Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rektor ITB Ungkap Statistik Mengejutkan: 60% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan

2026-01-04 | 00:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T17:19:24Z
Ruang Iklan

Rektor ITB Ungkap Statistik Mengejutkan: 60% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara, baru-baru ini mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 60 persen mahasiswa ITB merasa salah memilih jurusan studi mereka. Pernyataan ini disampaikan Prof. Tatacipta dalam acara Open House ITB pada Desember 2025, menyoroti tantangan serius dalam kesesuaian minat, bakat, dan jalur pendidikan di salah satu perguruan tinggi teknik tertua dan paling prestisius di Indonesia tersebut. Temuan ini memicu pertanyaan mendalam mengenai sistem seleksi, bimbingan karier, serta tekanan sosial dan ekspektasi yang membentuk pilihan studi mahasiswa di Indonesia.

Angka 60 persen di ITB, meskipun signifikan, sebenarnya lebih rendah dibandingkan survei nasional yang menunjukkan bahwa fenomena salah jurusan jauh lebih luas di Indonesia. Psikolog pendidikan dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur, mencatat bahwa sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia merasa tidak tepat dalam memilih jurusan kuliah mereka. Data serupa juga ditemukan oleh Indonesia Career Center Network (ICCN) melalui survei tahun 2017. Perbedaan angka ini mungkin menunjukkan karakteristik unik mahasiswa di ITB atau perbedaan metodologi survei, namun secara umum, masalah ketidaksesuaian minat dan jurusan merupakan isu sistemik dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Berbagai faktor melatarbelakangi fenomena salah jurusan ini. Salah satu penyebab utama adalah keputusan yang didasarkan pada keinginan untuk bersama teman sebaya, bukan pada minat dan bakat pribadi. Tekanan dan pengaruh orang tua juga memainkan peran dominan, di mana sebagian mahasiswa terpaksa memilih jurusan yang tidak diminati demi memenuhi cita-cita atau impian keluarga. Selain itu, tawaran beasiswa seringkali mendorong mahasiswa untuk mengambil jurusan yang kurang sesuai dengan ketertarikan mereka, hanya karena ingin meringankan beban biaya pendidikan. Ketiadaan pemahaman diri mengenai minat dan bakat juga seringkali menjadi pemicu kesalahan dalam penentuan pilihan studi.

Dampak dari salah jurusan ini meluas dari aspek akademik hingga kesejahteraan psikologis mahasiswa. Secara akademik, mahasiswa yang merasa salah jurusan cenderung mengalami penurunan motivasi belajar, kesulitan memahami materi kuliah, dan berujung pada nilai akademik yang rendah atau bahkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang menurun. Hal ini dapat memperkecil peluang untuk mendapatkan beasiswa lanjutan atau kesempatan magang di perusahaan terkemuka. Lebih jauh, dampak psikologisnya sangat serius, meliputi tingkat stres dan kecemasan yang tinggi, rasa tidak puas, rendah diri, kebingungan akan masa depan, dan tekanan emosional berlebihan. Dalam kasus ekstrem, ketidaksesuaian ini bahkan dapat meningkatkan risiko putus kuliah atau molornya waktu studi. Pasca-kelulusan, fenomena salah jurusan juga berimplikasi pada jalur karier, di mana banyak alumni akhirnya bekerja di bidang yang tidak relevan dengan jurusan yang mereka tempuh saat di perguruan tinggi.

Menanggapi tantangan ini, ITB telah mencoba menerapkan skema pendidikan yang lebih fleksibel. Prof. Tatacipta menyebutkan adanya Tahap Persiapan Bersama (TPB) di tahun pertama perkuliahan, di mana mahasiswa mengikuti mata kuliah yang relatif seragam sebelum masuk ke program studi masing-masing. Institusi tersebut juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah lintas program studi melalui skema minor yang dapat diambil mulai semester tujuh dan delapan, serta menyediakan program fast track untuk studi magister dengan minat yang berbeda. Fleksibilitas ini diharapkan dapat memberikan ruang eksplorasi yang lebih besar bagi mahasiswa dan menjadi bagian dari transformasi pendidikan ITB agar lebih adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa dan dinamika dunia kerja. Namun, data yang diungkapkan oleh Rektor ITB menegaskan bahwa meskipun ada upaya, tantangan fundamental dalam keselarasan antara aspirasi mahasiswa dan pilihan studi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi institusi pendidikan tinggi di Indonesia.