Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Krisis Matematika SMA-SMK: Mendikti Mendesak Revitalisasi STEM dan Kualitas Guru

2025-12-24 | 20:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T13:33:10Z
Ruang Iklan

Krisis Matematika SMA-SMK: Mendikti Mendesak Revitalisasi STEM dan Kualitas Guru

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan nilai matematika siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jeblok secara nasional, memicu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyerukan penguatan pendidikan Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) serta peningkatan kualitas pendidikan guru. Capaian rata-rata nasional untuk Matematika wajib hanya mencapai 36,10 dari skala 100, sebuah indikasi mengkhawatirkan terhadap literasi numerik pelajar Indonesia.

Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang dirilis baru-baru ini memperlihatkan rerata nilai Matematika Wajib untuk SMA adalah 37,23 dan untuk SMK 34,74. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan mata pelajaran wajib lain seperti Bahasa Indonesia yang mencapai 55,38, dan bahkan lebih rendah dari rata-rata Matematika Lanjut yang berada di angka 39,32. Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa rendahnya nilai ini bukan cerminan ketidakmampuan siswa, melainkan indikasi bahwa metode pengajaran dan buku ajar belum efektif dalam mendorong pemahaman matematika secara kontekstual dan analitis. Soal-soal TKA 2025 dirancang untuk menguji kemampuan analisis, penalaran, dan transformasi masalah kontekstual ke dalam model matematika, sesuatu yang menurut Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, jarang dilatih di sekolah.

Kondisi ini bukan fenomena baru. Kualitas literasi matematika siswa Indonesia secara konsisten berada di bawah rata-rata internasional. Studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat 70 dari 81 negara untuk kemampuan matematika, meskipun peringkat keseluruhan naik lima posisi. Namun, skor aktual matematika Indonesia justru menurun dari 379 pada tahun 2018 menjadi 366 pada tahun 2022, menunjukkan stagnasi kompetensi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Rendahnya skor PISA ini juga disebut menggambarkan efek kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat pandemi COVID-19. Prof. Kiki Aryanti, Guru Besar Ilmu Graf dan Kombinatorika FMIPA UI, menyoroti bahwa di era Society 5.0 yang sangat bergantung pada teknologi informasi, penguasaan matematika menjadi kunci kemajuan.

Untuk mengatasi tantangan ini, Mendikdasmen telah meluncurkan Gerakan STEM Indonesia Cerdas 2025–2027 melalui kolaborasi dengan Riady Foundation. Gerakan ini bertujuan memperkuat fondasi pendidikan STEM sejak usia dini hingga menengah, memberdayakan guru, menyediakan akses sumber belajar digital STEM, dan membangun ekosistem pendidikan STEM nasional. Menteri Abdul Mu'ti menyatakan penguasaan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika adalah kunci untuk mencetak generasi adaptif, inovatif, dan berdaya saing global. Peningkatan kapasitas guru melalui program pelatihan berkelanjutan menjadi fokus utama untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam mengajarkan STEM secara inovatif dan relevan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menilai hasil TKA 2025 ini sebagai "alarm serius" bagi dunia pendidikan dan menyerukan evaluasi total. Ia menekankan bahwa perbaikan harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh, baik dari sisi tenaga pendidik maupun peserta didik, dengan peningkatan kualitas guru dan pendampingan siswa. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bahkan mengkritik bahwa hasil TKA ini mengonfirmasi masalah mendasar kualitas pendidikan nasional yang belum dibenahi serius, dan bukan sekadar angka statistik. Kurikulum, metode pengajaran, kesiapan siswa, dan dukungan terhadap guru perlu dievaluasi secara mendalam. Rendahnya nilai matematika pada TKA juga diproyeksikan akan memengaruhi peta persaingan calon mahasiswa dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Inisiatif pemerintah untuk memperkuat pendidikan STEM dan kompetensi guru menjadi langkah krusial untuk memastikan Indonesia mampu menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan global dan membangun ekonomi digital yang kompetitif.