
Pemerintah Tiongkok secara aktif mendorong penerapan hari libur sekolah tambahan untuk siswa sekolah dasar dan menengah, seperti libur musim semi dan musim gugur, sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan konsumsi domestik. Langkah ini bertujuan untuk merangsang sektor pariwisata dan jasa, yang telah menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan.
Penambahan masa libur ini telah menghasilkan lonjakan aktivitas di sektor pariwisata. Kota-kota seperti Foshan melaporkan peningkatan jumlah wisatawan lebih dari 50% setelah penerapan libur musim gugur selama tiga hari, dengan lebih dari tiga perempatnya adalah keluarga. Data menunjukkan bahwa pemesanan hotel di Zhejiang melonjak 68% dan reservasi penerbangan naik 22% selama libur musim gugur, sementara Sichuan mencatat peningkatan pemesanan hotel sebesar 92% dibandingkan tahun sebelumnya. Kebijakan ini juga diharapkan dapat mendistribusikan permintaan pariwisata secara lebih merata sepanjang tahun, mengurangi kepadatan di musim puncak tradisional (musim panas dan musim dingin), serta menciptakan peluang pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Namun, perpanjangan masa libur sekolah ini menimbulkan tantangan signifikan bagi banyak orang tua di Tiongkok. Kekhawatiran utama muncul karena banyak orang dewasa di Tiongkok hanya memiliki cuti tahunan berbayar yang terbatas, seringkali hanya lima hari untuk mereka yang telah bekerja hingga 10 tahun, sehingga sulit bagi mereka untuk menyelaraskan jadwal kerja dengan libur sekolah anak-anak. Situasi ini dapat menyebabkan anak-anak terpaksa tinggal di rumah sendirian atau orang tua kesulitan mencari penitipan anak, terutama untuk liburan yang lebih pendek dan tidak terkoordinasi.
Beberapa orang tua juga menyuarakan kekhawatiran bahwa perpanjangan liburan ini dapat membuat anak-anak mereka tertinggal secara akademis jika siswa lain memanfaatkan waktu tersebut untuk les tambahan, yang berpotensi memicu munculnya "pasar pendidikan bayangan" dan memperburuk kesenjangan. Meskipun demikian, beberapa kota percontohan seperti Hangzhou dan Lichuan telah mencoba memberikan solusi dengan menyediakan layanan penitipan anak atau bermitra dengan organisasi komunitas untuk menawarkan kegiatan selama libur sekolah.
Pemerintah memandang perubahan kalender sekolah ini sebagai cara yang hemat biaya untuk merangsang konsumsi dan menyeimbangkan kembali ekonomi menuju sektor jasa.