Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Zohran: Wali Kota NY Pecah Batas, Sumpah Al-Qur'an dari Alumni Studi Afrika

2026-01-02 | 01:48 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T18:48:14Z
Ruang Iklan

Zohran: Wali Kota NY Pecah Batas, Sumpah Al-Qur'an dari Alumni Studi Afrika

Pada tanggal 1 Januari 2026, Zohran Kwame Mamdani resmi dilantik sebagai Wali Kota New York City ke-112, menjadi Muslim pertama, Asia Selatan pertama, dan individu kelahiran Afrika pertama yang memegang jabatan tertinggi di metropolis terbesar Amerika Serikat ini. Upacara pelantikan, yang berlangsung secara pribadi di sebuah stasiun kereta bawah tanah bersejarah di bawah Times Square, menampilkan Mamdani bersumpah di atas Al-Qur'an milik kakeknya serta sebuah Al-Qur'an berusia 200 tahun yang dipinjam dari Perpustakaan Umum New York. Momen ini menandai pergeseran demografi dan politik yang signifikan di kota yang terkenal akan keberagamannya.

Kelahiran Mamdani pada tahun 1991 di Kampala, Uganda, dari seorang akademisi terkemuka Mahmood Mamdani dan pembuat film Mira Nair, memberinya perspektif global sejak dini. Ia menghabiskan masa kecilnya di Uganda dan Cape Town, Afrika Selatan, sebelum pindah ke New York City pada usia tujuh tahun. Pengalaman hidup di Afrika pasca-apartheid secara mendalam membentuk kesadaran politik dan moralnya, memberinya pemahaman tentang ketidaksetaraan dan pentingnya keadilan material. Latar belakang akademisnya semakin diperkuat dengan gelar sarjana dalam Studi Afrika dari Bowdoin College pada tahun 2014, yang ia gambarkan sebagai "kompas politik" yang menunjuk pada konfrontasi sistemik.

Sebelum memenangkan pemilihan wali kota yang mengejutkan pada tahun 2025, mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo di pemilihan pendahuluan Demokrat, Mamdani menjabat sebagai anggota Dewan Negara Bagian New York untuk Distrik ke-36 sejak 2021. Ia dikenal sebagai seorang sosialis demokrat dan anggota Democratic Socialists of America. Kampanyenya berpusat pada masalah keterjangkauan, termasuk proposal untuk bus gratis, pembekuan sewa, dan kepemilikan utilitas publik, menarik dukungan luas dari pemilih muda dan komunitas imigran. Mamdani secara terbuka menyatakan identitas Muslimnya, bahkan ketika menghadapi retorika anti-Muslim selama kampanye. Dalam pidato kemenangannya, ia dengan tegas menyatakan, "Saya muda... Saya Muslim. Saya seorang sosialis demokrat. Dan yang paling memberatkan, saya menolak untuk meminta maaf atas semua ini."

Keputusan Mamdani untuk bersumpah di atas Al-Qur'an memiliki resonansi sejarah dan budaya yang mendalam. Selain menggunakan pusaka keluarga, penggunaan Al-Qur'an bersejarah dari koleksi Arturo Schomburg—seorang sejarawan dan penulis kulit hitam terkemuka—menghubungkan pelantikannya dengan sejarah intelektual kulit hitam New York dan kehadiran Muslim yang sering terabaikan di kota tersebut. Hiba Abid, kurator Studi Timur Tengah dan Islam di Perpustakaan Umum New York, mencatat bahwa keputusan ini "menyatukan elemen-elemen iman, identitas, dan sejarah New York." Meskipun tidak ada persyaratan hukum untuk menggunakan teks agama tertentu dalam pengambilan sumpah di Amerika Serikat, pilihan Mamdani mencerminkan tradisi yang lebih luas di mana pejabat terpilih memilih teks yang mencerminkan identitas atau nilai-nilai mereka.

Kemenangan Mamdani menandai lebih dari sekadar perubahan politik; ini mencerminkan pergeseran generasi dan budaya dalam lanskap politik Amerika. Tingkat partisipasi pemilih Muslim dan Asia Selatan dalam pemilihan pendahuluan wali kota dilaporkan meningkat 60% dibandingkan tahun 2021, dengan sekitar 9 dari 10 pemilih Muslim mendukungnya. Para ahli dan pendukung melihat pemilihan ini sebagai tonggak penting bagi representasi dan bukti bahwa retorika anti-Muslim tidak berhasil menghalangi warga New York untuk memilihnya. Ia adalah wali kota termuda dalam beberapa generasi, pada usia 34 tahun. Kenaikannya ke tampuk kekuasaan di New York City, sebagai seorang imigran yang lahir di Afrika, terjadi di tengah periode di mana kebijakan imigrasi nasional di Amerika Serikat semakin membatasi, terutama bagi Muslim dan orang-orang dari negara-negara Afrika. Ini menunjukkan kapasitas New York City untuk merangkul kepemimpinan yang secara historis terpinggirkan dan menegaskan kembali identitasnya sebagai kota yang dibangun dan dipimpin oleh imigran.