Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Singapura Tegaskan Larangan Ponsel di Sekolah, Fasilitasi Loker Demi Fokus Belajar

2026-01-16 | 10:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T03:28:14Z
Ruang Iklan

Singapura Tegaskan Larangan Ponsel di Sekolah, Fasilitasi Loker Demi Fokus Belajar

Pemerintah Singapura melalui Kementerian Pendidikan (MOE) secara signifikan memperketat kebijakan penggunaan telepon seluler di sekolah menengah mulai Januari 2026, melarang siswa menggunakan perangkat pintar selama jam sekolah penuh, termasuk waktu istirahat dan kegiatan ko-kurikuler. Kebijakan ini, yang menyusul implementasi serupa di sekolah dasar sejak Januari 2025, bertujuan mengatasi gangguan, mendorong kebiasaan digital yang lebih sehat, dan meningkatkan interaksi tatap muka di kalangan siswa. Seiring dengan perubahan ini, semakin banyak sekolah yang memasang loker khusus untuk menyimpan perangkat siswa, sebuah langkah yang telah menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan fokus dan interaksi sosial.

Peningkatan pembatasan penggunaan telepon seluler ini merupakan bagian dari strategi nasional "Grow Well SG" yang lebih luas, yang berfokus pada pengembangan kebiasaan digital yang sehat di kalangan anak-anak dan remaja di seluruh Singapura. Sebelum Januari 2026, pembatasan hanya berlaku selama jam pelajaran reguler, dengan beberapa sekolah mengizinkan penggunaan telepon selama waktu istirahat. Namun, pedoman yang direvisi melarang penggunaan ponsel pintar dan jam tangan pintar di semua jam sekolah, termasuk kegiatan ekstrakurikuler serta pelajaran tambahan, pengayaan, atau remedial. Kementerian Pendidikan menyatakan bahwa perangkat siswa harus disimpan di area penyimpanan yang ditentukan, seperti loker atau di tas sekolah mereka selama jam sekolah.

Lonjakan pemasangan loker ponsel menunjukkan komitmen sekolah untuk menegakkan pedoman baru ini. Hampir 10 sekolah menengah berencana memasang loker khusus pada tahun 2026. Springfield Secondary School, misalnya, telah memperkenalkan "hotel ponsel" pada tahun 2023 setelah mengamati penggunaan perangkat yang berlebihan pasca-pandemi COVID-19. Kepala Sekolah Springfield Secondary, Eleanor Chia, melaporkan bahwa inisiatif tersebut berhasil menekan penggunaan perangkat yang berlebihan di kalangan siswa, menghasilkan peningkatan fokus pelajaran, interaksi sosial yang lebih kuat, dan kasus disipliner yang lebih sedikit. Demikian pula, Queensway Secondary School telah menerapkan kebijakan penyimpanan telepon seluler di loker sejak 2019, dengan Kepala Sekolah Audrey Chen Li Ying mencatat bahwa hal ini membantu siswa menghindari gangguan dan mendorong interaksi sosial selama istirahat. Sebuah perusahaan pemasok perabot kantor, Wide-Links, melaporkan telah menyediakan loker ponsel untuk lebih dari 40 sekolah, termasuk sekolah dasar, pada tahun 2025. Loker-loker ini biasanya dikelola oleh guru, seringkali diamankan dengan kunci kombinasi digital atau kartu pintar, dan ditempatkan di area yang dipantau kamera CCTV.

Alasan di balik pengetatan kebijakan ini berakar pada kekhawatiran yang berkembang tentang dampak penggunaan ponsel pintar terhadap kesejahteraan siswa dan kinerja akademik. Studi menunjukkan hubungan antara waktu layar yang berlebihan dengan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan tidur, serta peningkatan insiden perundungan siber. Sebuah penelitian dari Institute of Mental Health (IMH) menemukan bahwa hampir separuh pemuda Singapura berusia antara 15 dan 21 tahun menunjukkan "penggunaan ponsel pintar yang bermasalah," yang dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk. Individu yang terpengaruh memiliki kemungkinan setidaknya tiga kali lebih besar untuk menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan insomnia sedang hingga parah. Data ini menggarisbawahi urgensi MOE untuk menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih sehat di lingkungan sekolah.

Meskipun ada dukungan luas dari orang tua, beberapa menyatakan kekhawatiran tentang komunikasi darurat. Menteri Negara Pendidikan dan Pembangunan Digital Jasmin Lau menjelaskan pada 13 Januari bahwa siswa tidak memerlukan telepon seluler pribadi untuk komunikasi mendesak dengan orang tua mereka; orang tua dapat menghubungi kantor umum sekolah, dan siswa dapat menggunakan telepon sekolah jika diperlukan. Respon dari lapangan bervariasi, namun sebagian besar orang tua menyambut baik langkah-langkah yang lebih ketat, dengan beberapa melihatnya sebagai langkah yang sudah lama tertunda untuk mempromosikan interaksi sosial yang bermakna. Namun, ada pengakuan bahwa beberapa siswa mungkin mencoba mengakali aturan, misalnya dengan membawa "ponsel tiruan" atau mengakses pesan melalui perangkat pembelajaran pribadi. MOE menyediakan pedoman bagi sekolah untuk merumuskan kebijakan disiplin mereka, dengan fokus pada pendekatan edukatif daripada tindakan hukuman, tetapi tantangan terkait beban kerja guru dalam penegakan tetap menjadi pertimbangan.

Secara historis, kekhawatiran tentang penggunaan ponsel di sekolah bukanlah hal baru, dengan negara-negara seperti Prancis, Finlandia, dan Tiongkok telah menerapkan larangan serupa. Pada tahun 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan larangan global terhadap ponsel pintar di sekolah, mengutip potensinya untuk mengganggu pembelajaran dan memengaruhi kesehatan mental. Tindakan Singapura adalah bagian dari tren global yang lebih luas untuk mengatasi dampak teknologi digital yang semakin meluas pada generasi muda. Selain larangan telepon, MOE juga memajukan waktu "tidur" default untuk perangkat pembelajaran pribadi menjadi pukul 22:30, dari sebelumnya pukul 23:00, mulai Januari 2026, untuk mendorong kebiasaan tidur yang lebih baik. Langkah-langkah ini secara kolektif berupaya membentuk lingkungan sekolah yang memprioritaskan pembelajaran siswa, meningkatkan keterlibatan mereka, dan menumbuhkan kebiasaan yang lebih sehat dalam penggunaan layar dan kesejahteraan yang lebih baik secara keseluruhan.