
Ornitolog internasional telah mengkonfirmasi keberadaan spesies baru burung pengicau di Pegunungan Southern Fold, Papua Nugini, yang diidentifikasi secara eksklusif melalui rekaman kamera jebak setelah bertahun-tahun pemantauan rahasia. Spesies yang dinamai Hooded Jewel-babbler (Ptilorrhoa urrissia) ini, merupakan tambahan penting bagi keanekaragaman hayati New Guinea yang masih banyak belum terjamah, dengan publikasi resmi penemuannya di jurnal Ibis pada 26 November 2025.
Penemuan signifikan ini berawal dari studi kamera jebak jangka panjang yang dimulai pada tahun 2017 di Iagifu Ridge, Provinsi Southern Highlands. Selama lebih dari 1.800 hari kamera, para peneliti berhasil mengumpulkan 94 foto dan tujuh video burung tersebut, yang membuktikan perbedaan spesies ini dari bentuk Ptilorrhoa yang sudah dikenal. Meskipun telah dilakukan pencarian intensif, upaya untuk menangkap burung tersebut secara fisik baru berhasil pada tahun 2024. Jewel-babbler dikenal sebagai kelompok burung passerine pemakan serangga yang hidup di tanah, endemik di New Guinea, bersifat pemalu, dan lebih sering terdengar suaranya daripada terlihat secara langsung di interior hutan. Analisis mendalam terhadap gambar-gambar tersebut, termasuk perbandingan dengan lebih dari 700 spesimen museum, mengkonfirmasi bahwa tidak ada spesies yang dijelaskan sebelumnya cocok dengan bentuk yang terekam, memungkinkan para peneliti untuk secara resmi menamai spesies baru ini tanpa spesimen yang dikumpulkan pada awalnya.
Penemuan Hooded Jewel-babbler menggarisbawahi peran penting teknologi kamera jebak dalam mengungkap spesies rahasia di lanskap yang sulit dijangkau. Metode ini telah merevolusi kemampuan para ilmuwan untuk mempelajari satwa liar yang sulit diamati. Papua Nugini merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terkaya di dunia, menampung sekitar 7% dari total keanekaragaman hayati global di lahan kurang dari 1% daratan dunia. Negara ini diperkirakan memiliki 740 spesies burung, dengan 77 di antaranya endemik, dan banyak spesies tumbuhan serta hewan lainnya yang masih belum teridentifikasi. Kehadiran Hooded Jewel-babbler, yang tampaknya merupakan penghuni tetap Iagifu Ridge dengan penampakan yang konsisten selama tujuh tahun, menegaskan status wilayah tersebut sebagai benteng penting bagi spesies unik.
Namun, masa depan Hooded Jewel-babbler sangat tidak pasti. Populasinya diperkirakan sangat kecil, kemungkinan kurang dari sepuluh individu, menjadikannya sangat rentan terhadap berbagai ancaman. Predator asli seperti quoll dan daksiyur, serta predator asing seperti kucing dan anjing domestik, menimbulkan risiko yang signifikan. Lebih jauh lagi, perubahan iklim menjadi ancaman yang membayangi, berpotensi memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap spesies di dataran rendah dengan kemampuan penyebaran yang terbatas.
Secara lebih luas, keanekaragaman hayati Papua Nugini menghadapi tekanan parah dari deforestasi, penebangan liar, ekspansi pertanian komersial, pertambangan, dan perubahan penggunaan lahan. Diperkirakan 1,4% hutan di Papua Nugini hilang setiap tahun, dengan sebagian besar hutan yang dapat diakses secara komersial diperkirakan akan terdegradasi pada tahun 2021. Praktik penebangan yang tidak berkelanjutan dan korupsi sistemik juga mempercepat hilangnya habitat. Penemuan seperti Hooded Jewel-babbler bukan hanya menambah katalog ilmiah, melainkan juga menyoroti urgensi konservasi di wilayah yang keanekaragaman hayatinya terus-menerus terancam. Perlindungan habitat unik di Papua Nugini sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies yang baru ditemukan ini dan ribuan spesies lainnya yang masih menunggu untuk dijelajahi dan dilindungi.