
Buku alamat pribadi Charles Darwin, sebuah artefak berusia berabad-abad yang memberikan wawasan baru tentang kehidupan dan jejaring kerja ilmuwan terkemuka tersebut, kini telah didigitalkan dan diterbitkan secara daring oleh proyek Darwin Online di National University of Singapore (NUS) pada November 2025. Buku saku berbahan kulit kecil ini, yang berisi sekitar 500 entri dalam 48 halaman, awalnya mulai digunakan oleh istrinya, Emma Darwin, tak lama setelah pernikahan mereka pada Januari 1839. Darwin kemudian mengambil alih dan terus menggunakannya sepanjang hidupnya.
Meskipun sering disebut sebagai "buku alamat rahasia," catatan-catatan pribadi Darwin ini lebih tepat digambarkan sebagai buku yang sangat personal. Sejarawan ilmu pengetahuan Dr. John van Wyhe dari NUS menyatakan bahwa "sungguh luar biasa bahwa harta karun detail-detail dari Darwin ini belum pernah diterbitkan hingga sekarang," dan menawarkan "wawasan baru yang menarik tentang kehidupannya dan cara dia bekerja." Buku ini berisi lebih dari sekadar nama dan alamat; terdapat pula resep racun tikus, cara membersihkan kerangka hewan, hingga pesanan gambut untuk tanaman eksperimental di rumah kacanya. Yang paling menarik adalah banyaknya individu, bisnis, dan item yang sebelumnya tidak diketahui dalam literatur luas tentang Darwin, bahkan setelah proyek korespondensi Darwin selama 50 tahun menghasilkan 30 volume materi yang diedit.
Ketika berbicara tentang "Indonesia di dalamnya," buku alamat ini kemungkinan besar tidak secara eksplisit mencantumkan "Indonesia" sebagai sebuah entri, melainkan melalui jejaring korespondensi luas Darwin dengan para naturalis dan kolektor di seluruh dunia. Jejaring ini sangat penting bagi pekerjaan ilmiahnya, memungkinkan dia mengumpulkan data dan mendiskusikan gagasan. Salah satu koneksi paling signifikan yang melibatkan wilayah yang kini menjadi Indonesia adalah melalui naturalis Inggris Alfred Russel Wallace. Wallace secara independen mengembangkan teori seleksi alam saat melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Melayu, sebuah wilayah yang sebagian besar merupakan Indonesia modern.
Pada tahun 1858, Wallace mengirimkan esai yang menguraikan teorinya kepada Darwin dari Ternate, sebuah pulau di Indonesia, yang kemudian mendorong Darwin untuk segera menerbitkan karyanya yang monumental, On the Origin of Species. Selama perjalanannya di wilayah tersebut, Wallace mengumpulkan lebih dari 125.000 spesimen sejarah alam, termasuk orangutan, burung cendrawasih, dan ribuan spesies kumbang. Oleh karena itu, melalui korespondensinya dengan Wallace dan mungkin kontak lain yang menyediakan spesimen atau observasi dari wilayah Kepulauan Melayu, pengaruh dan informasi dari Indonesia secara tidak langsung "ada di dalamnya" dalam konteks catatan dan penelitian Darwin. Buku alamat yang baru didigitalkan ini, dengan entri-entri yang sebelumnya tidak terdokumentasi, dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai jejaring global yang mendukung pengembangan teori evolusinya.