Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Riset Ungkap: Negara Ini Juara Narsisme Global

2026-01-22 | 10:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T03:26:32Z
Ruang Iklan

Riset Ungkap: Negara Ini Juara Narsisme Global

Sebuah studi global terbaru yang melibatkan 45.000 responden dari 53 negara menunjukkan bahwa Jerman menduduki peringkat teratas sebagai negara dengan tingkat narsisme tertinggi di dunia. Riset yang dipublikasikan pada 4 Desember 2025 di jurnal Self and Identity oleh tim peneliti dari Departemen Psikologi Michigan State University, termasuk Macy M. Miscikowski dan William Chopik, menantang persepsi umum bahwa narsisme adalah fenomena yang didominasi oleh negara-negara Barat atau Amerika Serikat.

Temuan ini secara signifikan merevisi pemahaman mengenai distribusi sifat kepribadian narsistik secara global. Setelah Jerman, Irak, Tiongkok, Nepal, dan Korea Selatan melengkapi daftar lima negara teratas yang paling narsis. Amerika Serikat sendiri berada di peringkat ke-16, sementara Serbia, Irlandia, Inggris, Belanda, dan Denmark tercatat memiliki tingkat narsisme terendah. Penelitian ini memfokuskan pada narsisme tipe "grandiose" atau terang-terangan, yang ditandai dengan arogansi, dominasi, rasa superioritas yang berlebihan, hak istimewa, kebutuhan akan kekaguman, dan rendahnya empati.

Para peneliti juga membedakan antara narsisme "admiration" (kekaguman) yang berfokus pada promosi diri dan pencarian pujian, dan narsisme "rivalry" (rivalitas) yang melibatkan pertahanan diri dan upaya merendahkan orang lain. Menariknya, negara-negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih tinggi cenderung menunjukkan tingkat narsisme yang lebih tinggi, kemungkinan karena masyarakat yang lebih makmur seringkali menempatkan nilai lebih pada pencapaian individu dan promosi diri.

Salah satu aspek yang paling mengejutkan dari studi ini adalah bahwa bahkan negara-negara kolektivistik, seperti Tiongkok dan Nepal, menunjukkan tingkat narsisme yang tinggi, terutama pada tipe "admiration" yang terkait dengan pencarian status dan penghargaan. Ini mengindikasikan bahwa sifat narsisme dapat berfungsi sebagai strategi untuk menavigasi hierarki sosial yang kompleks dalam budaya tersebut.

William Chopik, salah satu penulis penelitian dan profesor di Departemen Psikologi Michigan State University, menjelaskan bahwa hasil ini menyoroti bahwa narsisme adalah sifat universal dengan pola yang konsisten di berbagai budaya, meskipun terdapat perbedaan dalam tingkat ekspresinya. Secara demografi, penelitian ini secara konsisten menemukan bahwa dewasa muda dan pria memiliki skor narsisme yang lebih tinggi di hampir semua negara yang diteliti. Chopik menambahkan, "Menjadi muda di hampir setiap tempat melibatkan fokus pada diri sendiri dan berpikir Anda lebih baik dari yang sebenarnya. Tetapi hidup bisa menjadi pengalaman yang merendahkan, dan tampaknya merendahkan orang dengan cara yang sama di berbagai budaya."

Konteks historis Jerman juga memberikan wawasan tambahan. Sebuah studi terpisah pada tahun 2018 dari Charité – Universitätsmedizin Berlin menemukan bahwa individu yang tumbuh di Jerman Barat yang individualistik dan kapitalistik memiliki tingkat narsisme grandiose yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan di Jerman Timur yang kolektivistik dan sosialis. Studi tersebut menyarankan bahwa reunifikasi Jerman telah membawa penyeimbangan bertahap dalam distribusi sifat-sifat ini di antara generasi muda. Profesor Stefan Röpke dari Charité – Universitätsmedizin Berlin menyatakan, "Masyarakat Barat kontemporer mendorong narsisme."

Implikasi dari narsisme tingkat tinggi pada skala nasional sangat luas. "Narsisme nasional," sebuah keyakinan bahwa negara seseorang luar biasa tetapi tidak dihargai oleh pihak lain, dapat memicu permusuhan terhadap negara lain, ekstremisme kekerasan, kerentanan terhadap retorika yang memecah belah dan teori konspirasi, serta menghambat tindakan kolektif dan kohesi sosial. Pada tingkat individu, narsisme dapat merusak institusi sosial, menghasilkan nilai-nilai yang dangkal, mengurangi keingintahuan intelektual, menurunkan penekanan pada kerja keras, meningkatkan agresi, dan mempersulit hubungan. Kevin Bennett, Ph.D., seorang profesor psikologi sosial-kepribadian di Penn State University Beaver Campus, menyoroti bahwa akar narsisme nasional terletak pada rasa tidak aman pribadi dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi. Memahami dinamika narsisme lintas budaya ini menjadi krusial untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan individu yang lebih terhubung di masa depan.