
Bencana hidrometeorologi, sebuah fenomena alam yang melibatkan interaksi kompleks antara atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), dan laut (oseanografi), terus menjadi ancaman serius di Sumatera Utara. Bencana ini, yang dipicu oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin, dan kelembapan, dapat mengakibatkan hilangnya nyawa, cedera, kerusakan harta benda, serta dampak sosial dan ekonomi yang luas. Banjir dan tanah longsor menjadi jenis bencana hidrometeorologi yang paling sering melanda wilayah ini.
Pada akhir November 2025, Sumatera Utara kembali dilanda serangkaian bencana hidrometeorologi parah, dengan banjir bandang dan tanah longsor terjadi hampir bersamaan di berbagai kabupaten dan kota. Data per 28 November 2025 menunjukkan sedikitnya 47 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, dan 67 lainnya mengalami luka-luka di 13 kabupaten/kota yang terdampak. Beberapa wilayah yang paling parah terkena dampak antara lain Tapanuli Selatan, Padanglawas, Karo, Deli Serdang, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal.
Dari kacamata sains, rentetan bencana ini dipicu oleh beberapa faktor meteorologis dan geospasial yang saling berinteraksi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi dua sistem cuaca signifikan: Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terpantau di Selat Malaka. Bibit Siklon 95B kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Senyar, sebuah fenomena yang tidak lazim terjadi di dekat garis khatulistiwa. Keberadaan Siklon Tropis Senyar secara drastis meningkatkan suplai uap air di Selat Malaka, memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem serta angin kencang di Sumatera bagian utara. Bersamaan dengan itu, wilayah barat Indonesia juga berada dalam fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, yang menarik lebih banyak uap air dari Samudra Hindia ke atmosfer Indonesia, semakin mengintensifkan curah hujan di luar pola musim normal.
Faktor geografis dan kondisi geospasial Sumatera Utara turut memperparah dampak bencana. Wilayah ini, yang dicirikan oleh pola hujan ekuatorial bimodal dengan dua puncak musim hujan, mengalami musim hujan hampir sepanjang tahun dengan variabilitas presipitasi yang tinggi. Topografi pegunungan curam dan tanah yang labil, khususnya di kawasan Tapanuli, menjadikannya sangat rentan terhadap longsor ketika jenuh air akibat hujan terus-menerus. Degradasi tutupan lahan, seperti penggundulan hutan, tata guna lahan yang tidak teratur, dan sistem drainase perkotaan yang kurang memadai, semakin memperparah risiko banjir di dataran rendah dan dataran banjir. Pemanasan laut global juga diduga berperan dalam memperluas area pertumbuhan siklon hingga mendekati lintang yang biasanya dianggap aman, menunjukkan dampak nyata perubahan iklim global.
Menanggapi situasi ini, peran ilmu pengetahuan dan lembaga terkait sangat krusial. BMKG secara aktif memberikan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang, serta risiko banjir dan longsor di berbagai wilayah seperti Langkat, Medan, dan Deli Serdang. Ahli dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) turut menganalisis fenomena ini sebagai dampak interaksi antara faktor atmosfer, kondisi geospasial, dan kapasitas tampung wilayah.
Dalam upaya mitigasi jangka panjang, sains menawarkan solusi komprehensif. Penguatan sistem peringatan dini yang tidak hanya akurat secara ilmiah tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami masyarakat menjadi prioritas utama. Perbaikan tata ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial sangat penting untuk mengurangi kerentanan. Relokasi permukiman di bantaran sungai dan lereng curam, rehabilitasi serta konservasi daerah aliran sungai, peningkatan infrastruktur drainase, dan reboisasi adalah langkah-langkah konkret yang direkomendasikan. Pendidikan publik dan literasi kebencanaan juga esensial untuk membangun ketahanan masyarakat. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama BMKG telah berkomitmen untuk menekan korban bencana hidrometeorologi hingga nol melalui sistem peringatan dini dan tindakan dini, yang diperkuat dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2025 tentang peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi basah. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi diharapkan dapat mengintegrasikan sains atmosfer, pemodelan geospasial, tata kelola lingkungan, serta komunikasi kebencanaan yang adaptif dan berbasis data.