
Universitas Sanata Dharma (USD) merayakan Dies Natalis ke-70 dengan fokus pada penegasan arah masa depan, di mana Rektor Romo Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., mengajak seluruh sivitas akademika untuk "maju berjalan menuju terang" dalam menghadapi tantangan global dan lokal. Puncak perayaan yang mengusung tema "70th Sanyata Ing Dharma: Menggali Makna dan Membangun Asa" ini berlangsung pada Jumat, 19 Desember 2025, di Auditorium Driyarkara, Kampus II USD, Yogyakarta, dihadiri oleh sejumlah tokoh penting termasuk Ketua Yayasan USD Romo C. Kuntoro Adi, S.J., M.A., Ph.D., serta Kepala LLDIKTI Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D..
Sejak didirikan sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Sanata Dharma pada 17 Desember 1955, yang kemudian bertransformasi menjadi universitas pada tahun 1993, USD secara konsisten menempatkan dirinya sebagai "kampus seribu jendela," sebuah metafora yang merefleksikan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dan dunia luar. Tema "Sanyata Ing Dharma," yang bermakna "kebaktian atau pelayanan yang nyata," menjadi landasan filosofis perjalanan institusi selama tujuh dekade, menekankan dedikasi terhadap tanah air dan gereja (Pro Patria et Ecclesia). Dalam pidatonya, Romo Albertus Bagus Laksana menegaskan kembali komitmen ini, menyatakan, "Saya mengajak kita semua untuk meneguhkan hati, setia melangkah membawa terang ke tengah dunia yang masih dikuasai kegelapan dan menerangi segala kebodohan. Marilah maju berjalan menuju terang". Pernyataan ini tidak sekadar seruan motivasi, melainkan sebuah visi strategis yang menggarisbawahi peran universitas dalam memanusiakan manusia muda dan menghadapi kompleksitas zaman.
Perjalanan tujuh puluh tahun ini, sebagaimana disampaikan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V Setyabudi Indartono, bukan hanya akumulasi waktu kronologis, tetapi merupakan perjalanan ontologis dalam mencari, merawat, dan menghidupi kebenaran, serta merayakan konsistensi institusi dalam menjaga api intelektualitasnya. Identitas USD sebagai satu-satunya universitas Yesuit di Indonesia, bagian dari 175 universitas sejenis di seluruh dunia, menegaskan perannya sebagai penggali kebenaran dengan landasan spiritualitas Ignasian yang khas, berfokus pada cura personalis, dialogis, pluralistik, dan transformatif.
Dalam konteks pendidikan tinggi Katolik di Indonesia, USD juga menghadapi paradigma disrupsi yang dikenal sebagai BANI (Brittle, Anxiety, Non-Linear, dan Illusion of Predictability), yang menggeser konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Fenomena kerapuhan mental di kalangan mahasiswa menjadi salah satu tantangan serius yang memerlukan adaptasi kurikulum dan pendekatan pendampingan yang lebih serius. Kolaborasi antar perguruan tinggi Katolik, termasuk pemanfaatan aset bersama dan penyelenggaraan program dual degree internasional, menjadi strategi penting untuk menjawab tantangan ini dan memajukan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menyambut seruan rektor untuk "maju menuju terang," USD telah menunjukkan berbagai capaian signifikan. Pada Malam Apresiasi Mahasiswa (MAM) 2025 yang digelar pada 17 Desember 2025 sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis, sebanyak 546 mahasiswa menerima penghargaan atas 758 prestasi yang diraih sepanjang tahun 2025. Peningkatan jumlah mahasiswa berprestasi ini mencerminkan keberhasilan proses pendidikan yang berlandaskan nilai memanusiakan manusia. Selain itu, USD juga meraih tiga sertifikat paten sederhana untuk karya dosen Fakultas Vokasi pada awal tahun 2024, serta mahasiswa berhasil menorehkan prestasi di NUNI Student Camp 2025, seperti Nael Fredy Jasiko yang meraih Juara 3 dalam inovasi biochar sebagai energi terbarukan. Institusi ini juga menerima penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2024, menandakan komitmen terhadap inovasi dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Dengan jumlah mahasiswa aktif yang mencapai sekitar 13.100 orang dari berbagai daerah dan negara, USD terus meneguhkan perannya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keadilan sosial, martabat manusia, dan kepedulian lingkungan.