Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

NU Gelar Beasiswa Pascasarjana Internasional Bermentoring, Prioritas Lulusan Baru!

2025-12-22 | 13:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T06:11:05Z
Ruang Iklan

NU Gelar Beasiswa Pascasarjana Internasional Bermentoring, Prioritas Lulusan Baru!

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, secara resmi meluncurkan program Beasiswa NU Scholarship 2025 pada 17 November 2025, membuka peluang besar bagi lulusan sarjana dan pascasarjana untuk mengejar studi S2 dan S3 di luar negeri dengan fasilitas pendampingan komprehensif. Program ini menjadi salah satu upaya strategis PBNU dalam menjawab tantangan rendahnya partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia, sekaligus memperkuat sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang siap berkontribusi pada skala nasional dan global.

Peluncuran Beasiswa NU Scholarship 2025 menandai kelanjutan komitmen Nahdlatul Ulama dalam pengembangan pendidikan, sebuah peran yang telah diemban sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1926 melalui jaringan pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan tinggi. Program yang dikoordinasikan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM PBNU) ini didesain untuk menciptakan kader-kader unggul NU dengan prioritas pada bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Direktur NU Scholarship, Muhammad Syauqillah, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan ikhtiar PBNU untuk menghadirkan kader-kader bangsa yang siap mengabdi kepada umat dan negara.

Beasiswa Pendampingan S2-S3 ke Luar Negeri dirancang khusus untuk mahasiswa S1 dan S2 yang berkeinginan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Skema pendampingan yang ditawarkan mencakup kursus bahasa Inggris, persiapan tes IELTS, bimbingan dalam menyusun CV, motivation letter, serta pemahaman format aplikasi universitas internasional. Selain itu, peserta juga mendapatkan mentoring dari alumni atau mentor berpengalaman studi internasional, serta forum diskusi dan seminar online mengenai strategi mendapatkan beasiswa luar negeri. Negara tujuan studi dikelompokkan ke dalam zona Amerika-Eropa, Asia, dan Australia-New Zealand, melanjutkan jejak penerima beasiswa sebelumnya yang telah tersebar di kampus-kampus di Australia, China, Rusia, Maroko, Mesir, dan Selandia Baru.

Keputusan PBNU untuk memperluas cakupan dan kuota beasiswa pada tahun 2025 dengan alokasi dana sekitar Rp 6 miliar dari Baznas RI hadir di tengah keprihatinan nasional terhadap rendahnya rasio lulusan S2 dan S3 di Indonesia. Presiden Joko Widodo pada awal tahun 2024 menyuarakan keprihatinan atas jumlah lulusan pascasarjana di Tanah Air yang tidak mencapai 1% dari total populasi produktif, bahkan hanya 0,53% per kapita pada 2024, tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia juga masih di bawah 40%, menempatkannya di urutan keempat di ASEAN setelah Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Deputi II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas RI, Imdadun Rahmat, menekankan bahwa program beasiswa ini menjadi prioritas Baznas dalam menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) karena pendidikan berkualitas memiliki dampak sosial jangka panjang. Imdadun Rahmat juga menegaskan relevansi program ini sebagai upaya globalisasi Islam Nusantara atau Islam Wasathiyah ala NU ke tingkat internasional, "menjadi pintu bagi peran Indonesia, peran Islam Indonesia, dan juga peran NU di tingkat global."

Peningkatan SDM melalui beasiswa luar negeri secara konsisten terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi dan pengetahuan global, mendorong inovasi di berbagai sektor, serta memperkuat diplomasi publik Indonesia di kancah internasional. Dengan program pendampingan yang intensif, NU Scholarship berupaya memastikan kader-kader muda tidak hanya berhasil menembus perguruan tinggi terkemuka dunia, tetapi juga siap kembali dan mengaplikasikan pengetahuan serta pengalaman mereka untuk pembangunan bangsa. Program ini secara fundamental bertujuan mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan kualitas modal insani yang adaptif terhadap perubahan global.