Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Kemakmuran Indonesia: 'Wanita Listrik' Paparkan Kekuatan Empati Level Tiga

2025-12-12 | 18:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-12T11:46:38Z
Ruang Iklan

Rahasia Kemakmuran Indonesia: 'Wanita Listrik' Paparkan Kekuatan Empati Level Tiga

Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tri Mumpuni Wiyatno, yang dikenal luas sebagai "Wanita Listrik", menyoroti pentingnya peningkatan empati di kalangan generasi muda Indonesia. Menurut Tri Mumpuni, rendahnya empati merupakan salah satu penyebab maraknya kasus perundungan atau bullying yang terjadi di tengah masyarakat. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara "Diseminasi Hasil Riset Tahun 2025" yang digelar di Ballroom Graha Widya BRIN, Jakarta Selatan, pada Jumat (12/12/2025).

Tri Mumpuni, seorang ilmuwan yang dikenal atas kiprahnya menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di berbagai desa terpencil di Indonesia melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), menjelaskan bahwa ada lima level empati yang esensial untuk dimiliki oleh setiap individu, khususnya generasi muda. Kelima level tersebut adalah: simpati dan penghiburan, kebiasaan pro-sosial, kesetaraan dan timbal balik, pemberdayaan yang lemah, serta demokratisasi dari seluruh aspek kehidupan.

Lebih lanjut, Tri Mumpuni memaparkan bahwa sebagian besar manusia, sekitar 85 persen, secara alami sudah memiliki empati pada level pertama dan kedua, yakni mudah merasakan iba dan tersentuh terhadap kesulitan orang lain. Namun, ia menekankan bahwa Indonesia perlu mendorong generasi mudanya untuk mencapai level empati yang lebih tinggi, yaitu level tiga, empat, dan lima.

Secara khusus, Tri Mumpuni menggarisbawahi bahwa pencapaian empati di level ketiga, yaitu kesetaraan dan timbal balik, memiliki dampak signifikan terhadap kemakmuran bangsa. Ia meyakini bahwa jika empati level ketiga ini terwujud secara luas di masyarakat, maka tindakan korupsi dan manipulasi akan berkurang drastis. "Punya level empati ketiga saja, Indonesia makmur," tegasnya.

Mengenai level empati yang lebih tinggi, level keempat, yang berfokus pada pemberdayaan yang lemah, Tri Mumpuni menjelaskan bahwa ini bukan hanya tentang bersimpati, tetapi juga bertindak nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan. Contohnya adalah memperbaiki sistem pendidikan di daerah terpencil dengan membangun sekolah dan mendatangkan tenaga pengajar. Sementara itu, empati level kelima, demokratisasi dari seluruh aspek kehidupan, berarti memastikan bahwa semua sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir kelompok tertentu.