:strip_icc()/kly-media-production/medias/5458885/original/088347300_1767101786-WhatsApp_Image_2025-12-30_at_20.15.05.jpeg)
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) secara tegas menyerukan transformasi fundamental dalam pendidikan Islam agar mampu merespons beragam krisis global yang kini melanda dunia. Penegasan ini disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam kegiatan Review and Design on Islamic Education Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2025 pada Selasa, 30 Desember 2025, di Jakarta. Pernyataan tersebut menandai pergeseran fokus yang signifikan, menempatkan pendidikan Islam sebagai garda terdepan dalam mencari solusi etis dan moral untuk tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, hingga krisis etika teknologi dan disinformasi di era digital.
Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa kurikulum adalah penentu arah peradaban, sehingga masa depan umat akan sangat ditentukan oleh desain kurikulum hari ini. Ia mendorong pengembangan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi sebagai fondasi pendidikan Islam di masa depan. Konsep ini menyerukan pergeseran dari formalitas menuju substansi, dari pandangan antroposentris ke kesadaran ekologis, serta dari keberagamaan yang kaku menuju pemahaman yang lebih membebaskan. "Agama tidak boleh menjadi penjara kreativitas. Agama adalah kompas moral yang membimbing manusia agar kreatif, beradab, dan bertanggung jawab," ujar Nasaruddin. Kemenag menargetkan lulusan pendidikan Islam mampu berperan sebagai insinyur AI yang humanis, dokter beretika, hingga pemimpin teknologi yang bertanggung jawab, mendorong penguatan kurikulum Science, Technology, Religion, Engineering, Arts, Mathematics, ditambah Sport (STREAM Plus).
Menko PMK Pratikno menambahkan bahwa dunia saat ini menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang diperparah oleh disinformasi, kecerdasan buatan, dan manipulasi teknologi seperti deep fake. Ia mengingatkan kejayaan Islam klasik lahir dari visi jangka panjang yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai spiritual, menjadikan Islam di persimpangan untuk menjadi solusi moral global atau ditinggalkan karena dianggap tidak relevan. Pratikno menyerukan agar pendidikan Islam, khususnya Universitas Islam Negeri (UIN), tampil sebagai pusat etika teknologi berbasis nilai Islam.
Seruan ini muncul di tengah berbagai tantangan internal pendidikan Islam di Indonesia. Hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 menunjukkan bahwa 58,26 persen guru PAI di tingkat Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia belum fasih membaca Al-Quran, masih berada pada kategori pratama atau dasar. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyebut temuan ini sebagai "alarm kebijakan nasional" yang memerlukan penguatan kompetensi membaca Al-Quran sebagai bagian integral dari rekrutmen, sertifikasi, dan penilaian kinerja guru PAI. Data Kemenag hingga akhir 2025 menunjukkan terdapat 262.971 guru PAI yang melayani 41.883.439 siswa Muslim pada 317.520 sekolah umum di Indonesia, dengan 90,2 persen di antaranya telah bersertifikat pendidik. Meskipun demikian, masih ada 25.880 guru PAI yang menjadi prioritas kebijakan lanjutan melalui program PPG prajabatan dan afirmasi peningkatan kualifikasi.
Secara historis, pendidikan Islam di Indonesia telah memainkan peran krusial dalam membentuk nilai, karakter, dan pola pikir umat. Namun, menghadapi tantangan kontemporer seperti perkembangan teknologi, terkikisnya identitas Islam akibat globalisasi, serta kurikulum yang kurang relevan, institusi pendidikan Islam dituntut untuk beradaptasi. Ahli pendidikan Islam menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai akhlak, etika digital, dan kesadaran spiritual untuk membimbing generasi muda menghadapi krisis moral di era digital.
Implikasi dari penegasan Kemenag ini mencakup restrukturisasi kurikulum secara menyeluruh, pelatihan guru dengan fokus pada kompetensi ekoteologi dan etika digital, serta kolaborasi lintas sektoral. Kemenag telah meluncurkan Peta Jalan Pendidikan Islam 2030-2045 sebagai dokumen strategis yang memuat arah kebijakan, transformasi kurikulum, penguatan kelembagaan, dan pengembangan sumber daya manusia. Pada tahun 2026, Kemenag juga memproyeksikan pengembangan kurikulum berbasis cinta dan penguatan ekoteologi sebagai agenda strategis, dengan modul pelatihan yang telah dirampungkan untuk guru, pendidik, dan kepala madrasah. Inisiatif ini menandakan komitmen serius untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan karakter kuat, selaras dengan kebutuhan peradaban abad ke-21.
Para akademisi juga didorong untuk berkontribusi mencari solusi krisis global, termasuk isu lingkungan dan kecerdasan buatan, sebagaimana diserukan Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin pada AICIS+ 2025. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Islam Indonesia hadir dengan narasi keilmuan yang kaya, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan, mendorong kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu. Upaya ini selaras dengan inisiatif "Green Islam" yang bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, serta mendorong kerja sama antara pemerintah dan lembaga keagamaan. Integrasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan lingkungan juga terbukti efektif mendorong perilaku berkelanjutan.