:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457704/original/056649500_1767017131-WhatsApp_Image_2025-12-29_at_19.07.34.jpeg)
Ulama terkemuka, KH Idror Maimoen Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada Senin, 29 Desember 2025, menyalurkan bantuan kemanusiaan serta memimpin istighotsah di Pidie Jaya, Aceh, bagi ribuan korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November. Kehadiran Gus Idror, putra bungsu ulama kharismatik KH Maimoen Zubair, di Pesantren Misbahudzolam dan Pesantren Sirojul Huda Al Aziziyah bertujuan meringankan beban fisik dan batin masyarakat yang terdampak parah oleh bencana hidrometeorologi.
Kunjungan Gus Idror ini berlangsung di tengah kondisi darurat pascabencana yang telah melumpuhkan sebagian besar wilayah Aceh. Banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir November hingga Desember 2025 merupakan salah satu tragedi lingkungan terburuk di Sumatera dalam dua dekade terakhir. Bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem, aktivitas siklon tropis di Selat Malaka, serta degradasi lingkungan parah akibat kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menghilangkan daya serap air tanah secara masif. Data per 4 Desember 2025 mencatat ratusan korban jiwa dan hilang di seluruh Sumatera, dengan lebih dari puluhan ribu warga di Aceh, termasuk 18.260 jiwa di Pidie Jaya, terpaksa mengungsi ke tempat penampungan darurat. Total sekitar 1,5 juta jiwa di Aceh terdampak langsung oleh bencana tersebut.
Dalam kesempatan itu, Gus Idror Maimoen menyerahkan sejumlah bantuan kepada masyarakat di Kabupaten Pidie Jaya. “Kami menyerahkan sejumlah bantuan kepada saudara-saudara kita di Kabupaten Pidie Jaya. Semoga dapat meringankan beban-beban saudara kita di Aceh,” ujar Gus Idror di sela-sela kegiatan tersebut. Selain bantuan material, istighotsah atau doa bersama juga digelar sebagai ikhtiar batin memohon perlindungan kepada Allah serta menenangkan jiwa para penyintas. Gus Idror menekankan pentingnya istighotsah untuk memohon perlindungan dan menenangkan jiwa khususnya bagi para penyintas bencana banjir di Aceh dan Sumatera. Ia didampingi oleh sejumlah tokoh lokal dan regional, termasuk pengasuh pesantren Tgk H Asbahani dan Tgk H Ikhwani, Ketua DPW PPP Aceh sekaligus anggota DPRA H Amirudin Idris, anggota DPRA H Ilmiza Saadudin Djamal, serta mantan anggota DPR RI Arwani Thomafi.
Dampak ekonomi bencana ini sangat signifikan. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu yang paling terpukul, dengan banyak pelaku usaha kehilangan pendapatan dan terhambatnya pemulihan pascabencana. Di Aceh Timur, kerugian di sektor perikanan saja mencapai Rp 93.423.750.000 dengan 190 kapal rusak. Kelangkaan bahan pokok dan kenaikan harga juga mulai terjadi di beberapa daerah yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur dan akses transportasi yang terputus. Mantan anggota DPR RI Arwani Thomafi menyatakan dukungan terhadap upaya Presiden Prabowo Subianto dalam menangani pemulihan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang meliputi pembangunan kembali infrastruktur dan rumah warga, serta penyaluran berbagai bantuan. Sementara itu, Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan tanggap darurat untuk bencana Sumatera senilai Rp100,4 miliar.
Peran ulama dalam penanganan bencana di Aceh, yang dikenal sebagai daerah bersyariat Islam, sangat vital tidak hanya dalam aspek spiritual tetapi juga dalam meningkatkan kesadaran mitigasi dan menggerakkan solidaritas masyarakat. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada tahun 2019 pernah menekankan bahwa ulama dapat menjadi motor penggerak pengetahuan teknis penanggulangan bencana dan menguatkan mental masyarakat. Upaya Gus Idror Maimoen ini mencerminkan peran tersebut, menggabungkan bantuan fisik dengan penguatan spiritual untuk masyarakat yang berduka. Muzakarah Ulama Aceh 2025 bahkan telah merekomendasikan kepada Presiden Prabowo Subianto agar menetapkan bencana banjir dan longsor di Sumatera sebagai Darurat Bencana Nasional untuk mempercepat penanganan dan membuka akses bantuan internasional. Para ulama juga mendorong pemerintah daerah menyusun peta jalan pembangunan pascabencana yang terintegrasi, berorientasi mitigasi, pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi, serta perlindungan lembaga pendidikan dan rumah ibadah. Langkah-langkah ini menjadi krusial mengingat bencana hidrometeorologi, yang diperburuk oleh kerusakan lingkungan, diperkirakan akan terus menjadi ancaman berulang di masa mendatang.