Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dzikir Singkat Setelah Sholat: Rahasia Sunnah Terlupakan Pembuka Pintu Berkah

2025-12-29 | 01:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T18:50:51Z
Ruang Iklan

Dzikir Singkat Setelah Sholat: Rahasia Sunnah Terlupakan Pembuka Pintu Berkah

Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dilaporkan banyak mengabaikan amalan dzikir singkat yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW setelah menunaikan salat fardhu, padahal praktik ini memiliki landasan kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah serta menjanjikan keberkahan besar. Beberapa dzikir pendek yang shahih, seperti istighfar tiga kali, ucapan pujian kepada Allah sebagai sumber keselamatan, dan kombinasi tasbih, tahmid, serta takbir, kini disebut "jarang diamalkan" dalam ibadah sehari-hari, mengindikasikan potensi hilangnya kesempatan spiritual bagi sebagian jemaah. Praktik ini, yang disepakati oleh jumhur ulama sebagai sunnah, bertujuan menyempurnakan ibadah dan memperkuat koneksi seorang hamba dengan Tuhannya.

Praktik dzikir setelah salat fardhu telah dianjurkan oleh Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 103, yang menyerukan umat-Nya untuk berdzikir dalam berbagai posisi. Rasulullah SAW sendiri senantiasa membaca istighfar tiga kali dan melanjutkannya dengan doa "Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam" setelah salam. Dzikir lain yang juga disunnahkan meliputi membaca "Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir" yang diikuti dengan doa tentang kekuasaan Allah, serta rangkaian tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali yang disempurnakan dengan tahlil menjadi 100 hitungan. Selain itu, membaca Ayat Kursi dan tiga surah terakhir (Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas) juga merupakan bagian dari sunnah dzikir pasca-salat yang membawa keutamaan besar, seperti jaminan surga bagi pembaca Ayat Kursi setelah salat wajib.

Fenomena minimnya pengamalan dzikir-dzikir pendek ini disorot oleh Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahtani dalam bukunya "Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Shalat Fardhu (dari Kitab Hisnul Muslim)," yang mencatat beberapa dzikir memiliki keutamaan besar namun sedikit diamalkan. Ketiadaan praktik ini berpotensi menjauhkan individu dari manfaat spiritual yang dijanjikan. Dzikir berfungsi sebagai penenang hati, penghapus dosa, serta perisai dari azab Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra'd: 28, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Ibnu Taimiyah, ulama besar, mengibaratkan dzikir bagi hati seperti air bagi ikan, yang jika terpisah dari air akan mati, menunjukkan betapa esensialnya dzikir untuk kehidupan spiritual.

Menurut Profesor Dr. M. Quraish Shihab, ketaatan berdzikir merupakan bentuk kemurnian ibadah, dan mereka yang enggan membasahi lisannya dengan dzikir termasuk dalam kategori orang-orang yang sombong. Amalan ini tidak hanya menghasilkan pahala, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, menarik rahmat, dan membuat pelakunya dikelilingi oleh para malaikat. Dalam konteks modern, di tengah berbagai disrupsi dan kesibukan, pengamalan dzikir yang konsisten, sekalipun singkat, menjadi relevan untuk menjaga keseimbangan batin. Sebuah studi di SMAN 2 Medan menunjukkan bahwa pembiasaan dzikir secara positif membentuk karakter muslim pada siswa, membuktikan dampak praktisnya dalam kehidupan sehari-hari. Menghidupkan kembali sunnah dzikir pendek ini bukan hanya sekadar mengulang lafaz, melainkan sebuah upaya revitalisasi spiritual yang memperkaya dimensi keimanan dan membentuk individu yang lebih bertaqwa. Konsekuensi jangka panjang dari pengabaian dzikir ini adalah terkikisnya kekayaan spiritual dalam kehidupan Muslim, sehingga urgensi untuk kembali mengamalkan tradisi kenabian ini semakin menguat.