Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IPB-UI-ITB Bongkar Air Jakarta: Tercemar Bakteri Koli Tinja Parah

2025-12-10 | 16:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-10T09:41:42Z
Ruang Iklan

IPB-UI-ITB Bongkar Air Jakarta: Tercemar Bakteri Koli Tinja Parah

IPB University, Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah merilis hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa air di Jakarta, termasuk air sungai, situ/waduk, dan air tanah, tercemar berat dengan keberadaan bakteri koli tinja. Penelitian kolaboratif ini menyoroti kondisi kualitas air yang mengkhawatirkan di ibu kota.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University, bersama Lemtek Universitas Indonesia (UI), dan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta, menyelenggarakan diseminasi hasil pemantauan kualitas air. Wakil Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menyatakan bahwa kualitas air saat ini didominasi oleh keadaan cemar berat. Parameter yang tidak memenuhi standar kualitas air meliputi fenol, total fosfat, total nitrogen, kebutuhan oksigen secara proses biologis (BOD), bakteri koli, dan bakteri koli tinja. Dr. Liyantono, Sekretaris Eksekutif PPLH IPB University, menyebutkan bahwa koliform fekal dan koliform total merupakan parameter yang paling sering tidak memenuhi baku mutu dan perlu segera dikelola.

Keberadaan bakteri koli, khususnya bakteri koli tinja, menjadi perhatian utama. Seharusnya, bakteri ini tidak boleh ada sama sekali dalam air tanah sesuai aturan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Pakar dari Fakultas Teknik Lingkungan dan Sipil ITB, Ir. Rofiq Iqbal, ST, menjelaskan bahwa pencemaran ini sangat tinggi di daerah padat penduduk. Studi oleh UNICEF pada Februari 2022 juga mengungkapkan bahwa hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia tercemar limbah tinja, yang berkontribusi pada penyebaran diare.

Penyebab utama pencemaran ini adalah pengelolaan air limbah domestik yang belum baik, baik itu greywater (air buangan non-tinja) maupun blackwater (air buangan tinja). Perilaku masyarakat yang membuang limbah sembarangan, sistem pengelolaan limbah oleh UMKM dan permukiman yang belum terkelola dengan baik, serta pemasangan septic tank yang tidak diatur dengan benar dan berjarak terlalu dekat dengan sumber air, turut memperparah kondisi. Kebiasaan buang air besar sembarangan juga ditemukan dalam pemantauan kualitas air situ/waduk. Dr. Zaenal Abidin, peneliti IPB University, mencontohkan Waduk Rawa Kepa yang banyak ditemukan saluran greywater dan blackwater langsung masuk ke badan air melalui perpipaan rumah tangga.

Dampak dari pencemaran ini sangat serius, karena dapat meningkatkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. Konsentrasi bakteri E. coli yang tinggi di air Jakarta, terutama di daerah pesisir, menjadikan penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi air dan memastikan air dimasak hingga mendidih sempurna.

Sebagai langkah mitigasi, tim PPLH IPB University merekomendasikan kampanye penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sungai, peningkatan fasilitas pengelolaan cemaran domestik, pengawasan lebih ketat terhadap pelaku usaha/industri, serta perbaikan kualitas air sungai secara terpadu melalui proses fisika, kimia, dan biologis. Dr. Liyantono juga mengusulkan pembagian sungai di DKI Jakarta menjadi enam klaster untuk memprioritaskan pengelolaan berdasarkan tipologi dan tingkat pencemaran. Selain itu, dibutuhkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik komunal untuk rumah tangga. Dr. Eng Allen Kurniawan, dosen IPB University, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta dalam menangani krisis air bersih, termasuk pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT) untuk pemantauan real-time dan nanoteknologi untuk pemurnian air.