Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Peringatan Dosen Unair: Kurang Tidur Remaja Pemicu Nyata Penyakit Serius

2026-01-10 | 19:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T12:51:57Z
Ruang Iklan

Peringatan Dosen Unair: Kurang Tidur Remaja Pemicu Nyata Penyakit Serius

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Nur Aisiyah Widjaja, Sp.A(K), baru-baru ini memperingatkan bahwa kurang tidur pada remaja bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan pemicu serius berbagai penyakit kronis, termasuk obesitas yang dapat berujung pada sindrom metabolik, diabetes, dan penyakit jantung. Pernyataan ini muncul di tengah data yang menunjukkan mayoritas remaja Indonesia masih kekurangan waktu tidur ideal, memperburuk potensi krisis kesehatan publik di masa depan.

Kekurangan tidur mengganggu keseimbangan hormon vital dalam tubuh. Dr. Aisiyah menjelaskan bahwa tidur larut malam, melewati pukul 21.00, menghambat peningkatan hormon melatonin yang mengatur tidur. Sebagai gantinya, hormon leptin dapat meningkat, memicu rasa lapar dan keinginan untuk mengonsumsi makanan ringan atau tinggi kalori di malam hari. Pola makan tidak sehat ini, dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang minim di malam hari, secara signifikan meningkatkan risiko penumpukan lemak dan obesitas. Selain itu, stres juga berkontribusi dengan meningkatkan hormon kortisol yang mengganggu produksi melatonin, memperburuk kualitas dan durasi tidur.

Implikasi kurang tidur melampaui masalah berat badan. Obesitas pada remaja adalah pintu gerbang menuju sindrom metabolik, serangkaian kondisi yang mencakup diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Sebuah penelitian oleh tim Universitas Airlangga pada tahun 2025 di Surabaya dan Sidoarjo, yang melibatkan 197 remaja, menguatkan temuan ini, menunjukkan hubungan antara durasi tidur yang tidak ideal dan peningkatan risiko obesitas serta sindrom metabolik. Studi lain bahkan mengaitkan kurang tidur dengan penurunan fungsi otak, gangguan konsentrasi, peningkatan risiko kecemasan, depresi, pikiran untuk bunuh diri, dan bahkan peningkatan risiko Multiple Sclerosis (MS) pada remaja yang tidur kurang dari tujuh jam setiap malam.

Secara global, rekomendasi waktu tidur untuk remaja berusia 13-18 tahun adalah 8-10 jam per malam. Namun, realitas di Indonesia jauh dari ideal. Survei YouGov tahun 2023 menunjukkan bahwa 51 persen orang dewasa di Indonesia tidur kurang dari 7 jam per hari, dengan 24 persen bahkan tidur kurang dari 5 jam. Data dari HonestDocs pada 2019 juga mengungkapkan lebih dari dua pertiga masyarakat Indonesia mengalami kurang tidur. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan begadang, penggunaan gawai hingga larut malam, tekanan akademik, dan konsumsi kafein yang mengganggu ritme sirkadian tubuh remaja.

Mengatasi masalah kurang tidur pada remaja memerlukan pendekatan komprehensif. Dr. Aisiyah menyarankan penetapan jadwal tidur yang ketat, idealnya maksimal pukul 21.00, untuk mendukung regulasi hormon alami tubuh. Kualitas tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga berat badan ideal, memulihkan fisik dan mental, serta mendukung fungsi kognitif optimal. Penting bagi orang tua dan institusi pendidikan untuk menanamkan pemahaman tentang krusialnya tidur yang berkualitas, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi remaja untuk mendapatkan istirahat yang memadai. Kurangnya intervensi dapat mengakibatkan beban kesehatan yang substansial di masa depan, menghambat potensi generasi muda.