Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Patahkan Minat Baca Rendah: Panduan Mudah Bangun Kebiasaan Membaca Permanen Sebelum 2026

2026-01-11 | 07:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T00:05:47Z
Ruang Iklan

Patahkan Minat Baca Rendah: Panduan Mudah Bangun Kebiasaan Membaca Permanen Sebelum 2026

Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada tahun 2024 mencapai 72,44, menunjukkan peningkatan signifikan dari angka 55,74 pada tahun 2020, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Meskipun berada dalam kategori "sedang", tren positif ini, yang sebagian besar didorong oleh kontribusi generasi Z, memberikan harapan baru di tengah tantangan literasi yang kompleks dan berkelanjutan yang membayangi kualitas sumber daya manusia nasional menuju tahun 2026..

Angka TGM 2024 yang mencapai 72,44 ini merupakan pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir dan melampaui target Perpustakaan Nasional sebesar 71,3 untuk tahun yang sama, hasil dari survei komprehensif terhadap 174.226 responden di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Gen Z tercatat sebagai kontributor terbesar dalam lonjakan positif ini, dengan 84,7 persen di antaranya gemar membaca buku, dan 27,1 persen memiliki kebiasaan membaca setiap hari. Peningkatan ini kontras dengan laporan sebelumnya; pada tahun 2016, UNESCO menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dengan minat baca yang sangat rendah, di mana hanya 0,001 persen atau satu dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Sementara itu, Program for International Student Assessment (PISA) oleh OECD pada 2018 menempatkan Indonesia pada urutan ke-71 dari 77 negara terkait literasi membaca.

Rendahnya minat baca di masa lalu dan tantangan yang masih ada saat ini berimplikasi langsung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) dan daya saing bangsa. Masyarakat dengan literasi rendah rentan terhadap manipulasi informasi, yang memengaruhi pengambilan keputusan politik dan sosial, serta membatasi peluang pengembangan diri. Kurangnya minat baca juga berkorelasi dengan penurunan mutu pendidikan dan kemampuan siswa menyerap materi, menghasilkan lulusan yang kurang siap menghadapi tantangan pasar kerja.

Faktor-faktor penyebab rendahnya minat baca di Indonesia bersifat multidimensional. Ketersediaan dan aksesibilitas buku masih menjadi kendala, terutama di daerah terpencil, di mana variasi dan pilihan buku seringkali kurang memadai, dan biaya buku terjemahan asing cenderung mahal. Preferensi masyarakat terhadap konten singkat dan visual yang ditawarkan media sosial juga menggeser kebiasaan membaca narasi panjang. Selain itu, kurangnya fasilitas perpustakaan yang memadai, minimnya motivasi pribadi, serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga dan sekolah juga berkontribusi pada rendahnya kebiasaan membaca. Bahkan, survei BPS pada tahun 2024 menunjukkan hanya 44,56 persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat.

Pemerintah melalui Gerakan Nasional Gemar Membaca dan Program Merdeka Belajar, serta pengembangan ekosistem digital literasi dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, terus berupaya memperkuat budaya literasi. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, menekankan bahwa pemerataan akses literasi hingga wilayah terpencil menjadi faktor penting dalam peningkatan minat baca. Untuk individu, tahun 2026 dapat menjadi titik tolak membangun kebiasaan membaca yang lebih kuat. Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk memulai membiasakan membaca:

1. Pilihlah bacaan yang sesuai minat. Memulai dengan genre atau topik yang disukai akan meningkatkan motivasi dan membuat aktivitas membaca lebih menyenangkan.
2. Tetapkan jadwal membaca rutin. Alokasikan waktu khusus setiap hari, misalnya 15-30 menit sebelum tidur atau saat istirahat, untuk membangun konsistensi.
3. Ciptakan lingkungan membaca yang nyaman. Carilah tempat yang tenang dan bebas gangguan agar lebih mudah fokus dan bertahan membaca lebih lama.
4. Manfaatkan teknologi. Gunakan e-book reader atau aplikasi membaca di ponsel pintar untuk kemudahan akses di mana saja dan kapan saja.
5. Bergabunglah dengan komunitas membaca atau klub buku. Diskusi dan interaksi dengan sesama pembaca dapat memperkaya wawasan dan memelihara motivasi.
6. Variasikan jenis bacaan. Mencoba berbagai format seperti artikel pendek, esai, atau ringkasan buku dapat memperluas wawasan tanpa terasa membebani.
7. Mulai dengan target kecil. Jangan memaksakan diri membaca buku tebal sekaligus. Targetkan beberapa halaman per hari dan tingkatkan secara bertahap.

Penguatan literasi menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas SDM, penguatan karakter, serta tumbuhnya kesadaran kritis dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, terutama dengan prospek Indonesia Emas 2045. Upaya kolektif dari pemerintah, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat, dengan Gen Z sebagai motor penggerak, diharapkan dapat terus meningkatkan posisi Indonesia dalam indeks literasi global dan menghasilkan generasi yang kompetitif dan inovatif.