
Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) secara konsisten menekankan peran krusial sekolah dalam menentukan siswa eligible untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, seraya mengungkap data perguruan tinggi negeri (PTN) dengan penerimaan siswa SNBP terbanyak pada tahun 2024. Kebijakan ini menegaskan otonomi sekolah dalam menyeleksi kandidat berprestasi, sekaligus memberikan gambaran peta persaingan di tingkat nasional.
Mekanisme pemeringkatan siswa yang berhak mendaftar SNBP 2026 sepenuhnya berada di tangan sekolah. Proses ini didasarkan pada nilai rerata seluruh mata pelajaran pada semua semester, kecuali semester terakhir di kelas 12. Sekolah diberikan kewenangan untuk menambahkan kriteria lain, seperti prestasi akademik atau non-akademik yang relevan, guna memberikan penilaian yang lebih holistik terhadap potensi siswa. Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, secara tegas menyatakan bahwa penentuan siswa eligible merupakan otoritas mutlak sekolah, bukan panitia SNPMB. Ia bahkan mencontohkan bahwa panitia tidak dapat menjawab keluhan siswa yang merasa tidak eligible karena keputusan tersebut sepenuhnya ada pada kebijakan internal sekolah. Kuota siswa eligible yang bisa didaftarkan oleh setiap sekolah ditentukan berdasarkan status akreditasinya: 40 persen untuk sekolah berakreditasi A, 25 persen untuk akreditasi B, dan 5 persen untuk akreditasi C atau lainnya. Sekolah yang menggunakan sistem e-Rapor dalam pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) juga akan mendapatkan tambahan kuota siswa eligible sebesar 5 persen.
Transparansi dan objektivitas dalam pemeringkatan internal sekolah menjadi kunci, mengingat peluang siswa sangat ditentukan oleh posisi peringkat di sekolah asal, bukan semata-mata nilai absolut. Hal ini menepis anggapan mengenai adanya "jalur langit" atau lobi-lobi khusus dalam SNBP, sebagaimana ditegaskan oleh Eduart Wolok pada Februari 2025. Ia menegaskan bahwa seleksi didasarkan pada prestasi objektif dan bahkan anak dari Koordinator SNBP tidak lulus jalur ini, menunjukkan tidak adanya intervensi.
Sementara itu, data SNBP 2024 yang diumumkan pada Maret 2024 menunjukkan sejumlah PTN menjadi destinasi favorit dengan penerimaan siswa terbanyak. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tercatat sebagai PTN akademik yang menerima peserta SNBP terbanyak, dengan jumlah 4.733 siswa. Diikuti oleh Universitas Brawijaya dengan 3.662 peserta, Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 3.546 peserta, Universitas Negeri Padang dengan 3.530 peserta, dan Universitas Pendidikan Indonesia dengan 3.363 peserta. Sepuluh besar PTN dengan penerimaan terbanyak juga termasuk Universitas Negeri Makassar (3.335), Universitas Diponegoro (3.055), Universitas Syiah Kuala (2.990), Universitas Negeri Malang (2.955), dan Universitas Hasanuddin (2.822). Total peserta SNBP 2024 mencapai 702.312 siswa, dengan 126.421 peserta diterima di PTN akademik dan 29.608 siswa di PTN vokasi.
Implikasi jangka panjang dari sistem SNBP ini mendorong sekolah untuk tidak hanya berfokus pada capaian akademik siswa, tetapi juga pada pengembangan prestasi non-akademik yang dapat menjadi nilai tambah. Bagi siswa, pemahaman mendalam tentang mekanisme pemeringkatan di sekolah menjadi esensial untuk menyusun strategi yang matang, tidak hanya berorientasi pada nilai rapor, melainkan juga pada konsistensi prestasi dan rekam jejak yang komprehensif. Pengumuman kuota sekolah SNBP 2026 telah dirilis pada 29 Desember 2025, dengan periode registrasi akun SNPMB sekolah dimulai pada 5 Januari 2026, menandai dimulainya siklus seleksi untuk tahun akademik mendatang. Proses pengisian PDSS dan pendaftaran SNBP 2026 akan berlangsung hingga Februari 2025, dengan pengumuman hasil pada 18 Maret 2025. Ini memberikan kesempatan bagi sekolah dan siswa untuk mempersiapkan diri secara optimal dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri.