:strip_icc()/kly-media-production/medias/4270292/original/089440700_1671764205-masjid-pogung-dalangan-DdMZbKFFbaU-unsplash.jpg)
Setiap malam, jutaan Muslim di seluruh dunia menjalankan ritual sunah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW sebelum tidur, sebuah praktik spiritual yang diyakini secara luas dapat menghapus dosa-dosa dan mengukuhkan perlindungan ilahi. Amalan-amalan ini, yang berakar pada hadis sahih, bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam tentang taubat dan penyerahan diri yang mendalam sebelum menghadapi "kematian kecil" dalam tidur. Fenomena ini menunjukkan bagaimana dimensi spiritual Islam terintegrasi erat dengan rutinitas harian umatnya, menawarkan jalan menuju pemurnian jiwa dan ketenangan batin.
Salah satu amalan pokok yang sangat ditekankan adalah menjaga wudu sebelum berbaring. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudu untuk shalat." (HR. Bukhari dan Muslim). Wudu tidak hanya membersihkan secara fisik tetapi juga menyucikan batin, menjadikan tidur sebagai ibadah dan mengundang doa malaikat sepanjang malam bagi individu yang suci. Praktik ini secara historis telah menjadi fondasi bagi kesiapan seorang Muslim untuk menghadapi waktu istirahat, yang dalam perspektif Islam, merupakan sebuah rehat temporer dari kehidupan duniawi.
Melengkapi kesucian fisik, istighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT menjadi inti dari amalan penghapus dosa sebelum tidur. Nabi Muhammad SAW sendiri, meskipun maksum (terjaga dari dosa), rutin memperbanyak istighfar. Lafaz seperti "Astaghfirullahal 'azhim alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaih" (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya) diyakini membersihkan catatan amal harian, menghapus dosa-dosa kecil, dan meringankan hati. Ustaz Ahmad Fauzan, seorang pengasuh pesantren di Bogor, menyatakan, “Doa ini sangat penting dibaca sebelum tidur karena selain mendapatkan pahala, juga menjaga hati tetap bersih dari dosa yang mungkin kita lakukan tanpa sadar.” Pernyataan ini menggarisbawahi fungsi istighfar sebagai alat muhasabah diri, mendorong kesadaran dan kehati-hatian dalam bertindak di hari berikutnya.
Selain itu, pembacaan Ayat Kursi (Surah Al-Baqarah ayat 255) sebelum tidur dijanjikan perlindungan dari Allah dan gangguan setan hingga pagi. Sebuah riwayat Bukhari menyebutkan bahwa setan tidak akan mendekati orang yang membaca ayat ini sampai subuh. Keagungan Ayat Kursi terletak pada kandungannya yang komprehensif tentang tauhid, menjelaskan sifat-sifat sempurna dan kekuasaan mutlak Allah yang meliputi seluruh alam semesta. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ayat Kursi mengandung nama-nama dan sifat-sifat agung Allah yang secara inheren menghalau gangguan setan, bahkan mencegah fenomena yang dikenal sebagai sleep paralysis atau "tindihan".
Amalan lain yang secara konsisten dianjurkan adalah membaca tiga surah perlindungan, yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat. Rasulullah SAW biasa mengumpulkan kedua telapak tangannya, meniupkan sedikit udara ke dalamnya, membaca ketiga surah tersebut, kemudian mengusapkan tangannya ke seluruh tubuhnya yang terjangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya, melakukannya tiga kali. Tindakan ini berfungsi sebagai benteng spiritual, menjaga individu dari segala keburukan dan sihir.
Lebih lanjut, dzikir khusus yang disebutkan dalam hadis Ibnu Hibban menawarkan pengampunan dosa sebanyak buih di lautan. Dzikir tersebut berbunyi: "Laa Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syariikalah Lahul mulku Walahul hamdu Yuhyii Wayumiitu Wahuwa 'Ala Kulli Syaiin Qodiir. Wala Haula Wala Quwwata Illa Billahil 'Aliyyil 'Adzhiim. Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu akbar." Doa penyerahan diri, "Allahumma inni aslamtu nafsi ilaika, wa fawwadhtu amri ilaika, wa wajjahtu wajhi ilaika, wa alja'tu zhahri ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, la malja'a wa la manja minka illa ilaika, amantu bikitabika alladzi anzalta, wa binabiyyika alladzi arsalta," juga memiliki keutamaan luar biasa, yaitu jaminan meninggal dalam keadaan suci dari dosa jika ajal menjemput malam itu.
Amalan-amalan ini tidak hanya berdampak pada individu secara spiritual, tetapi juga secara tidak langsung membentuk masyarakat yang lebih sadar akan pertanggungjawaban moral dan etika. Dengan mengakhiri setiap hari dengan taubat, pengingat akan keesaan Allah, dan permohonan perlindungan, seorang Muslim dilatih untuk senantiasa introspeksi dan memperbaiki diri. Ini merupakan upaya konsisten untuk menumbuhkan kesadaran ilahi (taqwa) dalam setiap aspek kehidupan, sehingga implikasi jangka panjangnya adalah pembentukan karakter yang lebih resilient, bertanggung jawab, dan selalu mencari keridaan Tuhan, bukan hanya di saat terjaga tetapi juga di saat tidak sadar. Ritual malam ini berfungsi sebagai titik rekalibrasi spiritual, memungkinkan individu untuk memulai hari baru dengan hati yang lebih bersih dan niat yang diperbarui.