; yang dibutuhkan adalah "aktivasi" atau pengalaman langsung yang melibatkan peserta didik.

Diskusi ini berlangsung di tengah upaya berkelanjutan Indonesia dan Jepang untuk memperkuat kemitraan strategis di bidang pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, misalnya, baru-baru ini memperkuat kolaborasi dengan Kedutaan Besar Jepang, mencakup peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen, pengembangan program gelar bersama, serta penguatan pendidikan lintas negara. Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, pada September 2025 juga menekankan tradisi "Shokuiku" atau pendidikan gizi dan pangan di sekolah-sekolah Jepang yang telah berjalan lebih dari seratus tahun, membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.

Sistem pendidikan Jepang, yang dikenal disiplin dan terstruktur, kini bergeser ke pendekatan yang lebih fokus pada kemauan anak dan kemandirian, dengan penekanan pada kreativitas, pemecahan masalah, dan pembelajaran berbasis proyek. Anak-anak di Jepang dilatih untuk peka terhadap lingkungan, mengembangkan rasa ingin tahu, dan memperkaya kreativitas melalui ekspresi bebas. Bahkan, Jepang telah menguji coba penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi risiko bolos sekolah pada siswa dan menyediakan dukungan pencegahan dini di Kota Toda, Prefektur Saitama, dekat Tokyo, sejak tahun 2023.

Di sisi lain, pendidikan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan fundamental. Survei Ipsos Education Monitor 2025 menunjukkan bahwa ketimpangan akses pendidikan menjadi masalah terbesar bagi 59% responden di Indonesia, diikuti oleh infrastruktur yang kurang memadai (37%), dan pendidikan guru yang belum optimal (30%). Tingginya angka putus sekolah, terutama di daerah miskin dan terpencil, juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan pernikahan dini. Selain itu, kesehatan mental anak muda juga menjadi isu krusial; Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun menderita gangguan mental.

Kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Jepang diharapkan dapat menjadi katalisator bagi perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Pengalaman Jepang dalam mengembangkan pendidikan karakter dan kreativitas sejak dini, serta inovasi dalam metode pembelajaran interaktif, dapat memberikan wawasan berharga. Sebaliknya, Indonesia dengan populasi anak yang besar—sekitar sepertiga dari total 85 juta jiwa—menawarkan peluang unik untuk menerapkan dan menguji model pendidikan yang inklusif dan relevan. Dengan memprioritaskan dialog, pengembangan kapasitas guru, dan kebijakan yang mendukung ekosistem pembelajaran yang berpusat pada anak, kedua negara dapat bersama-sama membentuk generasi yang lebih tangguh dan adaptif menghadapi kompleksitas masa depan.