Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

PISA Indonesia Terpuruk: Ancaman Vietnam-Timor Leste pada Kualitas Pendidikan Nasional

2025-12-14 | 20:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-14T13:44:42Z
Ruang Iklan

PISA Indonesia Terpuruk: Ancaman Vietnam-Timor Leste pada Kualitas Pendidikan Nasional

Skor Program for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan angka yang masih rendah, memicu kekhawatiran bahwa kualitas pendidikan di tanah air dapat disalip oleh negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan bahkan Timor Leste. Ir. Moch Abduh, MS Ed, PhD, Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), secara terbuka menyampaikan kekhawatiran ini, menekankan bahwa Indonesia semakin tertinggal dalam tren skor PISA dibandingkan negara-negara lain.

Hasil PISA 2022, yang dirilis pada Desember 2023, menunjukkan penurunan skor Indonesia di ketiga domain utama. Untuk literasi matematika, siswa Indonesia memperoleh 366 poin, turun dari 379 poin pada PISA 2018. Skor literasi membaca juga menurun menjadi 359 poin dari 371 poin sebelumnya. Sementara itu, literasi sains mencatat skor 383 poin, turun dari 396 poin pada tahun 2018. Skor-skor ini merupakan yang terendah bagi Indonesia, relatif serupa dengan capaian pada tahun 2003 dan 2006, yang mengindikasikan penurunan signifikan dalam kualitas pendidikan nasional.

Meskipun terjadi penurunan skor absolut, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mencatat adanya peningkatan peringkat Indonesia sebanyak 5 hingga 6 posisi di ketiga kategori dibandingkan PISA 2018. Peningkatan peringkat ini disebut sebagai bukti ketahanan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi "learning loss" akibat pandemi COVID-19, mengingat penurunan skor Indonesia lebih rendah dibandingkan rata-rata global.

Namun, jika dibandingkan dengan Vietnam, perbedaan skor PISA Indonesia sangat mencolok. Pada PISA 2022, siswa Vietnam mencatatkan skor 469 poin dalam matematika, 462 poin dalam membaca, dan 472 poin dalam sains. Skor-skor ini jauh di atas Indonesia, menempatkan Vietnam pada posisi yang lebih tinggi di peringkat global, yaitu posisi 31 dalam matematika, 34 dalam membaca, dan 37 dalam sains dari 73 negara/wilayah partisipan. Peringkat literasi membaca Vietnam (461.888) juga jauh melampaui Indonesia (358.57).

Kekhawatiran akan tersalip oleh negara-negara seperti Timor Leste muncul dari data bahwa 75% anak usia 15 tahun di Indonesia memiliki kemampuan membaca di bawah standar (di bawah Level 2 PISA), dan 82% memiliki kemampuan matematika di bawah standar. Ini berarti banyak anak-anak dan remaja masih kesulitan memahami gagasan utama dari teks panjang atau mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai faktor diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya skor PISA Indonesia. Metode pengajaran yang ketinggalan zaman, ketidaksetaraan sumber daya pendidikan yang mencolok antarwilayah, dan campur tangan politik dalam pembuatan kebijakan pendidikan menjadi masalah struktural. Kualitas guru yang rendah dan disparitas kualitas pendidikan juga disebut sebagai akar permasalahan. Sistem pendidikan Indonesia masih cenderung menekankan pembelajaran hafalan daripada mendorong pemikiran kritis dan pemahaman mendalam. Selain itu, status sosial-ekonomi juga berperan, di mana 43% siswa Indonesia termasuk dalam kuartil sosial-ekonomi terendah secara internasional.

Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk "Guru Berbagi," "Guru Belajar," "Guru Penggerak," kebijakan supervisi akademik, pemberian kuota internet selama pandemi, dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Upaya juga diarahkan pada perombakan kerangka kurikulum dan peningkatan pelatihan guru, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka yang berpusat pada siswa. Namun, tantangan masih besar, dan refleksi mendalam terhadap sistem pendidikan Indonesia sangat dibutuhkan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.