:strip_icc()/kly-media-production/medias/5232681/original/059350000_1748244365-Gemini_Generated_Image_hs2t9hs2t9hs2t9h.jpg)
Hari Jumat, yang dalam Islam dikenal sebagai Sayyidul Ayyam atau pemimpin hari, membawa serta keistimewaan yang meluas hingga malam sebelumnya. Sejak matahari terbenam pada hari Kamis, umat Muslim di seluruh dunia dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah sebagai upaya meraih pahala berlipat ganda, sebuah tradisi yang mengakar kuat dalam ajaran dan sejarah Islam. Keutamaan malam Jumat ini bukan sekadar kepercayaan kultural, melainkan memiliki dasar kuat dalam berbagai riwayat Nabi Muhammad SAW dan pandangan ulama.
Secara historis, hari Jumat sendiri disebutkan sebagai hari di mana Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya, serta hari di mana Kiamat akan terjadi. Konsensus ulama Islam menggarisbawahi bahwa malam Jumat, yang dimulai setelah maghrib pada hari Kamis, merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa dan memohon ampunan. Rasulullah SAW bersabda, "Saat malam dan siang hari Jumat selama dua puluh empat jam dan di setiap jamnya, Allah akan membebaskan 600 ribu orang dari siksa api neraka."
Salah satu amalan yang sangat ditekankan adalah membaca Surah Al-Kahfi. Ustaz Khalid Basalamah, seorang ulama terkemuka, mengingatkan bahwa membaca Surah Al-Kahfi di malam Jumat adalah sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW dan memiliki keutamaan luar biasa. Menurut hadis, siapa pun yang membaca Surah Al-Kahfi pada malam Jumat akan diterangi cahaya antara dirinya dengan Ka'bah. Ulama hadis menafsirkan bahwa cahaya ini berarti Allah SWT akan memudahkan individu tersebut untuk sering mengunjungi Ka'bah, baik melalui umrah atau haji. Hadis lain juga menyebutkan bahwa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat akan mendapat jaminan dari Allah untuk selamat dari fitnah Dajjal. Para Ulama Syafiiyah bahkan menyunahkan untuk memperbanyak bacaan surah ini pada malam dan hari Jumat.
Selain itu, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW juga menjadi amalan kunci pada malam dan hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda, "Perbanyaklah kalian untuk bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barang siapa yang melakukan hal itu, aku akan menjadi saksi baginya dan memberikan syafaat padanya di hari kiamat." Hadis lain menyebutkan bahwa Allah akan bershalawat kepada orang yang bershalawat kepada Nabi SAW sekali, sebanyak sepuluh kali. Ini menunjukkan kedekatan spiritual dan balasan berlipat yang dijanjikan. Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm juga menekankan pentingnya memperbanyak shalawat pada hari Jumat dan malamnya.
Dzikir dan doa adalah amalan lain yang sangat dianjurkan. Malam Jumat dianggap sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa, dengan keyakinan bahwa doa lebih mudah diterima oleh Allah SWT. Imam Syafi'i rahimahullah secara spesifik menyatakan bahwa doa pada malam Jumat dikabulkan oleh Allah SWT. Ini menciptakan kesempatan emas bagi umat Muslim untuk memohon ampunan, rezeki, kesembuhan, dan perlindungan dari segala bentuk kezaliman. Meningkatkan aktivitas ibadah pada malam Jumat ini, seperti shalat sunnah (hajat, taubat, tahajud), dzikir, dan istighfar, adalah praktik umum yang dilakukan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Praktik-praktik ini bukan sekadar ritual tanpa makna, melainkan membentuk fondasi bagi pembentukan karakter Muslim yang lebih taat, sabar, dan bersyukur. Implikasi jangka panjang dari konsistensi menjalankan amalan malam Jumat meliputi peningkatan ketenangan batin, penguatan ikatan dengan Allah, dan harapan akan rahmat serta ampunan-Nya. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi menghidupkan malam Jumat dengan ibadah menjadi pengingat penting akan nilai-nilai spiritual dan keutamaan refleksi diri. Hal ini juga memperkuat kohesi sosial melalui kegiatan keagamaan komunitas seperti pengajian dan tadarus bersama, menjaga semangat spiritual dan memperkuat kebiasaan ibadah rutin di tengah masyarakat.