Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sa'i Shafa Marwah: Doa Tepat Agar Ibadah Sah dan Mabrur

2025-12-28 | 06:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T23:42:37Z
Ruang Iklan

Sa'i Shafa Marwah: Doa Tepat Agar Ibadah Sah dan Mabrur

Tuntutan syariat Islam menegaskan bahwa rangkaian ibadah Sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah merupakan rukun esensial dalam pelaksanaan haji dan umrah. Namun, masih banyak jemaah yang keliru dalam mengamalkan doa serta tata cara yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, berisiko mengurangi kemabruran ibadah yang diidamkan. Pemahaman yang akurat mengenai rukun ini, didasari oleh teladan Rasulullah dan pandangan ulama mayoritas, menjadi krusial untuk memastikan keabsahan dan keberkahan perjalanan suci ke Baitullah.

Secara historis, Sa'i merefleksikan perjuangan heroik Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, yang berlari bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, di tengah gurun tandus Makkah. Kisah ini berakhir dengan mukjizat air Zamzam yang memancar, sebuah simbol ketabahan dan keyakinan teguh pada pertolongan ilahi. Peristiwa inilah yang diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 158, "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah," menjadikan Sa'i sebagai rukun ibadah haji dan umrah. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali secara konsisten menetapkan Sa'i sebagai rukun yang menentukan sah atau tidaknya haji dan umrah. Jika ditinggalkan, ibadah tersebut tidak dapat diganti dengan denda (dam) dan dianggap tidak sah.

Pelaksanaan doa dan zikir selama Sa'i memiliki tuntunan yang jelas. Saat memulai Sa'i di Bukit Shafa, jemaah disunnahkan membaca ayat Al-Qur'an, "Innas-safa wal-marwata min sya'a'irillah" (QS. Al-Baqarah: 158), kemudian diikuti dengan ucapan, "Abda'u bimaa bada'allahu bihi wa rasuluh" atau "Nabda'u bimaa bada'allahu bihi". Setelah itu, jemaah menghadap Ka'bah, mengangkat kedua tangan, dan mengulang takbir "Allahu akbar" tiga kali, disusul dengan dzikir tauhid panjang, "Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiitu, wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir. Laa ilaaha illallahu wahdahu, anjaza wa'dahu, wa nashara 'abdahu, wa hazamal ahzaaba wahdahu," yang diulang sebanyak tiga kali sambil diselingi doa pribadi. Dzikir dan doa serupa dianjurkan untuk dibaca setiap kali tiba di Bukit Marwah. Selama berjalan antara Shafa dan Marwah, tidak ada doa khusus yang diwajibkan, namun sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, tasbih, tahmid, takbir, istighfar, dan memanjatkan doa-doa pribadi sesuai hajat. Doa penutup setelah menyelesaikan putaran ketujuh di Marwah juga dianjurkan, seperti "Allahumma inni as-aluka min fadhlika wa rahmatika fa innahu laa yamlikuha illa anta" dan "Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'aliim wa tub 'alaina innaka antat tawwabur rahiim".

Kekhusyukan dalam berdoa merupakan inti ibadah yang sering terabaikan. Doa yang khusyuk, menurut para ulama, adalah jembatan yang mendekatkan hati kepada Allah, menumbuhkan rasa tunduk, rendah hati, dan tawakal. Sayangnya, kesalahan umum seperti terlalu fokus membaca buku doa Arab hingga kehilangan khusyuk telah banyak terjadi. Selain itu, beberapa kesalahan lain yang kerap dilakukan jemaah meliputi salah menghitung putaran Sa'i (mengira satu bolak-balik adalah satu putaran, padahal satu arah dihitung satu putaran), memulai Sa'i dari Marwah (padahal wajib dari Shafa), tidak menyempurnakan lintasan hingga lereng bukit, dan bagi wanita, ikut berlari kecil (herwalah) di antara dua pilar hijau, padahal sunnah ini hanya berlaku untuk laki-laki.

Implikasi dari pelaksanaan doa Sa'i yang sesuai tuntunan dan penuh kekhusyukan adalah tercapainya haji atau umrah yang mabrur. Haji mabrur tidak hanya ditandai oleh kesempurnaan ritual fisik, tetapi juga oleh perubahan perilaku dan spiritual yang signifikan setelah kembali dari Tanah Suci. Seorang Muslim yang hajinya mabrur akan menunjukkan ciri-ciri seperti lisan yang lebih terjaga, gemar mempererat silaturahim dan menuntut ilmu agama, senang shalat berjamaah dan bersedekah, hati yang khusyuk, ikhlas dalam menerima keadaan, serta meninggalkan dosa-dosa sebelumnya. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan doa Sa'i dengan benar bukan hanya sekadar memenuhi rukun, melainkan upaya mendalam untuk mencapai transformasi spiritual yang menjadi hakikat kemabruran ibadah tersebut. Adanya bimbingan manasik haji dari Kementerian Agama dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) diharapkan dapat mengatasi permasalahan pemahaman calon jemaah terhadap tata cara ibadah haji dan umrah.